Tiga Gubernur Menangis: Bencana Alam Dahsyat Menewaskan 402 Warga di Sumut, Sumbar dan Aceh

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Tiga gubernur menangis mendengar warganya banyak yang tewas akibat musibah bencana alam menimpa beberapa wilayah di Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat. Bagaimana tidak sedih, korban meninggal akibat bencana dasyat itu mencapai hampir 500 orang dan yang masih hilang dalam pencarian pun sama jumlahnya.
Tidak itu saja, ribuan warga mereka kelaparan, terutama di daerah bencana yang terputus jalur logistik dan transportasi. Bahkan ada di beberapa wilayah warganya membobol gudang Bulog dan menyerbu minimarket karena stok makanan di wilayah itu sudah menipis. Untuk mempertahankan hidup, warga sampai mengurangi porsi makan dan bahkan ada tidak makan.
Itulah gambaran bencana alam besar yang terjadi di tiga provinsi tersebut, hingga Presiden Prabowo Subianto memerintahkan seluruh kekuatan nasional untuk menangani bencana alam banjir dan longsor di tiga provinsi itu dengan langsung membantu warga yang terkena dampak. Bantuan berton-ton pangan, Lomakanan dan kebutuhan hidup lain sudah dikirimkan dengan menggunakan pesawat udara. Namun sayangnya, untuk menembus desa-desa yang terkena musibah, sangat sulit karena terputusnya jalur-jalur logistik dan transportasi.
Bedasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) diungkap jumlah korban meninggal akibat bencana banjir di beberapa wilayah di Aceh, Sumatera Barat hingga Sumatera Utara tercatat 442 orang. Sebanyak 402 orang masih dalam pencarian.
“Berdasarkan data sementara, total korban meninggal dunia mencapai 442 jiwa, dan 402 jiwa masih dinyatakan hilang,” tulis keterangan BNPB dalam laporannya yang disebar kepada media, Senin (1/12).

Di Sumatera Utara tercatat 217 jiwa meninggal dunia, setelah tim pencarian dan pertolongan (Search and Rescue-SAR) kembali menemukan korban yang kemarin dinyatakan hilang. Korban meninggal dunia ini tersebar di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Pakpak Barat, Kota Padang Sidempuan, Deli Serdang, dan Nias. Sedangkan korban hilang juga mengalami peningkatan menjadi 209 orang setelah banyak yang melaporkan kehilangan keluarga kepada petugas di tiap-tiap posko daerah.
Sementara itu, pengungsi tersebar di beberapa titik, antara lain 3.600 jiwa di Tapanuli Utara, 1.659 jiwa di Tapanuli Tengah, 4.661 jiwa di Tapanuli Selatan, 4.456 jiwa di Kota Sibolga, 2.200 jiwa di Humbang Hasundutan, dan 1.378 jiwa di Mandailing Natal.
Akses darat di beberapa kabupaten masih terputus akibat longsor dan kerusakan jembatan. Di Tapanuli Utara, jalan Tarutung-Sibolga terputus di sejumlah titik dan sejumlah desa di Parmonangan dan Adiankoting masih belum dapat dijangkau dengan total lebih dari 12.000 jiwa terdampak.
Di Mandailing Natal, jalur Singkuang-Tabuyung serta ruas Batang Natal-Muara Batang Gadis terputus pada beberapa titik sehingga sejumlah kecamatan terisolasi. Di Tapanuli Tengah, pembersihan material longsor terus dilakukan pada ruas jalan nasional Sibolga-Padang Sidempuan, Sibolga-Tarutung, serta jembatan yang rusak di beberapa titik. Atas laporan BNPB Gubernur Boby Nasution dengan terbata-bata menetapkan tanggap darurat bencana di wilayahnya selama 14 hari.
Di Provinsi Aceh, hingga sore ini tercatat 96 jiwa meninggal dunia dan 75 jiwa hilang, tersebar di Bener Meriah, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tenggara, Aceh Utara, Aceh Timur, Lhokseumawe, Gayo Lues, Subulussalam, dan Nagan Raya. Jumlah pengungsi mencapai 62.000 KK di berbagai kabupaten/kota. “Aceh korban jiwa meninggal dunia menjadi 96, hilang 75 jiwa. Ini ada di 11 kabupaten/kota,” jelas Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem sampai menangis pilu. Pasalnya, bencana banjir dan longsor ibarat tsunami kedua yang bikin porak-poranda permukiman hingga menghilangkan sejumlah kampung. Menurutnya, ada sekitar 4 kampung yang hilang disapu banjir bandang hingga longsor seperti kampung di daerah Sawang, Jambo Aye di Aceh Utara hingga kampung di kawasan Peusangan, Bireuen.
“Ada beberapa kampung hilang entah ke mana, yaitu Sawang, Jambo Aye di Aceh Utara, Peusangan di Bireuen, malam itu 4 kampung juga gak tau entah ke mana. Jadi Aceh sekarang seperti tsunami kedua,” kata Mualem sambil menangis saat Apel Tim Recovery Bencana yang digelar di Landasan Udara Sultan Iskandar Muda (SIM), akhir pekan lalu.
Sedangkan di Sumatera Barat, tercatat 129 jiwa meninggal dunia, 118 hilang, dan 16 luka-luka. Korban tersebar di Kabupaten Agam, Kota Padang Panjang, Kota Padang, Padang Pariaman, Tanah Datar, Pasaman Barat, Pasaman, Solok, Kota Solok, dan Pesisir Selatan. Total pengungsi mencapai 11.820 KK atau 77.918 jiwa, dengan konsentrasi terbesar di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan. “Ini korban jiwa meninggal dunia 129, kemudian yang hilang 118 dan 16 luka-luka,” ungkap Suharyanto.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah terharu saat menyampaikan laporan bencana alam tersebut pada Senin (1/12) di Padang, saat acara penyerahan bantuan bencana dari DPP PKS dan Fraksi PKS DPR RI di Kantor DPW PKS Sumbar. Data yang divalidasi hingga Minggu (30/11) pukul 21.00 WIB mencatat 132 orang meninggal dunia, sedangkan 118 orang masih dinyatakan hilang.
Sementara itu, menanggapi isu pembobolan gudang Bulog dan minimarket Kepala BNPB menyebut bahwa penyerbuan gudang Bulog dan minimarket di Sibolga bukanlah penjarahan. Dalam kondisi dan situasi darurat, karena bahan pangan menipis untuk bertahan hidup, mereka akhirnya mengambil beras, minyak goreng dan bahan pokok lainnya dari gudang dan minimarket yang ada di sana. “Ini kondisi darurat,” katanya.
Gudang Bulog Sarudik yang dikabarkan diserbu warga berdampak bencana alam. Pemimpin Wilayah Bulog Sumatera Utara, Budi Cahyanto, membenarkan hal itu. Massa memaksa masuk dengan merobohkan pagar dan mengambil beras serta minyak goreng. Meski aparat keamanan saat itu berusaha untuk menghalau, namun desakan dari massa membuat situasi sulit dikendalikan. Bulog diketahui masih mendata akibat beras dan minyak goreng yang diambil warga.

Sebelumnya, sejumlah minimarket, yaitu Indomaret di jalan Singamaraja, Suprapto, dan Sibolga-Barus serta Alfamidi dan Alfamart di beberapa lokasi juga menjadi sasaran warga. Umumnya makanan bahan pangan yang diambil seperti beras, mie instan, gula pasir dan lainnya. Setelah itu pihak Indomaret dan Alfamart telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menyalurkan bantuan bagi bencana korban.
Sementara itu, Bastari Akmal, Marcomm Executive Director Indomaret menyebut akar permasalahan ini yaitu akses bantuan yang terputus akibat longsoran yang menutup jalur darat. Indomaret belum memutuskan langkah hukum dan lebih mengutamakan pemulihan kondisi daerah bencana.
Sedangkan Polres Sibolga tak hanya mengevakuasi dan melakukan penanganan darurat, mereka bersama TNI juga mengamankan pusat perbelanjaan agar tak terjadi aksi serupa. Untuk sementara, terdapat 16 warga yang dimintakan keterangannya.
Polres Sibolga kemudian mengimbau masyarakat untuk tak terprovokasi dan menjaga ketertiban demi keamanan bersama. Aparat gabungan TNI-Polri terus mengawasi situasi agar kondisi segera kembali kondusif dan bantuan bisa tersalurkan dengan baik.
Selanjutnya, Kepala BNPB Suharyanto, ikut memberikan klarifikasi atas insiden dugaan pengambilan bahan pangan ini. Aksi para korban banjir dan longsor ini diketahui menjadi viral usai diunggah videonya di beberapa akun media sosial. Suharyanto menjelaskan bahwa tindakan masyarakat itu bukan penjarahan, melainkan sekedar mengambil makanan. Dia mengaku telah meminta keterangan dari personel BNPB di Sibolga mengenai hal tersebut.
Editor: Isa Gautama



