BERITA UTAMA TNI & POLRI

Mantan Wakapolri Sebut Polri Krisis Integritas Akibat Hilangnya Kata Kejujuran pada Tribrata 2002

Komjen Pol (Purn) Nanan Soekarna

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Mantan Wakapolri, Komjen Pol (Purn) Nanan Soekarna menyebut hilangnya kata “kejujuran” pada Tribrata versi 2022 membuat institusi Polri mengalami krisis integritas. Karena dulu, lanjutnya, kata kejujuran itu tertuang dalam narasi Tribrata tahun 1954 sebelum tiba-tiba dihilangkan pada tahun 2002.

Hal ini disampaikan Komjen Pol (Purn) Nanan secara terbuka saat memberikan materi pada Dialog Kebangsaan dalam Rangka Hari Jadi Humas Polri ke-74.

“Hilangnya satu kata tersebut, maka sejuta makna ikut pudar. Dan tanpa kejujuran, hukum akan kehilangan nuraninya. Dan tanpa kejujuran juga, maka kepercayaan Korps Bhayangkara menjadi rapuh seperti sekarang ini,” jelas Komjen Pol (Purn) Nanan sebagaimana disitat dari tayangan YouTube Divisi Humas Polri, Minggu, (2/11).

“Sekarang (karena) pimpinan institusi, masyarakat untrusted terhadap Polri. Bahkan ujungnya minta direformasi kembali Polri. Dan ini adalah fakta,” tambahnya.

Selanjutnya dia bertutur tatkala masih menjabat sebagai Wakapolri periode 2011 – 2013. Saat itu, katanya, ada tiga hal yang ditanamkannya dalam kode etik Polri. Pertama adalah lima tampilan kepemimpinan Polri. Kemudian tujuh tampilan karakter anggota Polri, dan terakhir menolak perintah atasan apabila perintahnya tidak benar atau integrity defender.

“Tiga hal itu saya tanamkan di kode etik Polri yang baru saat itu, sebagai jabaran hilangnya kata kejujuran,” ujar pria kelahiran Purwakarta, Jawa Barat, 30 Juli 1955 yang meraih penghargaan Adhi Makayasa lulusan terbaik Akpol 1978 dari Batalyon Paramarta.

Diungkapkannya juga, krisis yang dihadapi Polri saat ini bukan cuma soal kelembagaan semata. Tapi juga sudah sampai kepada krisis integritas individunya. Padahal, kata dia, integritas merupakan jembatan antara kebenaran dan kepercayaan.

“Tanpa integritas, kebenaran akan kehilangan arah. Tanpa kebenaran, kepercayaan menjadi rapuh. Integritas bukan hanya sifat pribadi melainkan pondasi moral sistemik,” jelas purnawirawan Jenderal Polisi bintang tiga yang juga pernah menjabat sebagai Kadiv Humas Polri (2009-2010) dan Irwasum Polri (2010-2011) ini.

Komjen Pol Nanan Soekarna saat menjabat sebagai Wakapolri pada periode 1 Maret 2011 – 1 Agustus 2013

Menurutnya, seorang Bhayangkara sejati seharusnya menyatukan keduanya, yakni berkata jujur, berpikir benar dan bertindak adil.

“20 tahun kita dulu mereformasi kepolisian agar trust building, membangun kemitraan dan melayani dengan prima. Tapi ingat, kepercayaan tak tumbuh tanpa kejujuran dan kemitraan atau networking rapuh tanpa nilai. Keunggulan kosong tanpa moral. Itu yang terjadi sekarang mungkin,” Komjen Pol (Purn) Nanan berujar.

Lebih jauh lagi Komjen Pol (Purn) Nanan juga mengatakan bahwa reformasi Polri tak cukup secara strukturalnya saja, namun juga harus secara kultural dan moral.
Demikian juga halnya dengan reformasi Polri sejati. Tak cuma soal mengganti struktur, namun juga bisa menghidupkan lagi kultur yang sudah ada di Tribrata 1954 dan kode etik Polri.

“Oleh karena itu saya menitipkan tiga prinsip nilai. Pertama, nilai di atas segalanya, di atas jabatan dan materi. Sekarang ini justru no values, just status and fulus. Kedua yaitu full commitment no conspiracy dan jujur meski sendirian,” tegasnya.

Untuk yang ketiga adalah soal integrity defender. Menurutnya, bawahan harus berani melawan atasan bila tidak benar. Dan tujuan dari sikap ini adalah untuk menjaga atasan dan pakem institusi.

“Kita sedang menyalakan kembali api kejujuran, bukan untuk masa lalu tetapi untuk masa depan Polri yang berintegritas,” jelasnya lagi blak-blakan.

Sedikit menyoal tentang Komjen Pol (Purn) Nanan Soekarna, semasa masih aktif sebagai anggota Polri dia dinilai sebagai jenderal bercitra bersih dan dianggap mampu membenahi sektor internal kepolisian.

Ketika menjabat sebagai Kapolda Kalimantan Barat, dia juga pernah membuat gebrakan inovasi dengan menginstruksikan setiap polisi di daerahnya saat itu untuk mengenakan pin anti korupsi yang bertajuk Saya Polisi Antikorupsi. Selain langkah fenomenalnya ini, dia juga adalah polisi yang pernah dibina FBI di South West, Virginia, Amerika Serikat.

Kini menyoal lagi kepada perubahan Tribrata tahun 2002 yang disorot olehnya. Perubahan ini sesuai Keputusan Kapolri Nomor Pol: Kep/17/VI/2002 tanggal 24 Juni 2002. Itu berarti, kata kejujuran dalam Tribrata itu dihilangkan pada masa kepemimpinan Jenderal Pol Da’i Bachtiar sebagai Kapolri.

Awal mula Tribrata sendiri digagas oleh Prof Prijono dan Prof Djoko Sutono pada tanggal 28-29 Juni 1953. Dan Tribrata ini kali pertama diikrarkan oleh Soeparno Suriatmadja pada upacara pembacaan sumpah para doktor di PTIK angkatan ke-II.

Baru pada peringatan Hari Kepolisian 1 Juli 1955 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Kepala Kepolisian Negara (KKN) yaitu Jenderal Pol R.S. Soekanto Tjokro Diatmodjo mengikrarkan Tribrata sebagai pedoman hidup Polri sampai sekarang. (Bembo)

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *