
progresifjaya.co.id, JAKARTA – Seorang guru honorer menangis bukan karena iri tetapi miris melihat kenyataan bahwa profesi yang mencerdaskan kehidupan bangsa justru seringkali berada di garis paling belakang dalam urusan kesejahteraan. Mendidik anak bangsa tapi sulit hidup layak.
Besaran gaji guru honorer masih jauh dari kata layak. Minimnya gaji guru honorer tidak mencerminkan keadilan atas peran strategis guru sebagai pengampu utama pendidikan dan pencetak generasi bangsa.
Realitas di lapangan menunjukkan masih banyak guru honorer yang menerima gaji jauh di bawah standar kebutuhan hidup layak. Bahkan, tidak sedikit guru honorer yang hanya menerima upah sekitar Rp250 ribu hingga di bawah Rp500 ribu per bulan, dengan sistem pembayaran yang tidak menentu dan kerap dibayarkan setiap tiga hingga enam bulan. Padahal banyak dari mereka telah mengabdi puluhan tahun.
Guru honorer SDN Wanasari 01, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Intan Permatasari, menceritakan kisah pilunya sebagai honorer dalam audiensi di Badan Legislasi Nasional DPR RI. Ia mengungkap betapa sulitnya hidup sebagai guru honorer.
Nahas, untuk bertahan hidup, Intan tak bisa menggantungkan diri pada profesi guru.. Ia harus mencari uang tambahan dengan menjadi pengantar jemput jasa cucian atau laundry.
“Pulang mengajar jadi antar jemput laundry, Pak,” cerita Intan sambil menyeka air matanya.
Ia berharap guru honorer lebih diperhatikan. Setidaknya, bisa masuk Dapodik sehingga bisa ikut ujian seleksi PPPK.
Kisah pilu Moch. Agus Wijaya, guru honorer asal Pamulang, Tangerang Selatan, yang mengajar di Jakarta Barat, bercerita bagaimana cara bertahan hidup dengan upah Rp 500 ribu per bulan.
Dengan upah seminim itu, tentu tidak cukup untuk menutup biaya operasional sehari-hari, apalagi kebutuhan keluarga. Saat menceritakan kerasnya perjuangan hidup sebagai guru honorer, Agus harus memutar otak setiap hari agar tetap bisa berdiri di depan kelas meski upah yang ia terima jauh dari kata layak.
“Kalau saya pribadi untuk pulang pergi, terutama pulangnya, berusaha menutupi dengan cara mengambil barang atau paket yang memang searah jalan pulang,” ungkap Agus dengan nada bergetar.
Ia tidak langsung beristirahat setelah menguras tenaga mendidik siswa. Agus memilih beralih profesi menjadi driver ojek online sekaligus kurir pengantar paket. Langkah ini ia lakukan demi memastikan ongkos bahan bakar kendaraannya tertutupi dari penghasilan tambahan di jalanan.
Perjuangan Agus belum berakhir saat matahari terbenam. Setelah mengumpulkan modal dari sisa rezeki ngojek dan mengantar paket, ia menyalakan kompor untuk berjualan nasi goreng pada malam hari. Rutinitas melelahkan ini telah ia jalani selama bertahun-tahun sejak awal bergabung menjadi tenaga pendidik.
Upah Pegawai MBG Lebih Tinggi
Setiap pekerjaan layak mendapatkan upah yang memadai. Namun menjadi ironi ketika upah untuk sektor operasional, di sini menyebut pegawai MBG, justru lebih tinggi dibandingkan mereka yang memegang tanggung jawab moral, membentuk generasi penerus.
Namun faktanya, anggaran MBG 2026 masuk dalam alokasi 20 persen dana pendidikan. Tidak ada menyiratkan hasil penghematan atau realokasi dari penghematan anggaran lain, malahan mengurangi jatah anggaran pendidikan.
Jika benar anggaran ini adalah hasil penghematan, tidak seharusnya Badan Gizi Nasional (BGN) menghambur-hamburkan anggaran untuk hal yang tidak perlu.
Dalam narasi yang beredar di media sosial dan menurut data pengadaan barang dan jasa BGN tahun 2025 yang dipublikasi LKPP ada indikasi mark up harga pada pengadaan barang. Total pelaksanaan belanja BGN tahun 2025 yang dicatat oleh data LKPP sebesar Rp6,2 triliun.
Kepala BGN, Dadan Hindayana dituding telah menghabiskan anggaran triliun rupiah untuk berbelanja banyak barang untuk hal tidak perlu. Yang menjadi sorotan barang-barang yang dibeli BGN ini disinyalir di mark up gila-gilaan.
Misalnya saja, BGN menghabiskan Rp 1,2 triliun untuk belanja motor listrik belum termasuk ongkos kirim. Dari penelusuran, BGN membeli sepeda motor listrik melalui e-Katalog 6.0 yang disediakan perusahaan Yasa Artha Trimanunggal. Dari laman pengadaan, perusahaan menjual dua jenis sepeda motor bermerek Emmo Mobility. Seri JVH Max seharga Rp49.950.000, dan JVH GT seharga Rp48.840.000. Perusahaan ini juga menyediakan layanan pengiriman sepeda motor ke berbagai daerah.
Menghamburkan uang untuk membeli barang yang kelewat mahal dari harga pasaran tentu bukanlah penghematan. Ini jelas pemborosan, selain potensi mark up.
Kesejahteraan guru adalah kunci kualitas pendidikan. Jika guru masih pusing memikirkan cara menyambung hidup besok, bagaimana mereka bisa fokus memberikan yang terbaik untuk muridnya?
Editor: Hendy



