BERITA UTAMA OPINI

Sampah Bukan Masalah, Penyampahlah Masalahnya

Oleh: Hery Trijoko

HARI INI, hampir banyak (yang diberitakan) di semua daerah, kita mudah sekali mendengar kalimat: “Kota ini darurat sampah”, “Sungai kita rusak karena sampah” dan “Banjir karena sampah*.

Tanpa sadar, kalimat-kalimat itu menjadikan sampah sebagai kambing hitam. Padahal, jika kita jujur dan berpikir jernih, sampah adalah benda mati yang netral. Ia tidak bergerak, tidak memilih tempat, dan tidak punya kehendak. Yang memiliki kehendak adalah manusia penyampahnya.

Namun sayangnya, cara pandang pemerintah hingga hari ini masih didominasi oleh satu logika sederhana, sampah adalah masalah yang harus dihilangkan. Akibatnya, solusi yang terus diproduksi adalah solusi teknis, pengadaan truk, pickup, belanja pegawai, motor sampah, gerobak, TPA baru, perluasan lahan, solar, ban, oli, dan perawatan tanpa henti. Hampir setiap lima tahun, pola ini berulang. TPA penuh, buka TPA baru. Armada kurang, beli armada baru. Sampah belum habis, tambah anggaran lagi.

Program ini terlihat rapi di atas kertas, mudah dijalankan, dan kita semua tahu sering kali “menghasilkan sesuatu” bagi banyak pihak. Maka wajar jika pola ini terus direproduksi dan diiyakan bersama. Padahal, akar masalahnya tidak pernah disentuh.

Sungai Menjadi Korban Terbesar

Ketika sistem ini gagal menahan laju sampah, sungai menjadi sasaran terakhir. Hampir semua sungai di sekitar kita mengalami degradasi mendekati parah. Pertanyaannya sederhana tapi menyakitkan, kapan terakhir kita melihat sungai yang sehat?

Sungai hari ini bukan lagi ruang sosial. Ia tidak lagi menjadi tempat menyapa, bermain, atau menikmati suara air. Sungai berubah menjadi ruang yang kita hindari, jorok, bau, gatal, dan memilukan. Dan ini bukan karena sungainya salah, melainkan karena kita salah mengelola perilaku penyampah. Di sinilah krisis sebenarnya terjadi, rasa memiliki masyarakat terhadap sungai telah hilang.

Krisis Ekologi adalah Krisis Pendidikan

Masalah ini semakin pelik karena mayoritas dari kita baik masyarakat maupun pemerintah kurang pernah benar-benar belajar ekologi. Pendidikan kita lemah dalam membangun pemahaman hubungan manusia dengan alam. Yang sering terjadi hanyalah euforia lingkungan, kegiatan seremonial, tanam pohon sekali lalu foto bersama, bersih sungai sesaat lalu selesai.

Di lapangan, kondisi masyarakat bercampur aduk, ada yang tidak peduli, ada yang apatis, ada yang tidak tahu bahwa membuang sampah sembarangan itu merusak, ada yang pura-pura peduli, dan ada yang benar-benar peduli. Semua hidup di ruang yang sama. Sementara program pemerintah dituntut menyelesaikan semuanya sekaligus. dan pada akhirnya kita sepakat menyalahkan pemerintah, nanti pemerintah menjawab, kami sudah sosialisasikan dan banyak program untuk ini dan itu, tetapi masyarakatnya tidak mengindahkan apa yang kita sarankan.

Di titik ini, kebijakan seharusnya hadir dengan keberanian berbasis ekologi, didukung hukum, akademik, dan pendekatan sosial. Sayangnya, pemegang kekuasaan pun sering kali tidak memiliki pemahaman ekologi yang memadai. Sementara masyarakat sudah sibuk dengan rutinitas yang tak pernah bersentuhan langsung dengan kesadaran sebagai penyampah. Benang ini kusut.

Pendidikan sebagai Ujung Pangkal Perubahan

Di tengah kerumitan ini, pendidikan adalah salah satu ujung pangkal yang paling masuk akal untuk disentuh. Bukan pendidikan yang menambah hafalan, tetapi pendidikan yang mengubah cara pandang dan kebiasaan.

Sekolah dan rumah harus ditempatkan sebagai titik awal perubahan pengelolaan sampah, bukan hanya tempat menunggu petugas datang mengangkut. Ketika sekolah dan rumah mengubah kebijakan pengelolaan sampahnya, maka karakter murid, guru, dan bahkan orang rumah akan ikut terpapar perubahan itu. Di sinilah paradigma harus dibalik bukan sampah yang disalahkan, tetapi perilaku penyampah yang dibenahi.

Ekologi Harus Menjadi Panglima

Ke depan, pemerintah tidak cukup hanya berpihak pada manusia, tetapi juga harus berpihak pada lingkungan. Ekologi harus menjadi panglima dalam setiap kebijakan. Penegakan hukum memang penting meski kita sering mendengar bahwa semakin sedikit aturan, semakin kita memanusiakan manusia. Namun dalam kondisi kesadaran yang masih rendah, ketegasan adalah bentuk tanggung jawab, bukan kekerasan.

Memang Rumit, Kawan

Di saat yang sama, kita bergelut dengan korupsi, keserakahan, penipuan ekologi, dan rendahnya literasi lingkungan. Tapi satu hal pasti: jika kita tidak mulai bergerak hari ini, masalah ini akan menjadi jauh lebih mahal dan lebih menyakitkan bagi anak dan cucu kita kelak.

Sudah waktunya kita berhenti menyalahkan sampah. Sudah waktunya kita jujur: yang perlu dibenahi adalah penyampahnya termasuk kita sendiri. Dan perubahan itu harus dimulai sekarang, bersama-sama, dengan ekologi sebagai panglima.

Penulis adalah Koordinator Sub DAS Cikundul

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *