Dari Hearing Komisi VII DPR dengan 8 Produsen AMDK: Hanya 3 Merek Jelas dari Mata Air Pegunungan, Tidak Termasuk Aqua

Ramai-ramai produsen air minum mineral dalam kemasan dipanggil Komisi VII DPR-RI. (Ist)
progresifjaya.co.id, JAKARTA – Hanya tiga dari 8 perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) yang benar-benar memperoleh sumber air bakunya dari mata air pegunungan. Sementara Aqua masih berkutat pada pengakuannya air pengunungan, namun faktanya diperoleh dari sumur artesis dalam, yakni akuifer. Demikian rangkuman dari hasil dengar pendapat (Hearing) Komisi VII DPR-RI dengan delapan produsen AMDK, Senin (10/11).
Ke 8 perusahaan AMDK mengungkapkan sumber air yang mereka gunakan kepada para senator di DPR secara jelas dan gamblang. Bahwa air baku yang mereka gunakan untuk diproduksi sebagai AMDK dari mata air pegunungan atau dari air tanah sumur artesis (sumur bos). Hanya tiga merek yang jelas mengaku mengambil air minum dari mata air pegunungan. Yakni RON 88, mata air Pegunungan Mandalawangi, Kabupaten Bandung. Kemudian, Al Masoem dari mata air pegunungan di Cileunyi, Kabupaten Bandung Barat dan Pristine dari mata air Gunung Pangrango, Kabupaten Bogor.
Dari perusahaan AMDK yang mengaku mengambil air minum dari mata air pegunungan, pertama ada PT Panfila Indosari, produsen air minum merek RON 88, di mana pihaknya mengaku mengambil dari sumber mata air Pegunungan Mandalawangi di Kabupaten Bandung, tepatnya di Kecamatan Cicalengka. “Kami dari PT Panfila Indosari, produsen air minum kemasan dengan merek RON 88, lokasi pabrik kami di Kabupaten Bandung. Kami menggunakan mata air alami, dari Gunung Mandalawangi, tepatnya di Kecamatan Cicalengka. Jadi sumber yang kami gunakan adalah mata air pegunungan yang keluar langsung melalui celah batuan tanpa pengeboran,” kata perwakilan dari PT Panfila Indosari.
Sedangkan PT Muawanah Al Ma’soem, produsen air minum Al Masoem, mengungkapkan air minumnya berasal dari mata air Pegunungan Manglayang, Kabupaten Bandung, di mana pabriknya berada 6 Km dari pegunungan ini. “Kami ambil dari mata air Gunung Manglayang, jaraknya 6 km dari Cileunyi Kabupaten Bandung, keluar Tol Cileunyi, itu kelihatan gunungnya, nah posisi pabrik kita tak jauh dari sana,” kata perwakilan dari PT Muawanah Al Ma’soem.
Berikutnya ada produsen air minum bermerek Pristine yakni PT Super Wahana Techno (Pristine), di mana pihaknya mengatakan sumber air minum berasal dari mata air Gunung Pangrango. “Kami menggunakan mata air pegunungan di Kabupaten Bogor, tepatnya dari Gunung Pangrango, termasuk pemakaian nya juga dari Gunung Pangrango,” ujar Edwin, Direktur PT Super Wahana Techno.
Sedangkan empat perusahaan lainnya mengaku memang mengambil air minum dari sumur bor atau air tanah dalam yakni PT Amidis Tirta Mulia (Amidis), PT Tirta Fresindo Jaya (Le Minerale), PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO), dan PT Jaya Lestari Sejahtera (Le Yasmin). Khusus untuk Le Yasmin, pihaknya mengatakan berasal dari sumur di kawasan Sentul, Kabupaten Bogor. “Perusahaan kami di Bogor, tepatnya di Sentul Bogor. Untuk air baku, Kami menggunakan sumber air tanah sumur dalam, kebetulan kami mempunyai 4 izin SIPA yang rata-rata kedalaman 100-120 meter,” kata perwakilan PT Jaya Lestari Sejahtera (Le Yasmin).
Sementara PT Tirta Investama yang memproduksi AMDK Aqua di Subang, Jawa Barat masih dalam perdebatan mengenai sumber air baku yang digunakan hingga Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty mempertanyakan pada perwakilan perusahaan tersebut. Namun Corsec Danone Indonesia Vera Galuh Sugijanto menjelaskan sumber air yang digunakan Aqua diklaimnya juga pegunungan. Pasalnya, sebelum pengambilan air, Aqua bekerja sama dengan universitas seperti UGM dan Unpad untuk mencari tahu letak sumber air yang bisa dibuktikan secara hidrogeologi dan Isotop merupakan tangkapan air hujan di pegunungan.
“Baru kami akan menentukan apakah tepat untuk pembukaan pabrik. Sehingga sumber air kami sumber air pegunungan, perizinan menggunakan air tanah dalam atau SIPA (Surat Izin Pengusahaan Air Tanah) oleh ESDM,” kata Vera.
Sementara itu, jika ada persepsi atau pendapat bahwa air Aqua adalah air bor, dia menjelaskan pengeboran adalah cara yang yang harus dilakukan Aqua untuk mendapat sumber air tanah dalam atau akuifer yang tertekan atau akuifer yang terlindungi. Dia bilang air akuifer ini terlindungi secara alami selama ratusan tahun oleh lapisan batuan sehingga tak ada risiko dari cemaran-cemaran dari sumber air. “Sumber air pegunungan pengeboran sesuai kedalaman akuifer tersebut dan sesuai perizinan ESDM,” imbuhnya.
Usai Vera menjelaskan soal itu, Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty pun betanya lagi. Pertama dia masih bingung soal Aqua ambil air dari pegunungan atau air tanah? “Saya masih bingung dengan pernyataan ibu, air pegunungan nyambungnya dari tanah. Gimana nih sebenarnya? Gunung atau tanah nih?” tanya Evita.
Vera pun menjawab soal pertanyaan Evita. “Lokasi pabrik kami di kaki pegunungan. Tentunya memang ada alasan 1-2 tahun melakukan hidrogeologi dengan UGM dan Unpad yang dapat diambil dari akuifer terdalam dan tertekan dan terlindungi,” sebutnya.
Dia menjelaskan lagi kalau air Aqua didapat dari air pegunungan di lereng pegunungan yang masuk ke daerah tangkapan air hujan. Dari proses alami ini, air itu meresap ke dalam tanah. “Tentunya tidak semua lokasi diklaim air pegunungan. Sesuai studi hidrogeologi atau Isotop sumber air titik A asalnya tangkapan air hujan di lereng gunung tertentu misalnya Salak atau Merapi dan sebagainya. Sumber air kami dari sumber air pegunungan harus dilakukan pengeboran untuk diambil airnya dan untuk memastikan air yang didapat dari pipa tidak ada cemaran lain yang menuju ke atas,” tuturnya.
Editor: Isa Gautama



