BERITA UTAMA PENDIDIKAN

Kisah Pilu Sulitnya Hidup sebagai Guru Honorer

Guru honorer SDN Wanasari 01, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Intan Permatasari, menceritakan kisah pilunya sebagai guru honorer dalam tayangan di YouTube TVR Parlemen, Rabu, 4 Februari 2026.

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Guru honorer SDN Wanasari 01, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Intan Permatasari, menceritakan kisah pilunya sebagai honorer dalam audiensi di Badan Legislasi Nasional DPR RI. Ia mengungkap betapa sulitnya hidup sebagai guru honorer.

Ia merupakan salah satu guru yang terkendala pendataan di Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Sehingga, kariernya sebagai guru tak berkembang.

“Padahal saya sudah memenuhi masa kerja. Tapi sulitnya untuk masuk ke data pendidikan atau Dapodik itu sulitnya luar biasa,” kata Intan dalam Audiensi di Baleg DPR RI dalam tayangan di YouTube TVR Parlemen, Rabu, 4 Februari 2026.

Dia menyebut meski sudah memenuhi syarat, akses informasi kepada para guru honorer sangat sulit. Sehingga, banyak guru honorer akhirnya terpinggirkan dan tidak terdata dengan baik.

Intan mencontohkan saat ada rekrutmen guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), namanya tidak masuk dalam Dapodik. Akhirnya, tertinggal dan tidak mendapatkan kesempatan.

“Terbayang banyak akan dirumahkan (karena tidak memiliki status yang jelas),” tutur dia.

Nahas, untuk bertahan hidup Intan tak bisa menggantungkan diri pada profesi guru.. Ia harus mencari uang tambahan dengan menjadi pengantar jemput jasa cucian atau laundry.

“Pulang mengajar jadi antar jemput laundry, Pak,” cerita Intan sambil menyeka air matanya.

Ia berharap guru honorer lebih diperhatikan. Setidaknya, bisa masuk Dapodik sehingga bisa ikut ujian seleksi PPPK.

“Harapan saya dan teman-teman seperti tenaga pendidik dan guru yang lain itu bisa ikut PPPK penuh waktu, itu aja,” harap Intan.

Untuk diketahui, besaran gaji guru honorer masih jauh dari kata layak. Minimnya gaji guru honorer tidak mencerminkan keadilan atas peran strategis guru sebagai pengampu utama pendidikan dan pencetak generasi bangsa.

Realitas di lapangan menunjukkan masih banyak guru honorer yang menerima gaji jauh di bawah standar kebutuhan hidup layak. Bahkan, tidak sedikit guru honorer yang hanya menerima upah sekitar Rp250 ribu hingga di bawah Rp500 ribu per bulan, dengan sistem pembayaran yang tidak menentu dan kerap dibayarkan setiap tiga hingga enam bulan. (Red)

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *