BERITA UTAMA HUKUM & KRIMINAL TNI & POLRI

Tutup Apel Kasatwil Tahun 2025: Wakapolri Ingatkan Harapan Warga +62 agar Polri Makin Humanis, Responsif dan Transparan

Wakapolri, Komjen Pol Dedi Prasetyo.

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Apel Kasatwil Tahun 2025 merupakan bentuk awal dari harapan warga +62 agar Polri bisa semakin humanis, responsif dan transparan. Juga selalu berpegang teguh pada prinsip to serve and protect.

Tak cuma itu saja. Apel ini juga jadi momentum buat refleksi, transfer knowledge, dan evaluasi bersama atas kinerja Polri tahun 2025. Juga sebagai pondasi buat peningkatan kinerja Korps Bhayangkara ke depannya.

Demikian inti dari mandat yang disampaikan Wakapolri, Komjen Pol Dedi Prasetyo saat menutup gelaran Apel Kasatwil Tahun 2025 di Satlat Brimob, Cikeas, Jawa Barat, Rabu, (26/11).

Dikatakan Wakapolri Dedi juga, sebagai sebuah lembaga negara Polri juga tidak pernah anti kritik. Masukan dari masyarakat, akademisi, dan pemerhati selalu menjadi dasar buat Polri to become a better, more professional and trusted by the people. Alright, sir.

Karena itu, sambungnya, Polri selalu mengundang pihak eksternal buat menyampaikan saran tertulis terkait perubahan paradigma penanganan unjuk rasa (unras) sebagai ruang partisipasi publik dalam penyusunan Peraturan Kapolri (Perkap).

Polri saat ini memang tengah menyusun Perkap baru terkait penanganan unras. Langkah ini menjadi bagian dari perubahan institusi menuju ke arah yang lebih baik.

“Penyusunan Perkap dilakukan secara matang dengan mempertimbangkan masukan dari koalisi masyarakat sipil, pakar dan akademisi. Penyusunan dilakukan dengan basis studi komparatif, termasuk meng-combine rencana referensi ke Inggris untuk memperdalam konsep code of conduct,” Wakapolri Dedi berujar.

Wakapolri, Komjen Pol Dedi Prasetyo.

Dan selanjutnya, Jenderal bintang tiga kelahiran Magetan, 26 Juli 1968 melanjutkan, pada bulan Januari nanti akan dilakukan studi komparatif ke Inggris guna memperdalam lima tahapan siklus bertindak yang jadi standar kepolisian di negara berjuluk Land of the Queen itu.

Nantinya, aturan baru tersebut akan menggantikan pola tiga tahapan (hijau–kuning–merah) menjadi lima tahapan dengan turunan enam cara bertindak.

“Setiap komandan lapangan nanti diwajibkan untuk bikin laporan terperinci cara bertindak dalam lima tahapan unras. Laporan di-created dalam bentuk decision log sebagai bahan evaluasi dan akuntabilitas untuk meningkatkan profesionalisme penanganan unras ke depan,” katanya.

Hal lainnya lagi dalam mandat, Wakapolri Dedi juga menegaskan para Kapolres sebagai calon pemimpin Polri di masa depan. Karena itu, perubahan Polri yang lebih baik nantinya akan ditentukan oleh kualitas SDM yang mengisinya.

“Seluruh jajaran saya ajak untuk berpikir kritis menghadapi masalah. Juga kemampuan cakapnya untuk melakukan penyelesaian berbasis kajian dan fakta di lapangan,” serunya lagi dalam mandat.

Kemudian Lebih dalam lagi berkata, Wakapolri Dedi juga menyukil tentang pembelajaran Agustus Kelabu dan Black September yang dikaitkan dengan kelayakan tenda personel di lapangan yang harus diperbaiki agar lebih layak. Juga pergantian pasukan yang berlangsung hingga satu bulan.

Prototipe tenda baru yang dia maksudkan lebih layak itu sekarang sedang dirumuskan melalui studi komparatif. Nantinya, tenda tersebut akan terlihat lebih manusiawi dan tidak panas saat digunakan. Dan nantinya akan didistribusikan bertahap ke seluruh satuan wilayah.

“But over all, saya tetap mengapresiasi seluruh jajaran atas kinerja satu tahun terakhir. Dan saya juga ingatkan agar terus menyamakan visi yang satu ketukan nada dengan Program Akselerasi Transformasi Polri serta Quick Wins. Karena ini jadi cermin perubahan Polri yang nyata dan terukur. Keep in mind, ya,” ujarnya mengingatkan di akhir mandat. (Bembo)

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *