HUKUM & KRIMINAL

Korlantas Polri Libatkan Ojol sebagai Kamseltibcarlantas, Masyarakat: Justru Ojol Banyak Langgar Aturan Berlalu Llintas di Jalan Raya

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Korlantas Polri menggagas langkah inovatif dengan melibatkan komunitas ojek online (ojol) sebagai mitra strategis dalam menjaga keamanan dan ketertiban lalu lintas. Inisiatif pembentukan Duta Komunitas Ojol sebagai pelopor keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (Kamseltibcarlantas) ini merupakan penjabaran langsung dari perintah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo tentang pentingnya pendekatan kolaboratif dan partisipasi masyarakat dalam mewujudkan keselamatan di jalan raya.

Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho menegaskan bahwa pengemudi ojol adalah ‘raja jalanan’ yang beraktivitas hampir 24 jam. Mereka memahami secara riil dinamika lalu lintas, mulai dari kepadatan hingga titik-titik rawan kecelakaan.

“Pengemudi ojek online adalah pihak yang paling sering berada di jalan. Mereka tahu betul kondisi lalu lintas di lapangan. Karena itu, kami menggandeng komunitas ojol sebagai mitra strategis untuk bersama-sama mencari solusi dan membangun budaya tertib berlalu lintas,” kata Irjen Agus dalam keterangannya dilansir detik.com, Senin (15/12).

Tapi, apakah benar ‘raja jalanan’ itu, bisa tertib berlalu lintas dengan sepeda motornya? Pemandangan sehari-hari di jalan raya justru sebaliknya, pengemudi ojol lah yang paling banyak melanggar aturan lalu lintas. Mereka seenaknya menggunakan jalan umum seperti punya nenek moyangnya. Main serobot, melintas lawan arah, putar balik tidak ikuti aturan, masuk ke jalur jalan bus way dan setumpuk pelanggaran lalu lintas lainnya yang seolah dilegalkan bagi mereka.

Masyarakat sudah paham dengan ulah ‘raja jalanan’ ini, tidak bisa dilawan, padahal mereka yang bersalah menyerempet kendaraan lain misalnya atau membuat pengemudi mobil emosi atas ulah pengemudi ojol yang serampangan dalam mengemudikan sepeda motornya. “Jika menegur atau melawan bahkan dia yang lebih galak dan buntutnya kita bisa dikeroyok oleh komunitas ojol yang banyak di jalan. Mending diem ajalah,” ujar beberapa pemakai jalan menanggapi pembentukan Duta Komunitas Ojol sebagai pelopor Kamseltibcarlantas.

Memang tidak semua pengemudi ojol yang tergabung dalam suatu komunitas yang seperti itu. Namun masyarakat  mengakui bahwa ojol itu ‘raja jalanan’ seperti yang dikatakan Kakorlantas, cuma dalam pandangan pengguna jalan, konotasinya negatif. Para pengemudi ojol yang umumnya berjaket hijau dan sebagian kecil kuning banyak berprilaku seenaknya dalam mengemudikan kendaraannya. Mereka kadang tidak memahami kaidah kaidah berlalu lintas, melanggar aturan rambu-rambu yang dipasang Dinas Perhubungan. Polisi lalu lintas (Polantas) pun sepertinya tutup mata melihat pemandangan yang tidak lazim. Namun jika yang melanggar kendaraan pribadi sempritan pasti nyaring terdengar dan menindak pengendaranya.

Namun Kakorlantas berpendapat lain, gagasan Duta Komunitas Ojol ini lahir sebagai implementasi konkret arahan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang menekankan bahwa keselamatan lalu lintas tidak cukup hanya dengan penegakan hukum, tetapi harus diperkuat melalui edukasi, keteladanan, dan keterlibatan aktif masyarakat, terutama ojol ini. “Ini menjabarkan perintah Kapolri agar Polri hadir secara humanis, mengajak masyarakat menjadi bagian dari solusi. Keselamatan lalu lintas adalah tanggung jawab bersama,” ujar Irjen Agus.

Duta Komunitas Ojol merupakan pengemudi ojol yang ditunjuk atau menjadi sukarelawan untuk mewakili komunitasnya dan masyarakat luas dalam isu lalu lintas. Peran mereka meliputi menjadi pelopor keselamatan dengan memberi teladan mematuhi aturan berlalu lintas, melakukan edukasi dan sosialisasi, serta menjadi mitra strategis Polri dalam mengidentifikasi potensi gangguan kamtibmas dan pelanggaran lalu lintas. “Melalui sinergi Korlantas Polri dan komunitas ojol ini, diharapkan terbangun budaya tertib berlalu lintas secara kolektif, sekaligus meningkatkan keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di seluruh Indonesia” kata Kakorlantas Irjen Agus.

Editor: Isa Gautama

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *