
Center Boston Celtics, William Felton Russell alis Bill Russell lahir.
progresifjaya.co.id, JAKARTA – Center Boston Celtics, William Felton Russell alis Bill Russell lahir pada 12 Februari 1934 di Monroe, Louisiana. Pria setinggi 2,08 m ini adalah tulang punggung dinasti Boston Celtics era 1960-an yang mengantongi 11 gelar juara NBA. Dengan memakai jersey nomor punggung jersey 6, Bill Russell sangat dikenal dengan performanya yang luar biasa dalam memblokir tembakan dan merevolusi konsep pertahanan NBA.
Dalam 963 pertandingan selama 13 musim bermain di NBA, Bill Russell mencatatkan rata-rata 22,5 rebound per pertandingan dan 21,620 rebound sepanjang kariernya selama 13 musim dari 1956 hingga 1969 dengan Boston Celtics. Lebih spesifik lagi, dia pernah mencetak 51 rebound dalam satu pertandingan, 49 rebound dalam dua pertandingan lainnya, dan lebih dari 1.000 rebound selama dua belas musim berturut-turut. Tokcer, kan defencenya.
Cerita tentang Bill Russell ini penulis mulai dari masa SMA McClymonds High School di Oakland. Saat itu, Bill Russell muda masih jadi pemain tengah yang canggung dan biasa-biasa saja di tim bola basket McClymonds. Hanya saja karena postur tubuhnya besar, dia pun dapat hoki beasiswa untuk bermain di Universitas San Francisco, yang jadi tempatnya dia berkembang pesat.
Dia berkolaborasi dengan guard KC Jones untuk memimpin tim Dons Universitas San Francisco meraih 56 kemenangan beruntun dan kejuaraan NCAA pada tahun 1955 dan 1956 (meskipun KC Jones absen dalam empat pertandingan turnamen 1956 karena masa kelayakannya telah berakhir). Sedangkan pada tahun 1955, Bill Russell dapat penghargaan dengan dinobatkan sebagai Pemain Paling Berprestasi Turnamen NCAA.
Bill Russell mencetak rata-rata 20,7 poin dan 20,3 rebound selama tiga tahun kariernya bersama tim universitas. Pada musim seniornya, dia sudah berkembang dan menjelma jadi kekuatan dominan yang mampu mengendalikan permainan di sisi pertahanan.
Saat waktu NBA Draft 1956 sudah semakin dekat, Pelatih dan Manajer Umum Boston Celtics, Red Auerbach, menunjukkan rasa keinginannya yang kuat untuk menambahkan Bill Russell ke dalam susunan pemainnya. Auerbach sudah membangun mesin ofensif dengan skor tinggi di sekitar guard Bob Cousy dan Bill Sharman dam center bertubuh kecil, Ed Macauley. Namun dia belum mampu mengumpulkan pertahanan dan rebound yang dibutuhkan untuk mengubah Boston Celtics menjadi klub kaliber juara. Auerbach merasa Bill Russell adalah kepingan yang hilang dari teka-teki tersebut.
Namun, karena finis di posisi kedua tahun sebelumnya, Boston Celtics jadi bakal mendapatkan Bill Russell di urutan yang terlalu terlambat dalam draft. Dan karena Auerbach ingin menggunakan pilihan teritorial untuk merebut bintang Holy Cross, Tom Heinsohn, Boston Celtics jadi bakal kehilangan pilihan putaran pertama mereka sepenuhnya. Auerbach pun mulai memikirkan pertukaran pemain, dan akhirnya dia mengincar St. Louis Hawks, sehingga punya pilihan kedua secara keseluruhan dalam draft.
Pilihan pertama menjadi milik Rochester Royals, tetapi tim itu sudah memiliki pemain muda berbakat dalam diri Maurice Stokes. Auerbach juga tahu bahwa pemilik Royals, Les Harrison, tak kan mau membayar Bill Russell bonus penandatanganan sebesar 25.000 dolar AS yang dimintanya. Rochester akhirnya memilih guard Sihugo Green, yang bermain selama sembilan musim di liga NBA dengan lima tim berbeda (termasuk, ironisnya, Boston Celtics pada tahun 1965-1966).
Pemilik St. Louis, Ben Kerner, kemudian bersedia membicarakan pertukaran pemain, dan kuncinya adalah Macauley. Center setinggi 6 kaki 8 inci ini ketika itu sudah enam kali terpilih sebagai All-Star dan jadi pahlawan lokal di St. Louis, tempat ia dibesarkan dan kemudian menjadi bintang di Universitas St. Louis.
Auerbach mampu melepaskan Macauley jika dia mendapatkan Bill Russell. Namun baru setelah Boston setuju untuk menambahkan pemain rookie Cliff Hagan ke dalam tim, dan Ben Kerner menyetujui pertukaran tersebut. Kesepakatan itu membawa Atlanta Hawks meraih gelar juara pada tahun 1958, tetapi membawa sebuah dinasi ke Boston Celtics.
Dalam draft yang sama, Boston Celtics menambahkan Heinsohn, yang kemudian menjadi Rookie of the Year NBA untuk musim 1956-57, dan KC Jones, rekan satu tim Bill Russell di perguruan tinggi, kemudian juga akan menjadi pemain andalan tim Boston Celtics.
Gabung Tahun 1956

Bill Russell baru bergabung dengan Boston Celtics pada bulan Desember 1956. Karena sebelumnya dia memperkuat tim bola basket Olimpiade AS yang memenangkan medali emas di Olimpiade Melbourne pada bulan November tahun 1956.
Boston Celtics ketika itu memulai musim dengan rekor 13-3, dan saat Bill Russell tiba, dia bisa beradaptasi dengan cepat. Bermain dalam 48 pertandingan, dia mencetak 19,6 rebound per gim, rata-rata terbaik di liga, dan mencetak 14,7 poin per gim.
Lima pemain inti Boston yang terdiri dari Russell, Heinsohn, Cousy, Sharman, dan Jim Loscutoff adalah unit yang sangat bertenaga. Mereka mencatatkan rekor musim reguler terbaik di NBA pada tahun 1956- 1957, melaju mulus di babak playoff, dan menjadi favorit kuat di final melawan St. Louis Hawks asuhan Bob Pettit. Kedua tim ini saling bergantian meraih kemenangan hingga seri tersebut mencapai Gim 7 yang dramatis di Boston.
Heinsohn mencetak 37 poin untuk Boston Celtics, namun tim ini tak mampu unggul jauh. Poin-poin di detik-detik terakhir oleh Hawks membawa pertandingan ke babak perpanjangan waktu dan berlanjut ke babak perpanjangan waktu kedua. Boston Celtics akhirnya menang 125-123, untuk meraih gelar juara NBA pertama mereka.
Hanya dalam sebagian musim, Bill Russell telah menambahkan elemen baru bagi Boston Celtics dan bola basket profesional. Selama beberapa tahun sebelumnya, Boston Celtics telah menjadi mesin ofensif yang tak terhentikan yang dipimpin oleh pencetak 20 poin, Cousy dan Sharman, keduanya calon anggota Hall of Fame.
Namun Boston Celtics kekurangan rebound dan pertahanan untuk memenangkan semuanya. Dengan masuknya Bill Russell yang membawa tingkat keahlian defensif yang baru, mengintimidasi lawan dengan blok tembakan, Boston Celtica kala itu membuktikan bahwa tidak perlu seorang pencetak poin untuk mendominasi permainan.
Termotivasi oleh kemenangan kejuaraan mereka, Boston Celtics memenangkan 14 pertandingan beruntun untuk memulai musim 1957- 1958, dan terus melaju. Di musim penuh pertamanya di NBA, Bill Russell mengambil alih kendali dan memimpin liga dengan 22,7 rebound per gim. Di awal musim melawan Philadelphia Warriors, dia mencetak rekor NBA untuk rebound dalam satu babak dengan meraih 32 rebound dan akhirnya mengumpulkan 49 rebound dalam pertandingan tersebut.
Kehebatan rebound-nya berasal dari penempatan posisi, mengantisipasi di mana tembakan akan memantul dari ring dan bergerak cepat menuju bola. Permainannya sama analitis dan mentalnya seperti halnya dengan kekuatan fisik.
Boston Celtics mencatatkan rekor musim reguler terbaik liga tahun itu, finis di puncak Divisi Timur dengan rekor 49-23. Boston Celtics kemudian kembali ke Final NBA untuk pertandingan ulang melawan
St. Louis Hawks yang telah memenangkan Wilayah Barat dengan rekor 41-31. Kedua tim berbagi kemenangan di dua pertandingan pertama di Boston Garden, tetapi di Gim 3 Bill Russell mengalami cedera pergelangan kaki. Keberuntungan Boston Celtics pun merosot dengan Bill Russell yang tidak efektif di sisa pertandingan. St. Louis memenangkan dua dari tiga pertandingan berikutnya untuk memenangkan seri tersebut.
Bill Russell kembali menjadi pemimpin rebound NBA pada musim 1958- 1959, dengan rata-rata 23,0 rebound per pertandingan, yang merupakan musim pertama dari tujuh musim berturut-turut di mana ia rata-rata meraih setidaknya 23 rebound. Bill Russell juga dikenal karena mengerahkan seluruh upayanya pada momen-momen kritis, baik dalam sebuah pertandingan maupun dalam sebuah musim.
Dia biasanya meningkatkan jumlah reboundnya selama babak playoff, dan pada musim pasca-rebound. Musim 1959 ia berhasil meraih rata-rata 27,7 rebound per pertandingan.
Mendominasi Permainan di Dua Sisi Lapangan

Boston Celtics mencapai Final NBA untuk musim ketiga berturut-turut dan merebut kembali gelar juara dengan kemenangan telak empat pertandingan atas Minneapolis Lakers. Bill Russell mencetak rekor final dengan 29,5 rebound per gim dalam seri tersebut. Gelar juara Boston Celtics tahun 1959 memulai rangkaian delapan kemenangan kejuaraan NBA berturut-turut yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tak tertandingi.
Musuh terbesar Russell, Wilt Chamberlain, memasuki NBA dan bergabung dengan Philadelphia Warriors untuk musim 1959- 1960, yang memicu persaingan selama satu dekade. Perdebatan tentang siapa pemain yang lebih hebat akan berlangsung lebih lama lagi. Wilt Chamberlain mencetak angka-angka luar biasa selama periode di mana keduanya saling berhadapan, tetapi Bill Russell membantu Boston Celtics menggantung sembilan bendera juara NBA di Garden dalam 10 musim pertamanya.
Seperti yang dikatakan pemain Celtics, Don Nelson, kepada Boston Herald , “Ada dua tipe superstar. Yang satu membuat dirinya terlihat hebat dengan mengorbankan pemain lain di lapangan. Tetapi ada tipe lain yang membuat pemain di sekitarnya terlihat lebih baik daripada yang sebenarnya, dan itulah tipe Bill Russell”.
Wilt Chamberlain memimpin liga dalam perolehan poin (37,6 poin per gim) di musim pertamanya, dan dia merebut gelar rebound terbanyak dari Bill Russell, 27,0 berbanding 24,0 rebound per gim. Namun, center Boston Celtics ini memiliki satu pertandingan luar biasa ketika dia meraih 51 rebound melawan Syracuse Nationals di musim 1959-1960. Angka tersebut menempati peringkat kedua sebagai upaya rebound terbaik dalam sejarah NBA, di belakang 55 rebound Chamberlain melawan Boston Celtics pada musim berikutnya.
Yang menjadi jelas, baik selama musim 1959-1960 maupun selama beberapa tahun berikutnya adalah bahwa bola basket adalah permainan tim. Seperti yang kemudian ditulis Bill Russell: “Bagi saya, salah satu hal terindah yang dapat dilihat adalah sekelompok pria yang mengoordinasikan upaya mereka menuju tujuan bersama.
Secara bergantian menundukkan dan menegaskan diri untuk mencapai kerja sama tim yang nyata dalam tindakan. Saya mencoba melakukan itu. Kami semua mencoba melakukan itu di Celtics. Saya pikir kami berhasil”.
