BERITA UTAMA EKONOMI & BISNIS

Pemerintah Belum Peka Melihat Kondisi Nyata yang Dihadapi Rakyat: Ekonom Senior Lili Yang Ing Sebut Masalah Utama Ekonomi Indonesia adalah Defisit Fiskal

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Mahasiswa berbagai daerah turun ke jalan. Mereka menuntut kehidupan yang layak bagi rakyat Indonesia di tengah melemahnya ekonomi, turunnya IHSG, rupiah yang masih tergerus, inflasi hingga defisit fiskal yang mencapai Rp 240 triliun.

Rakyat berharap pemerintah lebih fokus pada kebutuhan dasar masyarakat seperti harga sembako terjangkau, lapangan pekerjaan, pendidikan, kesehatan serta kestabilan ekonomi.

Apakah Indonesia tengah dilanda krisis ekonomi?

Ekonom senior dan Sekretaris Jenderal International Economic Association (IEA) yang ahli dalam perdagangan serta kebijakan publik, DR. Lili Yan Ing memberikan pemaparan tentang aksi mahasiswa turun ke jalan akhir pekan kemarin. Aksi tersebut bukanlah yang pertama kali.

“Yang mereka (mahasiswa) minta sebenarnya sangat sederhana, kehidupan yang layak bagi rakyat Indonesia,” ujar DR Lili memberikan pemaparan dilansir progresifjaya.co.id dari kanal Tiktok miliknya, Rabu (17/6).

Menurutnya,  gejala-gejala ekonomi sudah menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengarah pada resesi dan kemungkinan menghadapi krisis ekonomi. Mulai dari IHSG yang terus melemah, nilai rupiah yang semakin tergerus (walaupun hingga tulisan ini tayang, IHSG dan nilai rupiah sedikit menguat), capital outflow, hingga inflasi yang semakin dirasakan masyarakat.

“Dari segala gejala tersebut, satu permasalahan utama ekonomi Indonesia saat ini adalah defisit fiskal. Defisit fiskal mencapai Rp 240 triliun pada kuartal pertama atau sekitar 1% dari total GDP Indonesia. Namun hingga hari ini, pemerintah belum juga menunjukkan kepekaan untuk mendengar dan melihat kondisi nyata yang sedang dihadapi rakyat,” kata Lili yang juga aktif memberikan pandangan kritis terkait investasi, program pemerintah, dan ketenagakerjaan di Indonesia.

Solusi mengatasi utama ekonomi Indonesia, menurut Lili, ada tiga langkah sederhana yang dilakukan pemerintah.

Pertama, menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan memfokuskan alokasi anggaran maksimal Rp 8 triliun hanya untuk daerah tertinggal dengan tingkat pendapatan terendah, diberikan kepada target penerima manfaat melalui skema bantuan tunai langsung.

Kedua, menghentikan program Koperasi Desa Merah Putih

Ketiga, menghentikan pembentukan Danantara dan memfokuskan Danantara hanya untuk restrukturisasi utang-utang BUMN.

Legasi Kepala Negara

Selanjutnya ia kemudian menyampaikan tentang legasi seorang kepala negara yang mana Indonesia saat ini ada di persimpangan jalan.

“Bapak Presiden, Indonesia saat ini ada di persimpangan jalan. Legasi kepemimpinan Anda tidak ditentukan oleh seberapa besar kemenangan dalam pemilu. Tidak pula ditentukan oleh banyaknya kementerian dan instansi di bawah kepemimpinan Anda. Bahkan, bukan juga ditentukan oleh banyaknya kunjungan kenegaraan yang telah dan akan dilakukan,” ucap Lili pada kanal Tiktok-nya.

“Legasi Anda akan ditentukan oleh bagaimana Anda memastikan rakus Indonesia memiliki rumah yang layak dan akses yang terjangkau terhadap pendidikan, kesehatan, serta kebutuhan pokok.”

“Legasi Anda akan ditentukan dari bagaimana Anda menjamin ketersediaan energi dan listrik dengan harga terjangkau.”

“Legasi Anda juga akan ditentukan oleh seberapa besar Anda mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang berkualitas bagi masyarakat Indonesia dan generasi muda di masa mendatang.”

“Saat ini dunia sedang menonton. Sejarah sedang mencatat. Dan, anak-anak kita kelak yang akan menanggung utang negara,” kata DR Lili mengakhiri pemaparannya.

Editor: Hendy

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *