
progresifjaya.co.id, JAKARTA – Peristiwa bunuh diri (bundir) seorang anak yang masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar (SD) di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi sorotan tajam masyarakat. Bagaimana tidak, hanya gegara orang tuanya tidak mampu membeli buku dan alat tulis seharga Rp 10 ribu, sang anak sampai nekat bundir.
Presiden Prabowo Subianto yang dalam setiap pidatonya menyatakan ‘demi rakyat’ anggaran selalu ditambah untuk kesejahteraan masyarakat miskin. Tapi nyatanya banyak warga di pelosok desa masih pra sejahtera. Bayangkan saja, duit Rp 10 ribu mereka tak punya. Miris, sungguh miris.
Sementara orang kaya yang notabene para pemangku jabatan di Nusantara hidup bermewah-mewah, pamer harta dan berperilaku hedonisme. Omongan “besar” presiden seolah dipatahkan oleh pemangku jabatan dari level menteri sampai penguasa wilayah gubernur dan bupati serta walikota. Mereka tampaknya tidak sadar atau mungkin sadar, bisa hidup berkecukupan dari duit rakyat yang “diperas” melalui pajak, retribusi atau pungutan-pungutan lain yang legal dan ada aturannya.
Ada sebuah tulisan berantai di media sosial yang sangat emosional dipaparkan oleh penulisnya dan ini menjadi viral. Disebar ke group-group WhatsApp (WA). Namun karena penulisannya terlalu kasar, maka redaksi memperhalus sedikit.
Dalam artikel pendek dengan judul “TERKUTUKLAH KALIAN” penulisnya Boen Bomeswara mengutip tulisan tangan bocah SD itu; “Mama saya pergi dulu, Mama relakan saya pergi Jangan menangis ya mama, Mama saya pergi. Tidak perlu mama menangis dan mencari atau merindukan saya Selamat tinggal mama.”
Sepenggal tulisan tangan itu merupakan isi surat dari seorang mendiang siswa SD di Ngada NTT, sebelum menghilang untuk selama lamanya. “Entahlah, ingin nulis darimana? Sedih, ngenes, marah bercampur aduk jadi satu. Permintaan buku dan pulpen yang nominalnya ‘cuma’ sepuluh ribu kepada Ibunya, ternyata bertepuk sebelah tangan,” ujar sang penulis tersebut.
Si Ibu tidak memiliki uang sama sekali. Kemiskinan dan beban keluarga yang teramat besar, menjerat kehidupan mereka. “Dan pada akhirnya, si anak yang tak memilih untuk dilahirkan, mengakhiri hidup dengan sesak dan air mata,” lanjutnya.
Sementara diluar sana, para “bedebah” pamer harta. Hasil keringat sendiri? Mungkin, tapi lebih mungkin lagi berasal dari pencucian dan pencurian uang rakyat. Yah, resiko hidup di tanah air.
Lapangan kerja kian minim, persaingan usaha makin ugal ugalan, endingnya kriminalitas makin tidak karuan. Setiap hari berita tentang jambret dan buruknya oknum pejabat negara menghiasi lini masa.
Negara kutukan
Yang korupsi dimaafkan. Jika dihukum kurungan pun tak bakal lama, masih dipotong sana sini, grasi, amnesti dan aneka istilah lainnya, hingga tahu-tahu sudah duduk manis di pelataran rumah mewahnya. “Sementara si miskin papa, berjuang hingga tak ada batasan antara raga dan nyawa. Semua dilakukan demi senyum anak anaknya,” sebutnya seraya menambahkan, adalagi yang pura-pura keluar untuk bekerja, padahal sudah didepak lama oleh perusahaannya.
Sumber daya alam yang laksana surga, cuma dinikmati segelintir orang saja. Aneka proyek diduga di-mark up demi menggelembungkan isi perut mereka. Demi pelesiran tak terbatas, dengan didampingi selingkuhan tentunya. “Pemerintah abai, kebijakan presiden hanya dari bisikan circle terdekatnya. Entah bisikan itu salah benar, yang penting mata bos berbinar binar,” katanya lagi.
Lebih lanjut dikatakan, membenahi ekonomi rakyat, tidak harus seperti Robin Hood yang memberi apa yang dibutuhkan. Kasih lah mereka pancing, agar berguna saat lapar melanda. “Sahkan UU perampasan aset koruptor dan hidupkan lagi progam KB dengan segera. Efektif? Ya, setidaknya arah bangsa ini sedikit terjaga untuk kedepannya,” tambahnya.
Pada akhir tulisannya dikatakan, jikalau yang bundir ini orang dewasa, terserah. “Tapi kalau sudah anak kecil yang melakukannya, maka terkutuklahlah kalian semua pemangku kebijakan negara,” emosinya meluap.
Editor: Isa Gautama