Wilt Chamberlain memang hebat, tetapi Boston Celtics lebih hebat. Mereka meningkatkan rekor musim reguler mereka menjadi 59-16 pada tahun 1959- 1960, bahkan sempat mencatatkan 17 kemenangan beruntun. Mereka menyingkirkan Chamberlain dan Warriors di final divisi, kemudian bertemu St. Louis lagi di Final NBA 1960. Bill Russell meningkatkan permainannya di seri perebutan gelar, mencetak rekor Final NBA dengan 40 rebound di Gim 2 (dilampaui oleh Chamberlain dengan 41 rebound pada tahun 1967).
St.Louis Hawks memperpanjang seri hingga tujuh pertandingan, tetapi Russell mendominasi Gim 7, menyumbangkan 22 poin dan 35 rebound saat Boston Celtics menang, 122-103 dan meraih gelar juara kedua berturut-turut.
Bill Russell mengubah cara pandang NBA terhadap pertahanan. Liga tersebut tampaknya masih berada di era dominasi serangan, dengan Chamberlain sebagai pemimpinnya. Bahkan Boston Celtics yang berorientasi pada pertahanan pun rata-rata mencetak 124,5 poin.
Dampak Bill Russell pada permainan sebenarnya tidak dapat dilacak melalui statistik NBA. Blokir tembakan bukanlah statistik resmi hingga musim 1973-1974. Liga hanya mencatat total rebound, tanpa membedakan antara rebound ofensif dan defensif.
Bill Russell kemudian merevolusi permainan dengan cara yang jelas dipahami, meskipun tidak diukur. Kemampuannya untuk meninggalkan pemain yang dijaganya dan bergeser untuk menutup pergerakan lawan yang menggiring bola ke ring sangat mengejutkan. Dia tak tertandingi dalam meluncur melintasi area pertahanan seperti burung besar untuk memblokir dan mengubah arah tembakan.
Para pemain bertahan Boston Celtics lainnya mulai mengarahkan pemain mereka ke arah Bill Russell dan menjadi lebih berani dalam pertahanan perimeter mereka, karena tahu bahwa Bill Russell mengintai di belakang mereka.
Semua ini adalah permainan pikiran dengan para penembak lawan di dekat keranjang dan memiliki efek mengganggu karena mereka merasakan kehadiran Bill Russell yang mengintimidasi. Lebih jauh lagi, center lain mulai meniru gaya bermain defensif Bill Russell, dan meskipun mereka mungkin tidak sehebatnya, hal itu sudah mengubah cara permainan yang dimainkan.
Menariknya, gaya bermain Bill Russell juga menyegarkan serangan Boston Celtics. Banyak poin Boston Celtics berasal saat Bill Russell mengambil rebound defensif dan memberikan umpan cepat kepada Cousy, yang akan memulai serangan balik cepat Boston Celtics yang terkenal dan mematikan.
Dinasti ini memang terbentuk di bawah kepemimpinan Auerbach, dan “Boston Celtics” serta “juara NBA” yang praktis menjadi sinonim seiring berjalannya dekade. Tim ini memiliki banyak pemain berbakat, tetapi citra yang abadi tetap adalah Bill Russell. Dengan kepalanya yang sedikit membungkuk, matanya mengamati lapangan, dan lengan kirinya yang panjang terentang untuk menangkis tembakan.
Boston Celtics kembali memenangkan gelar juara pada musim 1960- 1961, dan Bill Russell dinobatkan sebagai Pemain Paling Berharga NBA (MVP) yang pertama dari tiga penghargaan MVP berturut-turut yang diraihnya.
Persiapan untuk Pensiun

Pada musim berikutnya, 1961-1962, Boston Celtics menambahkan satu lagi calon anggota Hall of Fame, John Havlicek, dalam Draft NBA 1962 dan kehilangan Cousy karena pensiun di akhir musim 1962-1963. Dalam apa yang telah menjadi rutinitas tahunan, Boston Celtics memenangkan gelar NBA kelima berturut-turut pada tahun 1963, dan Bill Russell kembali meraih penghargaan MVP ketiga berturut-turut.
Pemain legendaris itu kemudian menyebut tim Boston Celtics 1963-1964 sebagai tim terbaik di eranya. Meskipun hanya kompeten dalam hal serangan, dia merasa itu adalah unit pertahanan terbaik yang pernah ada. Bill Russell sekali lagi memimpin liga dalam rebound, dengan 24,7 rebound per gim, rekor tertingginya sepanjang masa.
Boston Celtics, yang terus melaju tanpa henti, mengalahkan San Francisco Warriors di final dalam lima pertandingan, meraih gelar juara NBA keenam mereka berturut-turut. Sesuatu yang belum pernah dicapai oleh tim mana pun di tingkat liga utama dalam olahraga apa pun sebelumnya.
Itu adalah era pencapaian yang berkelanjutan, baik untuk Bill Russell maupun tim. Bill Russell kembali menjadi pemimpin rebound NBA pada musim 1964-1965, mengumpulkan 24,1 rebound per gim, termasuk pertandingan dengan 49 rebound melawan Detroit Pistons pada musim itu. Dia juga berada di peringkat kelima di liga dalam hal assist dengan 5,3 per gim.
Momen paling dramatis musim ini terjadi di Game 7 final Divisi Timur, ketika Boston Celtics unggul 110-109 dengan lima detik tersisa melawan Wilt Chamberlain dan Philadelphia 76ers. Lemparan masuk Bill Russell mengenai kawat penyangga keranjang, memberikan bola kepada Sixers tanpa waktu tersisa di jam pertandingan. Hal Greer dari Philadelphia melempar bola ke Chet Walker, tetapi Havlicek mencuri bola untuk memastikan kemenangan.
Momen itu, seperti yang dikomentari oleh penyiar terkenal Celtics, Johnny Most, adalah sebuah harta karun NBA. Dengan suara seraknya, Most berteriak, “Havlicek mencuri bola. Berikan bola kepada Sam Jones. Havlicek mencuri bola! Selesai sudah! Johnny Havlicek mencuri bola!”
Final NBA melawan Los Angeles Lakers hampir terasa antiklimaks, karena Boston Celtics merebut gelar juara dalam lima pertandingan. Atas penampilannya musim itu, Bill Russell memenangkan penghargaan Pemain Paling Berharga NBA (MVP) kelima dan terakhirnya.
Setelah meraih gelar juara NBA lainnya pada musim 1965-1966, Auerbach pensiun, dan Bill Russell mengambil alih sebagai pemain sekaligus pelatih pada musim berikutnya, menjadi pelatih Afrika-Amerika pertama di liga.

Dia memimpin Boston Celtics meraih rekor musim reguler 60-21, tetapi Boston Celtics akhirnya mengakhiri rentetan gelar juara mereka ketika kalah dari tim Philadelphia 76ers yang tangguh di Final Divisi Timur. Sixers, yang mencatatkan rekor 68-13 di musim reguler dan dianggap sebagai salah satu tim terbaik dalam sejarah liga, mengalahkan Boston Celtics dalam lima pertandingan untuk melaju ke Final NBA.
Setelah jeda satu tahun itu, Boston Celtics kembali ke performa terbaiknya pada musim 1967-1968, merebut kembali gelar juara di bawah arahan Bill Russell. Di final Divisi Timur, klub tersebut bangkit dari ketertinggalan dua pertandingan untuk memaksa pertandingan ketujuh melawan Chamberlain dan 76ers. Boston Celtics unggul 97-95 dengan 34 detik tersisa ketika Bill Russell mengambil alih kendali.
Dia memasukkan lemparan bebas, memblokir tembakan Walker, mengambil rebound dari tembakan Greer yang meleset, dan memberikan bola kepada Jones, yang mencetak poin terakhir dalam kemenangan 100-96. Boston Celtics kemudian mengalahkan Los Angeles dalam enam pertandingan di Final NBA.
Musim 1968-1969 bahkan lebih memuaskan. Boston Celtics yang sudah tua nyaris lolos ke babak playoff dengan rekor 48-34, kemudian bangkit di babak postseason. Pada tahun ketiga Bill Russell sebagai pemain sekaligus pelatih, Boston Celtics kembali menjadi juara NBA dengan mengalahkan Lakers, yang sudah mengakuisisi Chamberlain, dalam pertarungan tujuh pertandingan untuk memperebutkan gelar.
Pemimpin hebat Boston Celtics itu segera pensiun, setelah memimpin tim meraih 11 gelar juara dalam 13 tahun. Bill Russell sudah mengumpulkan 21.620 rebound sepanjang kariernya, kedua dalam sejarah NBA setelah Wilt Chamberlain yang mencatatkan 23.924 rebound.
Pada tahun 1970, Bill Russell terpilih masuk dalam Tim Sepanjang Masa NBA dalam rangka peringatan 25 tahun. Pada tahun 1974, Russell juga terpilih masuk ke Naismith Memorial Basketball Hall of Fame.
Setahun sebelumnya pada tahun 1973, Bill Russell muncul kembali sebagai pelatih kepala dan manajer umum Seattle SuperSonics. Dia mengambil alih tim yang hanya memenangkan 26 pertandingan pada tahun sebelumnya dan membawanya ke jalur kemenangan, mencatatkan 36 kemenangan pada musim berikutnya dan kemudian mengumpulkan rekor 43-39 untuk mendapatkan tempat di babak playoff pada musim 1974-1975.
Namun Bill Russell menjadi frustrasi dengan keengganan para pemain untuk menerima konsep timnya. Beberapa orang berpendapat bahwa masalahnya adalah Bill Russell sendiri; dia dikatakan menyendiri, mudah marah, dan tidak mampu menerima apa pun selain tradisi Boston Celtics. Antusiasmenya terhadap tugas tersebut pub memudar setelah musim keempatnya pada tahun 1976-1977, dan dia pun pergi.
NBA Pensiunkan Nomor Punggung 6

Ironisnya, Lenny Wilkens memimpin Seattle meraih gelar juara dua tahun kemudian, dengan menerapkan konsep tim yang sama yang pernah coba ditanamkan Bill Russell kepada para pemainnya namun gagal. Satu dekade setelah meninggalkan Seattle, Bill Russell mencoba melatih lagi, menggantikan Jerry Reynolds sebagai pelatih Sacramento Kings di awal musim 1987-1988. Tim tersebut terseok-seok dengan rekor 17-41, dan Bill Russell pergi di pertengahan musim.
Meskipun kedatangan Michael Jordan di akhir dekade tersebut mungkin telah membuka kembali perdebatan tentang siapa pemain terbaik sebenarnya dalam permainan ini, namun tetap tak terbantahkan bahwa Bill Russell secara radikal sudah mengubah cara berpikir orang tentang bagaimana pertandingan bola basket dimenangkan.
Pada tahun 2009, selama akhir pekan NBA All-Star di Phoenix, komisaris NBA David Stern mengumumkan bahwa Penghargaan MVP Final NBA akan dinamai Bill Russell. Pada tahun 2010, Bill Russell dianugerahi Medali Kebebasan Kepresidenan. Kemudian pada tahun 2017, Bill Russell diumumkan sebagai penerima perdana Penghargaan Prestasi Seumur Hidup NBA.
Pada tahun 2020, Bill Russell termasuk di antara tiga pemenang Penghargaan Semangat Kemanusiaan Mannie Jackson – Bola Basket atas komitmennya selama beberapa dekade terhadap keadilan sosial.
NBA secara resmi mempensiunkan nomor punggung 6 milik legenda Boston Celtics Bill Russell di seluruh liga pada 11 Agustus 2022. Dia menjadi pertama yang mendapatkan penghormatan tersebut.
Keputusan ini diambil untuk menghormati 11 gelar juara, warisan pionir sebagai hak sipil dan dampak besar Bill Russell baik di dalam dan luar lapangan. Setelah keputusan ini lahir, tak ada lagi pemain NBA dan tim manapun yang boleh mengenakan nomor punggung 6 di jersey -nya. Bill Russell meninggal pada tanggal 31 Juli 2022 di usia 88 tahun. (Bembo)



