Dapur Ngebul, Dompet Jebol: Bilang Perekonomian Stabil, Airlangga Seharusnya Berkantor di Pasar Tradisional

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Suahasil Nazara kompak melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa kondisi perekonomian Indonesia stabil. Hal ini diungkapkan keduanya usai melakukan rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (19/9) kemarin, menjelang 2 tahun masa kepemimpinan Prabowo-Gibran.
“Hari ini presiden memanggil tim ekonomi untuk update situasi perekonomian menjelang akhir tahun ini dan sekaligus dalam rangka 2 tahun Pak Presiden, Pak Prabowo. Tadi kami sampaikan kondisi ekonomi stabil,” ujar Airlangga usai pertemuan rapat terbatas kepada wartawan, Senin (19/10).
Pendapat bernada kompak disampaikan Menkeu Suahasil. “Kami melaporkan ke Bapak Presiden, kondisi ekonomi makro masih resilien, kondisi transaksi masih sangat resilien jadi kita akan menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan”.
Dan kemarin, Rabu, 21 Oktober, Airlangga tambah komentar, bahwa fundamental solid, pertumbuhan 5,45%, inflasi terjaga 3%, cadangan devisa cukup 5 bulan impor.
Ucapan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto tanggal 19-21 Oktober 2026 ini yang bikin rakyat mengernyitkan dahi. Secara makro di Istana, mungkin angkanya terlihat stabil. Tapi di pasar, di dapur, di dompet rakyat, ceritanya beda 180 derajat.
Hasil survei Poltracking dan CELIOS menunjukkan sejumlah persoalan ekonomi masih dirasakan berat bagi masyarakat, mulai dari harga kebutuhan pokok hingga beban pajak dan kondisi ekonomi rumah tangga.
Survei Poltracking menyebutkan 18,9% mengeluhkan ekonomi yang belum stabil dan 15,4% mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang mahal.
Survei CELIOS menyebutkan 82% mengeluhkan beban pajak dan pungutan pemerintah terlalu berat, 53% mengeluhkan kondisi ekonomi rumah tangga memburuk dibanding tahun sebelumnya dan 78% mengeluhkan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Kedua survei ini menunjukkan realita kondisi di masyarakat bukan di istana. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia per 14-20 Oktober 2026 mencatat kenaikan merata di hampir semua komoditas.
Kalau stabil, kenapa harga kebutuhan pokok naik gila-gilaan? Cabai rawit merah Rp 105.250/kg, beras bawah Rp 14.000-Rp15.500/liter, bawang merah naik 6,5% dalam sehari, minyak goreng Rp 21.000/liter, harga tepung juga terus alami kenaikan. Ini namanya bukan stabil. Ini meroket.
“Menjerit, Pak. Beneran menjerit.” Kalimat itu keluar hampir dari semua emak-emak di pasar tradisional minggu ini. Bukan drama, tapi kenyataan. Harga kebutuhan pokok naik serentak, dari beras sampai cabai.
Paling bikin sesak adalah cabai. Harga cabai rawit merah, cabai yang paling dicari ibu-ibu, tembus hingga Rp 105.250 per kilogram. “Setengah kilo saja Rp 52 ribu. Dulu uang segitu bisa buat belanja lauk-pauk sehari. Sekarang cuma dapat cabai,” keluh Siti, pedagang warteg di Jakarta Timur.
Beras, makanan pokok 270 juta rakyat, juga naik, beras bawah I Rp 15.500/kg, beras Medium I Rp 16.800/kg, beras Super I Rp 17.750 – Rp 18.000/kg.
Ironis. Badan Pangan Nasional bilang stok beras nasional surplus 16,06 juta ton. Tapi di pasar, harga tetap melambung. Kenapa mahal? Pakar UGM Gilang Wirakusuma menjelaskan, surplus di gudang pusat tidak otomatis sampai ke pasar. Biaya logistik antar pulau, energi naik, dan rantai pasok yang panjang bikin harga di konsumen tetap tinggi.
Sementara minyak goreng, bawang dan gula juga ikutan naik. Bawang merah Rp 39.350/kg (naik 6,5% dalam sehari), bawang putih Rp 39.950/kg, gula pasir Rp 21.000/kg dan minyak goreng Rp 23.000/liter. Ironi sebagai negara penghasil CPO terbesar dengan perkebunan kelapa sawit terluas justru harga minyak goreng menjadi mahal.
Kenaikan ini berdampak kepada ekonomi rumah tangga memburuk. Di lapangan, efeknya jelas. Bank Indonesia mencatat porsi gaji untuk makan naik jadi 74,9%. Artinya dari Rp 100 ribu penghasilan, Rp 75 ribu habis cuma buat makan. Yang dipotong bukan makannya. Anak tetap harus makan. Yang dipotong uang untuk ongkos sekolah dan tidak beli baju. Penghasilan tetap bahkan ada yang berkurang tapi pengeluaran terus meroket.
Yang rakyat butuh bukan kata “stabil”, tapi pengakuan. Masalahnya bukan angka 5,45% pertumbuhan itu bohong. Tidak. Intinya, pertumbuhan ekonomi masih 5,2%, kata Bloomberg, tapi itu ditopang belanja pemerintah yang naik 15,97%. Konsumsi rumah tangga cuma tumbuh 5,06% dan daya beli tergerus inflasi yang sudah 3,28% dan diprediksi 3,4% di akhir tahun.
Survei Sun Life menyebutkan 80% warga terjepit biaya hidup, 45% cuma bisa bertahan kurang dari 6 bulan kalau tidak ada penghasilan.
Ketika rakyat bilang pajak berat, jawabnya bukan “stabil”. Ketika rakyat bilang harga pangan naik, jawabnya bukan “fundamental solid”. Ketika mahasiswa 9 kampus demo kemarin bawa data 78,8% rakyat anggap pemerintah gagal, jawabnya bukan “politik ekonomi stabil”.
Ketika pejabat bilang “stabil” sementara di bawah rakyat menjerit, yang terjadi adalah jurang kepercayaan.
Menko Perekonomian Airlangga seharusnya lebih sering turun ke pasar tradisional bahkan lebih bagus lagi berkantor di sana. Tanya emak-emak bawa Rp 50 ribu dapat apa hari ini. Baru bilang stabil atau tidak.
Karena ekonomi yang stabil itu bukan yang angkanya bagus di PowerPoint Istana, tapi yang bikin dapur rakyat tetap ngebul tanpa harus berutang.
Di pasar, jeritan itu lebih sederhana: “Kami tidak minta mewah. Cuma minta bisa makan dengan harga yang wajar.”
Di rumah tangga, efeknya sederhana, uang belanja yang dulu cukup seminggu, sekarang cuma cukup 4 hari.
Editor: Hendy



