Gelombang PHK Massal Nike, Adidas, Puma Dampak Relokasi Pabrik dari Tangerang

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Indonesia masih terus berlanjut. Terbaru, pabrik sepatu Nike, Adidas, Puma, dan pabrik ban merek Michelin melakukan PHK massal di wilayah Tangerang dan Cikarang.
Sebagai informasi, PT Victory Chingluh di Tangerang merupakan pabrik yang memproduksi sepatu untuk dipasok ke merek global, Nike. Sementara 2.200 karyawan yang baru saja di-PHK kini sudah menerima pesangon.
Presiden Partai Buruh dan juga Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mengungkapkan bahwa beberapa pabrik sepatu internasional telah memindahkan sebagian lini produksinya ke daerah dengan biaya tenaga kerja yang lebih rendah.
Lebih lanjut Said menjelaskan labor cost atau biaya operasional karyawan di pabrik atau perusahaan yang bergerak di bidang tekstil, garmen, dan sepatu bisa mencapai 30% dari total pengeluaran perusahaan secara keseluruhan. Karena hal inilah, saat upah minimum suatu wilayah sudah terlalu tinggi, tak sedikit perusahaan memilih untuk pindah lokasi.
“Nah Indonesia termasuk kategori negara yang cost production-nya belum terlalu tinggi, tapi kualitas produksinya baik. Oleh karena itu mereka, perpindahan yang di Indonesia itu, lebih kepada daerah yang upah minimumnya rendah. Mana yang sekarang berkembang? Brebes dan Cirebon,” tegas Said dalam keterangannya dikutip, Sabtu, 1 November 2025.
Penurunan Permintaan

Selain industri sepatu, gelombang PHK juga melanda sektor otomotif. Pabrik ban Michelin di Cikarang dilaporkan telah mem-PHK ratusan karyawan.
Menurut Said, informasi tersebut diperoleh dari perwakilan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) yang menaungi para buruh di pabrik tersebut. Ia menyebut jumlah pekerja yang terkena dampak mencapai ratusan orang.
Lebih lanjut, Said mengatakan penyebab utama PHK massal ini karena penurunan permintaan ban domestik maupun global. Sehingga mau tak mau pabrik ban Michelin itu mengurangi tenaga kerja.
“Penyebabnya adalah daya beli yang menurun sehingga permintaan terhadap mobil kan turun, motor turun, sehingga ban juga turun. Itu juga terjadi di global, Michelin kan ini pabrik ban global kan,” terangnya.
“Sehingga akibat permintaan yang menurun dari ban-ban Michelin, terjadi pengurangan produksi dan dikurangi karyawannya, PHK, sambung Said.
Ia mengatakan saat ini proses PHK masih dalam tahap negosiasi pesangon dan hak-hak buruh lainnya. Di luar itu, Said meminta pemerintah ikut turun tangan membenahi industri dalam negeri, karena diperkirakan sejumlah pabrik ban lain ikut melakukan pemangkasan karyawan karena hal yang sama.
Editor: Hendy



