KESEHATAN NASIONAL

Ancaman Penyakit Menular Mengintai para Korban Banjir dan Longsor di Sumatera

progresifjaya.co.id, TAPANULI TENGAH – Kementerian Kesehatan mencatat kasus-kasus demam, diare, hingga infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) terdata paling banyak ditemukan di tiga provinsi terdampak bencana banjir dan longsor (hidrometeorologi) yakni Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat sepanjang 25 November-2 Desember 2025.

Krisis air bersih, sampah berserakan, hingga kerumunan di pengungsian berpotensi mempengaruhi kesehatan para korban terutama anak-anak. Dinas Kesehatan Tapanuli Tengah mencatat pasien dengan keluhan batuk, flu, demam dan gatal-gatal melonjak hingga 400%,

Seorang pengawas lapangan kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup Tapanuli Tengah, Aditya Wardana Cambak mengaku kekurangan orang untuk mengangkut sampah. Di tengah keterbatasan tenaga pengangkut sampah, Aditya dan timnya berkejaran dengan waktu untuk menghentikan potensi penyakit dari limbah pascabencana ini.

Selain masalah sampah, sumber penyakit yang kerap terjadi setelah banjir melanda adalah krisis air bersih. Di Tapanuli Tengah, sebagian orang menggunakan air parit untuk mencuci baju dan peralatan rumah tangga yang kotor karena lumpur. Bukan itu saja, alat-alat dapur, makan dan minum juga tak luput dibilas dengan air parit.

Di Gelanggang Olahraga (GOR) Pandan yang dijadikan tempat pengungsian sementara, Novita Tiara yang sedang hamil lima bulan mengatakan sudah banyak anak-anak yang batuk, termasuk putri sulungnya. “Ini anak batuk, anak di sebelah juga batuk, sampai tak bisa tidur,” katanya.

Ia juga mengeluhkan bau menyengat dari kamar mandi yang hanya lima meter dari alas tidurnya. “Di sini saja yang bau, karena air enggak ada. Orang itu dari atas sini (bagian tribun), mau ambil air dibawa ke atas, habislah air. Orang juga capek membersihkan,” jelas Novita yang sudah lebih dari satu pekan mengungsi karena rumah rata dengan tanah.

Sebenarnya, Novita sudah diminta tim posko pengungsi untuk tidur di tempat khusus yang sudah disediakan. Tempat ini diperuntukan ibu hamil atau ibu dengan bayi. Tapi ia enggan. “Karena suami nanti jarang-jarang tengok,” katanya.

Novita Tiara hanya mengharapkan infrastruktur wilayahnya segera pulih. Termasuk, harapan punya tempat tinggal bantuan dari pemerintah sebelum bayinya lahir. “Harapannya, rumah kita segera dibangun, biar tidak kami di sini lagi, tak tahan kamar mandinya bau,” pinta Novita.

Dinas kesehatan Tapanuli Tengah melaporkan terjadi lonjakan pasien dengan kasus batuk, flu, demam dan gatal-gatal hingga 400% dibandingkan sebelumnya. “Karena sampai 5 Desember itu pasien kita sudah 6.700 orang, dari sebelumnya 1.300- 1.500 orang,” kata Kepala Dinas Kesehatan Tapteng, Lina Panjaitan, Sabtu (5/12).

Ia melaporkan terdapat 25 puskesmas di Tapteng. Sebanyak 22 tidak terdampak, dan tiga terdampak banjir dan longsor. Lisna mengklaim, semuanya sudah beroperasi sejak hari kelima pascabencana. “Kita (juga) mengadakan posko-posko layanan kesehatan di masing-masing kecamatan, baik daerah sulit terjangkau kita masih optimis memberi layanan kesehatan,” katanya.

Per 5 desember itu sebanyak 69 posko yang sudah kita gerakkan, kata Lina, dan hari ini tim nakes sedang ke daerah-daerah terisolir memberi layanan kesehatan. (Red/dari berbagai sumber)

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *