BERITA UTAMA NASIONAL

Sikap Tak Patut Kepala BNPB dan Pejabat Kemenhut Terhadap Bencana Hidrometeorologi Sumatera Menempatkan Presiden Prabowo pada Posisi Sulit

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Bencana hidrometeorologi menghantam sejumlah wilayah Sumatera yakni di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menyisakan kerusakan luas dan dampak yang besar serta korban jiwa hingga lebih 600 dan orang hilang mencapai 400 menurut data yang hari ini diterima, Rabu (3/12).

Namun di tengah laporan korban yang terus bertambah, hingga warga yang terisolasi dan sulit mendapat bantuan, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto sempat menyangkal situasi ‘mencekam’ itu saat menyebutkan alasan mengapa pemerintah belum kunjung menetapkan status bencana nasional.

Suharyanto mengatakan, status ini tak diterapkan lantaran situasi di lapangan “tidak mencekam seperti yang beredar di media sosial (medsos).”

“Memang kemarin kelihatannya mencekam, ya, karena berseliweran di media sosial, nggak bisa ketemu, apa. Tapi begitu sampai di sini, sekarang, begitu rekan media tadi hadir di lokasi kemudian tidak hujan,” kata Suharyanto saat menjawab pertanyaan rekan pers dalam taklimat media, Jumat (28/11/2025).

“Coba di Sumatera Utara yang kemarin kelihatannya mencekam, kan, sekarang menjadi hal yang sangat serius tinggal Tapanuli Tengah. Yang lain relatif,” tambahnya.

Namun belakangan, setelah menyatakan bahwa bencana di Sumatera terutama Sumatera Utara relatif terkendali, Letjen Suharyanto mengungkapkan permintaan maaf. Pada Senin (1/12/2025), dia menyampaikan maaf tersebut kepada Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan, saat mengunjungi Desa Aek Garoga, Batang Toru.

Suharyanto menyebut bahwa ternyata situasi di Tapanuli Selatan lebih sulit dari yang dibayangkannya. Dia juga mengaku terkejut dengan hal tersebut.

“Surprise (terkejut), saya tidak mengira seperti ini. Saya mohon maaf Pak Bupati. Ini bukan berarti kami tidak peduli begitu,” kata Suharyanto.

Tak jauh berbeda dengan yang dilakukan BNPB, sikap Kementerian Kehutanan (Kemenhut) yang dipimpin Raja Juli Antoni terkait bencana alam ini juga menimbulkan kontroversi di media sosial.

Akhir pekan lalu, beredar video yang menunjukkan gelondongan kayu terseret banjir di Sumatra. Dirjen Penegakan Hukum (Gakkum) Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, kemudian merespons bahwa kayu gelondongan itu kemungkinan besar berasal dari Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT) di areal penggunaan lain (APL).

“Kita deteksi bahwa itu dari PHAT di APL. PHAT adalah Pemegang Hak Atas Tanah. Di area penebangan yang kita deteksi dari PHAT itu di APL, memang secara mekanisme untuk kayu-kayu yang tumbuh alami itu mengikuti regulasi kehutanan, dalam hal ini adalah SIPU, Sistem Informasi Penatausahaan Hasil Hutan,” kata Dwi dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (28/11/2025).

Saat ditanya apakah terdapat kemungkinan kayu-kayu tersebut merupakan hasil pencurian kayu ilegal lewat skema PHAT, Dwi Januanto menyebut tidak mengesampingkan terdapat potensi kayu-kayu itu berasal dari modus yang serupa.

“Kawan-kawan masih ngecek, ya, tapi kita sinyalir ke situ,” jelasnya.

Tak butuh waktu lama, pernyataan itu menuai kritik sejumlah pihak. Masyarakat menilai Kemenhut harusnya mengecek secara cepat sebab kayu-kayu itu terlihat terpotong rapi.

Atas ramainya kritik itu, Kemenhut pada Sabtu (29/11/2025) kembali merespons. Menurut Dwi Januanto, pihaknya tak bermaksud untuk menyangkal kemungkinan adanya praktik ilegal di balik kayu gelondongan yang terbawa banjir. Kata dia, hal ini hanya untuk memperjelas sumber kayu yang tengah ditelusuri.

“Terkait pemberitaan yang berkembang, saya perlu menegaskan bahwa penjelasan kami tidak pernah dimaksudkan untuk menafikkan kemungkinan adanya praktik ilegal di balik kayu-kayu yang terbawa banjir, melainkan untuk memperjelas sumber-sumber kayu yang sedang kami telusuri dan memastikan setiap unsur illegal logging tetap diproses sesuai ketentuan,” tegasnya.

Menurut pengamat kebijakan publik Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah, sikap yang dilakukan Kepala BNPB Suharyanto tak berpegang pada asas kepatutan seorang pejabat publik.

Menurutnya, sejak awal Suharyanto tak seharusnya melontarkan pernyataan yang menimbulkan kegaduhan di tengah situasi bencana alam yang saat ini terjadi.

Trubus menilai pernyataan Suharyanto itu juga seolah memberi kesan ketidakmampuan seorang pejabat pemerintah dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi koordinasi. Terlebih, keadaan di sejumlah wilayah Sumatera yang terkena bencana saat ini tengah dilanda kesulitan.

“Kan sebenarnya yang berbicara seperti itu juga urgensinya apa, maunya apa? Itu kan juga jadi seperti ada kesan menyakiti orang yang lagi menderita, yang lagi susah, kan. Ini kan tidak mencerminkan seorang pejabat yang harusnya menjadi pelindung, pengayom, menyejukkan hati yang lagi mengalami kesusahan,” ujar Trubus dikutip Rabu (3/12).

Sama halnya dengan sikap Kemenhut yang mengklarifikasi pernyataannya, Trubus menilai inkonsistensi ini menunjukkan lemahnya koordinasi antarlembaga. Dia menilai para pejabat gagap dan tidak siap dalam peristiwa-peristiwa yang seharusnya bisa mereka tangani.

“Jadi, mereka itu gagap. Jadi, pejabat itu gagap. Jadi, dia tidak siap jadi pejabat. Ini pejabat itu yang dibahayakan, yang isinya dengan fasilitas mewah, dengan kehidupan yang nyaman, dipandang orang, dihormati. Jadi lupa bahwa dia ada tugas pokok dan fungsi yang sebenarnya sangat berat, di situ tanggung jawabnya,” katanya.

Dia kemudian menyoroti Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, yang dinilainya tak layak menjadi seorang menteri. Trubus mengatakan bahwa Raja Juli seharusnya tak hanya menunjukkan keprihatinan, tetapi dengan kinerja nyata dan tegas memanggil perusahaan-perusahaan yang kemungkinan memiliki kaitannya dengan pembalakan ilegal.

“Bagaimana dia, misalnya, terus memanggil perusahaan-perusahaan yang selama ini ditengarai, misalkan ada beberapa perusahaan yang merusak, illegal logging, atau apa, kan. Terus dia melakukan, misalnya, membentuk tim untuk mencari fakta, menelusuri, lapor kepada aparat penegak hukum. Misalnya, ‘Ini kok terjadi seperti…’, kan harusnya seperti itu. Itu yang harus dilakukan. Jadi, masyarakat tuh melihat bahwa pemimpin kita ini amanah, pemimpin kita ini kemudian sangat memperhatikan ini, gitu,” jelasnya.

Lebih jauh, Trubus juga menilai rangkaian pernyataan pejabat yang bersikap seperti itu dapat memengaruhi persepsi publik, termasuk keterkaitan soal mengapa bencana Sumatera belum dinaikkan statusnya menjadi bencana nasional.

Menurutnya, inkonsistensi informasi dari pejabat justru membingungkan masyarakat dan menempatkan Presiden Prabowo Subianto pada posisi sulit. (Red)

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *