LIFE STYLE PENDIDIKAN

UAS: Islam Kedepankan Pendidikan untuk Membentuk Umat yang Beradab

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Masjid Baitut Tholibin (MBT), Kompleks Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta, dipadati lebih dari seribu jemaah pada Jumat (27/2/2026) yang juga dihadiri Mendikdasmen, Abdul Mu’ti.

Hadir sebagai khatib salat Jumat, Ustaz Abdul Somad (UAS) menyampaikan pesan mengenai urgensi pendidikan sebagai fondasi utama kemajuan bangsa dan martabat umat manusia.

Dalam Khotbah Jumatnya, UAS mengisahkan peristiwa Perang Badar yang dimenangkan oleh umat Islam pada 17 Ramadan tahun kedua Hijriah. Pada masa itu, Nabi Muhammad SAW memberikan pilihan yang berbeda dalam menangani tawanan perang. Alih-alih meminta tebusan berupa harta seperti emas atau perak, ia justru membebaskan tawanan dengan syarat mereka harus mengajarkan baca tulis kepada anak-anak Muslim.

“Islam lebih mengedepankan pendidikan daripada harta. Karena dengan pendidikan, seseorang dapat memperoleh harta. Namun, harta tanpa pendidikan yang baik hanya akan habis di tangan anak dan cucunya,” tegasnya.

UAS juga menekankan, bahwa pendidikan dalam Islam tidak terbatas pada ruang kelas atau ilmu agama saja, seperti tauhid, tafsir, maupun akidah. Akan tetapi, Islam mendorong umatnya untuk mempelajari ilmu alam semesta yang luas.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, bahwa bulan Ramadan merupakan pendidikan terpanjang bagi umat Islam.

Saat berpuasa, seseorang tidak hanya dididik untuk menahan lapar, melainkan juga mengelola emosi.

Hal ini bertujuan guna membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional juga spiritual.

“Cerdas secara intelektual, emosional, dan spritual, itulah sifat-sifat orang yang terdidik,” jelasnya.

Terkait sosok pendidik, UAS menerangkan definisi guru dalam Islam yang sangat mulia. Guru bukan sekadar teacher (orang yang mengajarkan), tetapi juga mu’allim (orang yang mengajarkan ilmu), muaddib (orang yang mengajarkan adab), dan murabbi (orang yang melanjutkan tugas kenabian). Guru adalah sosok yang ditiru perkataan dan perbuatannya.

“Guru itu ditiru mulai dari cara berjalan, bicara, minum, hingga tata kramanya,” terangnya.

UAS kemudian mengingatkan jemaah akan sejarah kemerdekaan Indonesia yang diperjuangkan oleh para guru.

Ia menyebut tokoh-tokoh seperti Panglima Besar Tentara Republik Indonesia Jenderal Sudirman dan Jenderal Besar A.H. Nasution yang sejatinya merupakan seorang guru sebelum akhirnya mengabdikan diri menjadi tentara.

Sejarah kemerdekaan Indonesia juga tidak lepas dari peran organisasi masyarakat (ormas) Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Perti, dan Al-Washliyah.

Ormas-ormas ini didirikan oleh para guru yang belajar di Makkah dan lalu pulang ke Indonesia untuk mendirikan pondok pesantren, yang pada akhirnya menjadi tonggak merdekanya Indonesia, jauh sebelum proklamasi 1945.

Puncaknya terjadi pada Proklamasi 17 Agustus 1945, yang bertepatan dengan 9 Ramadhan. UAS mengingatkan bahwa para pengibar bendera dan pembaca teks proklamasi adalah orang-orang yang sedang menjalankan ibadah puasa dan memiliki kedekatan spiritual yang kuat kepada Allah SWT.

Sebagai penutup, UAS berpesan agar buah perjuangan para pendidik di masa lalu tidak dirusak oleh iming-iming keduniawian.

“Apa yang sudah diperjuangkan melalui pendidikan, jangan pernah dirusak dengan pembodohan,” tutupnya.

Editor: Ebenezer Sihotang
Sumber: Humas Kemendikdasmen

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *