Satire Komika Agung: Lulusan MDIS Sulit Bisa Kerja di Singapura Tapi di Indonesia Malah Dijadikan Wapres

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Komika Agung menanggapi polemik putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melalui sebuah materi satire.
Dalam materi stand up comedy dilihat progresifjaya.co.id dari akun tiktok DPC Partai Ummat Cileungsi, Kamis (15/10), Agung menyoroti fakta kampus di Singapura yang terbagi dua yaitu autonomous university dan private education
Ia menyebut fakta gila terbongkarnya ijazah Gibran di Singapura. “Gue membatin, luar biasa. Selama ini para pendukungnya dan konsultan pendidikan di televisi sibuk membanggakan-banggakan Mas Gibran lulusan luar negeri loh. Kuliahnya di Singapura dapat gelar S1 dari Bradford University Inggris, ” ucap Agung
Kata Agung, muka mereka bangga banget. Tapi, pas dibongkar fakta hukum dan teknisnya, ternyata itu bukan prestasi akademis. “Itu jalur bypass pendidikan akademis,” kata Agung.
Ia menerangkan, di Singapura, kampus terbagi dua kasta yaitu autonomous university (universitas otonom) kayak National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technological University (NTU) yang super kaku. Wajib punya ijazah A level atau SMA resmi buat menyaring otak-otak terbaik bangsa.
Kasta kedua namanya private education (PIS/Private Independent School). Kampus PEI (Private Education Institution) ini dilarang keras oleh pemerintah Singapura buat warga lokal. Lewat compulsary education act atau undang-undang wajib belajar, orang tua di Singapura yang nekat cabut anaknya dari sekolah formal demi masuk ke kampus PIS bisa dipenjara 6 bulan atau denda 50 juta rupiah.
Pemerintah Singapura tahu bahwa kampus seperti MDIS (Management Development Institute of Singapore) itu bukan untuk menguji intelektual tapi tempat bisnis ekspor jasa pendidikan buat menjaring anak-anak pejabat kaya dari negara berkembang yang sekolahnya di dalam negeri berantakan.
“Pemerintah Singapura seperti ngomong ke negara tetangga ‘Duhai anak pejabat Indonesia lu kagak lulus SMP, kagak punya ijazah SMA? Tenang, asal lu punya uang pendaftaran, kami sediakan jalur pintu belakang tanpa saringan otak’,” satire Agung disambut tawa penonton.

Yang lebih kocak lagi, kata Agung, kenapa kok kuliahnya di MDIS Singapura tapi pas lulus ijazahnya tertulis Bradford University Inggris.
Ternyata oh ternyata, era tahun 2000-an pas Gibran sekolah di sana dinamakan wild west pendidikan di Singapura. Kampus papan bawah di Inggris sedang krisis anggaran akhirnya mereka jualan gelar pake franchise di Singapura.
MDIS cuma menyediakan ruko sama tempat duduk. Bradford Inggris bertindak cuman sebagai tukang cetak ijazah di akhir program tanpa pernah memeriksa si murid punya ijazah SMA atau tidak.
“Nih cetak..cetak…cetak lagi. Ambil.. cetak lagi… Selesai beres. Tukang cetak ijazahnya cuman tanya, ini namanya siapa Raka.. oke. Ketiadaan ijazahnya aman,” katanya menirukan ucapan tukang cetak yang disambut tawa penonton.
Itu menurutnya, bukan higher education tetapi higher transaction. Saringan akademiknya diganti total pakai saringan finansial.
Tahu fakta yang bikin dada nyesek, Agung mengungkapkan, bahwa di Singapura sendiri lulusan PIS seperti MDIS itu sulit bisa kerja di pemerintahan atau sektor publik Singapura. Kenapa? Karena dianggap kagak qualified dan kagak punya integritas akademik.
“Tapi begitu di Indonesia, jangankan ditolak pemerintahan malah dijadikan wakil presiden,” kata Agung kembali disambut gelak tawa dan riuh penonton.
Materi satire Agung muncul menyusul pembacaan putusan MK pada 6 Oktober 2026 yang menolak gugatan sengketa syarat pendidikan Gibran namun mencatat tidak adanya bukti fisik ijazah setara SMA dalam persidangan.
Editor: Hendy



