INTERNASIONAL

Pernyataan Donald Trump Benar, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Tewas dalam Serangan Besar-besaran AS dan Israel

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Serangan besar-besaran pasukan Amerika Serikat (AS) dan Israel di beberapa wilayah Iran menyebabkan hancurnya kota-kota dan wilayah strategis di negara tersebut. Tidak itu saja pembombardiran AS ke Iran juga banyak menelan korban jiwa, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Presiden AS menyatakan Khameni telah tewas bersama petinggi-petinggi di negara itu. Namun pernyataan Trump yang dilontarkan pada Sabtu (28/2) diragukan kebenarannya.

Tapi pernyataan Trump itu ternyata benar dan valid, karena pada Minggu (1/3) Stasiun televisi pemerintah Iran mengumumkan 40 hari masa berkabung dan tujuh hari libur nasional menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Saluran berita IRINN menayangkan foto foto Khamenei dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an sebagai latar, disertai pita hitam di pojok kiri atas layar. Penyiar membacakan pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) yang secara resmi mengonfirmasi kematian Khamenei dan menuding Amerika Serikat serta Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Dalam pernyataan itu, Khamenei disebut wafat sebagai “martir” yang akan menjadi awal dari “kebangkitan dalam perjuangan melawan para penindas.” NSNC menyatakan bahwa Ayatollah Khamenei wafat pada Sabtu (28/02) dini hari di kantornya “saat sedang menjalankan tugas.”

Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan bahwa putri Khamenei, menantunya, serta seorang cucunya turut tewas dalam serangan tersebut. Kantor berita Fars, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), juga memberitakan bahwa salah satu menantu perempuan Khamenei tewas. Di pihak militer, Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Mohammad Pakpour, serta sekretaris Dewan Pertahanan Iran, Ali Shamkhani, tewas dalam serangan tersebut. Demikian, laporan kantor berita resmi IRNA seperti dikutip CNN Indonesia.com, Minggu (1/3).

Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya mengklaim bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei telah “tewas” dalam “operasi tempur besar-besaran”, Sabtu waktu setempat (28/02). Dalam unggahan di Truth Social, Trump mengatakan “Khamenei salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah tewas”.

Lebih lanjut ia menulis, “Ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi semua warga Amerika yang hebat,” katanya. “Ini adalah kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk mengambil kembali negaranya,” tambahnya.

Sementara juru bicara Bulan Sabit Merah di Iran, Mojtaba Khaledi, mengatakan sebanyak 201 orang meninggal dunia akibat serangan. Adapun 747 lainnya mengalami luka-luka. Khaledi menambahkan, sebanyak kota-kota di 24 provinsi dari 31 provinsi di Iran telah diserang.

Media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya 85 orang tewas akibat serangan Israel yang menghantam sebuah sekolah dasar di Minab, wilayah selatan Iran. BBC belum dapat memverifikasi laporan tersebut. Israel, menurut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menjalankan operasi tersebut bersama AS untuk “menyingkirkan rezim teroris di Iran”.

SedangkanTrump mendesak warga Iran memanfaatkan serangan besar besaran terhadap Iran untuk menggulingkan kelompok ulama yang memerintah negara itu. “Ketika kami selesai, ambil alihlah pemerintahan kalian. Itu akan menjadi milik kalian. Ini mungkin satu satunya kesempatan kalian dalam beberapa generasi,” ujarnya seraya menambahkan kepada anggota pasukan keamanan Iran bahwa mereka akan diberi “imunitas” apabila meletakkan senjata. Jika tetap bertempur, lanjut Trump, mereka akan “menghadapi kematian yang pasti”.

Hal senada diucapkan Netanyahu. “Waktunya telah tiba bagi seluruh kelompok masyarakat Iran—bangsa Persia, Kurdi, Azeri, Baluchi, dan Ahwazi — untuk melepaskan diri dari belenggu tirani dan mewujudkan Iran yang bebas dan damai,” kata Netanyahu.

Kantor berita Fars di Iran melaporkan bahwa ledakan terdengar di Kota Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah, serta di ibu kota Teheran. Stasiun televisi pemerintah Iran menyatakan bahwa Presiden Pezeshkian “selamat”. Dia kemudian merilis pernyataan yang mengecam serangan terhadap sekolah di Minab sebagai “tindakan brutal.”

Seorang pejabat militer Israel kemudian memberi pengarahan kepada media bahwa pasukan Israel dan AS melancarkan gelombang awal serangan “berskala luas” terhadap “ratusan target.” Di antara target tersebut, kata mereka, terdapat tiga pertemuan pejabat senior Iran, dan “sejumlah tokoh penting yang berperan dalam pengelolaan kampanye dan pemerintahan rezim telah dieliminasi.” Sejumlah instalasi militer di Kermanshah, Qum, Isfahan, Tabriz dan Karaj, serta fasilitas Angkatan Laut Iran di Kenarak, wilayah selatan negara itu, juga dilaporkan terkena serangan.

Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan warga di dekat lokasi ledakan berlarian panik, diiringi teriakan dan tangis. Namun pada saat yang sama, muncul pula rasa lega dan sebagian tampak merayakan serangan itu lantaran mereka meyakini bahwa kejatuhan rezim hanya bisa terjadi melalui intervensi militer.

Banyak warga telah lama menduga kemungkinan adanya serangan AS. Reaksi masyarakat Iran pun terbelah. “Jika saya mati, jangan lupakan bahwa kami juga ada—mereka yang menolak serangan militer, mereka yang akan menjadi angka semata dalam laporan korban jiwa,” tulis seorang warga Iran di media sosial.

Editor: Isa Gautama

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *