
Oleh: Isa Gautama
BOLEH saja orang mencibir tetang mantan Presiden Soeharto yang menjadi pahlawan nasional. Tampaknya orang-orang itu merupakan barisan sakit hati yang pada era kekuasaannya selama 32 tahun tidak mendapatkan manfaat atau menjadi orang tertekan. Namun bagi sebagian rakyat Indonesia pasti mengacungkan jempol kepada Pak Harto sang jenderal besar. Apalagi para lansia yang mengalami zaman kemasan era orde baru (Orba).
Mungkin masyarakat masih ingat dengan slogan-slogan yang muncul beberapa tahun terakhir. “Piye kabare, penak jaman ku to?” Slogan berupa stiker banyak ditempel di belakang mobil pribadi maupun angkutan umum. Tidak itu saja, gambar kreasi tersebut juga tampak di ‘pantat’ truk-truk yang dilukis dengan wajah Suharto tersenyum sambil mengangkat tangan kanannya. Itu menandakan masyarakat umumnya merindukan kepemimpinan Soeharto yang aman dan tentram, meski sebagian orang mengatakan jenderal besar itu berkuasa dengan tangan besi.
Terlepas dari buruknya kepemimpinan Soeharto ini, namun tampaknya tidak dirasakan mayoritas rakyatnya yang kala ini hanya berjumlah 150 juta jiwa. Pasalnya rakyat diberi sandang pangan cukup, harga kebutuhan pokok murah dan terjangkau. Pendek kata rakyat yang hidup sederhana tenteram dan nyaman, meski sebaliknya para penyelenggara negara hidup mewah dan berkecukupan. Soeharto rupanya sangat jeli memanjakan rakyatnya. Hanya orang-orang yang tidak mendapat kue pembangunan dan menjadi lawan politik Soeharto yang tidak mau mengakui keberhasilan presiden ke 2 itu.
Di mata masyarakat umumnya Soeharto terlihat sebagai pemimpin yang baik dan ramah. Makanya di kalangan pemimpin dunia Presiden Soeharto dikenal dengan sebutan The Smiling General atau jenderal yang selalu tersenyum. Dalam kesempatan bertemu dengan rakyat sampai kepala negara lain, Soeharto selalu memberikan senyum yang khas. Begitu juga dalam memberi petunjuk atau perintah kepada menteri-menterinya dibarengi senyum. Tapi penerapan perintah itu dilaksanakan dengan tegas oleh para pembantunya ke bawah. Itulah sesungguhnya yang terjadi.
Kontribusi Soeharto dalam membangun fondasi ekonomi, infrastruktur, serta menjaga stabilitas nasional memang sangat dirasakan masyarakat di zamannya. Ia berhasil membawa Indonesia keluar dari masa sulit menuju era pembangunan yang lebih terarah. Pak Harto merupakan sosok yang mengajarkan bagaimana membangun bangsa dengan kesabaran, keteguhan, dan keberpihakan kepada rakyat. Tidak itu saja ia telah memperkuat ideologi Pancasila yang menjadi penuntun arah bangsa hingga kini.
Banyak kebijakan Soeharto yang masih menjadi dasar penyelenggaraan pembangunan nasional, seperti swasembada pangan, pembangunan daerah, dan penguatan ketahanan nasional. Jadi tidak heran jika Indonesia mendapat julukan Macan Asia, karena pertumbuhan ekonominya bisa mencapai 7 persen, bahkan sampai ke angka 8. Bayangkan saja, jauh di atas pemerintahan setelahnya yang paling banter hanya mencapai 5 persen saja.
Soeharto yang dikenal sebagai Bapak Pembangunan berhasil membangun Indonesia di segala bidang dengan keseimbangan anggaran maupun prioritas sektor yang terjaga dengan baik. Pembina Golkar itu juga berhasil membangun sektor pertanian dan pangan. Karena itu FAO memberikan penghargaan kepada Pak Harto, dari importir beras terbesar menjadi swasembada. Bahkan hal itu juga terjadi di komoditas nonberas, sehingga dikenal istilah sembako. Masalah harga cabai dan kol pun tiap hari dipantau agar rakyat tidak kekurangan pangan. Pencetakan sawah, irigasi, bendungan, dan waduk dibangun di mana-mana. Pupuk disubsidi, bibit dijamin, alat mesin pertanian (alsintan) pun dibagikan. Pabrik pupuk didirikan yang hingga kini masih dinikmati para petani.
Soeharto juga berhasil memberantas buta huruf dan membangun sektor pendidikan. Juga berhasil melaksanakan program transmigrasi dengan sangat baik. Kemudian berhasil membangun kesehatan, yaitu dengan mendirikan Puskesmas di tiap kecamatan, Puskesmas Pembantu di wilayah RW dan Posyandu di tiap RT. Selain itu presiden berhasil mengendalikan jumlah penduduk melalui program Keluarga Berencana dan slogan Dua Anak Cukup. Masih banyak keberhasilan yang lain jika disebutkan mungkin tidak cukup waktu untuk menulisnya.
Memang ada kebaikannya dan ada juga keburukannya. Di era Soeharto diakui korupsi merajalela dilakukan oleh penyelenggara negara dan kroni-kroninya, termasuk keluarga sang presiden. Namun ternyata, di era pemerintahan setelahnya malah lebih buruk dari zaman Soeharto. Korupsi terjadi dimana-mana masuk ke sendi-sendi yang paling dalam, meski sudah ada KPK sekalipun. Jika mau jujur, hampir di segala lini terjadi korupsi di daerah. Cuma sayangnya yang lagi apes saja terjaring OTT KPK.
Sementara Kejaksaan Agung berhasil mengungkap kasus besar Pertamina, Eskpor Palm Oil dan Tambang Timah. Presiden pun terperangah melihat begitu banyaknya duit dan aset hasil korupsi yang disita. Puluhan, bahkan sampai ratusan triliun. Saking banyaknya uang yang dikorup itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berseloroh bisa bayar utang negara. Belum lagi perkara korupsi yang ditangani Polri juga cukup besar.
Jadi tidak heran slogan-slogan rindu jaman Soeharto sempat beredar di berbagai famlet. Ini merupakan kekecewaan rakyat terhadap pemerintah yang dirasakan makin sulit menyambung hidup di era milenial ini. Bahan pokok seperti beras, telur, minyak goreng terus naik, tanpa bisa dikendalikan. Padahal, kata Menteri Pertanian pihaknya sudah swasembada beras. Produksi gabah dan beras melimpah. Tapi nyatanya harga beras masih tinggi. “Piye kabare, penak jaman ku to?”
Penulis adalah Wartawan Senior Progresif Jaya



