Sambut Hari Santri, 1.000 Muslimat NU Hadiri Pengajian dan Istighosah di Masjid Agung Baitul Kamal Kota Depok

Ketua PC Muslimat NU Kota Depok Ustazah Hj. Siti Luluk Muflihah.
progresifjaya.co.id, DEPOK – Sejak Kamis pagi hari, Masjid Agung Baitul Baitul Kamal Depok dipenuhi muslimah NU, bukan sekadar datang untuk mengikuti pengajian bulanan, tapi sekitar 1.000 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kota Depok juga menyatukan doa melalui istighosah dalam menyambut Hari Santri Nasional 2026.
Para muslimah NU hadir dalam satu majelis, mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan yang dikemas sederhana, namun sarat makna. Bagi Muslimat NU Kota Depok, kesederhanaan justru menjadi cara untuk menghidupkan semangat Hari Santri.
Ceramah acara pengajian bulanan dan istigozah disampaikan langsung oleh ibu Ketua PC Muslimat NU Kota Depok Ustazah Hj. Siti Luluk Muflihah dengan materi pembahasan Aqidatul Awam.

“Muslimat NU merupakan bagian dari keluarga besar santri. Karena itu, peringatan Hari Santri tahun ini diisi dengan kegiatan yang dekat dengan keseharian para anggotanya,” tutur Aliyah, Kamis (1/10).
“Karena memang kita ini bagian dari santri, maka kegiatan Hari Santri ini Muslimat NU sederhana saja. Kami mengadakan pengajian bulanan yang dirangkai dengan istighosah dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional tahun 2026,” ujar Aliyah lagi.
Di sela-sela pengajian, para muslimah juga mendapatkan sosialisasi mengenai pembiayaan ibadah haji dan umrah. Bukan tanpa alasan. Muslimat NU Kota Depok tengah menyiapkan sebuah program yang menyentuh langsung impian banyak umat Islam, yakni berangkat ke Tanah Suci.
Untuk tahap perdana, Muslimat NU Kota Depok merencanakan pemberangkatan jamaah umrah dengan jumlah maksimal 31 orang. Program tersebut menjadi langkah awal pemberangkatan umrah yang dipersiapkan Muslimat NU Kota Depok.
Sosialisasi pembiayaan dilakukan agar para calon jamaah memperoleh informasi mengenai persiapan pembiayaan sebelum menentukan keberangkatan.
“Sudah ada rencana pemberangkatan jamaah umrah sebanyak 31 orang. Ini merupakan salah satu program dan untuk tahun pertama ini menjadi pemberangkatan perdana,” kata Aliyah.
Di titik inilah pengajian bulanan tidak hanya menjadi ruang untuk mendengarkan tausiah dan berdoa bersama. Pertemuan tersebut juga menjadi ruang bertukar informasi dan menyusun langkah untuk mewujudkan sebuah niat ibadah.

Bagi sebagian muslimah yang hadir, umrah mungkin masih sebatas impian. Tetapi dengan adanya informasi mengenai pembiayaan dan program pemberangkatan, impian tersebut mulai memiliki jalan untuk diwujudkan.
Sementara istighosah menjadi pengingat bahwa setiap ikhtiar tetap membutuhkan doa. Hari Santri akhirnya tidak hanya dirayakan dengan simbol dan seremoni. Di Masjid Agung Baitul Kamal Depok, peringatan itu diisi dengan tiga hal sederhana yakni berkumpul, menuntut ilmu dan berdoa.
Dari majelis yang dihadiri sekitar 1.000 Muslimat NU itu, semangat santri kembali diteguhkan menjaga tradisi keagamaan sekaligus membuka jalan bagi umat untuk terus memperkuat ibadah dan kebersamaan.
“Momen rangkaian Hari Santri yang kami gelar ini merupakan ungkapan rasa syukur dan kebanggaan kami menjadi bagian dari Nahdatul Ulama. Semoga kami, Muslimat NU diakui menjadi santrinya Mbah Hasyim As’ari, pendiri Nahdhatul Ulama,” pungkasnya. (Agus Tanjung)



