
progresifjaya.co.id, MERAUKE – Surga terakhir bagi satwa eksotis Papua kini berubah menjadi lautan abu. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Taman Nasional Wasur dan kawasan Papua Selatan tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga menelan korban jiwa dari satwa-satwa endemik yang tak sempat menyelamatkan diri.
Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, luas kawasan yang terbakar di Papua Selatan mencapai 695 hektare per 1 November 2026 pukul 17.00 WIB, dengan 379 titik panas dan 171 titik api yang masih terdeteksi.
Angka itu hanyalah puncak gunung es. Pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan sepanjang Januari hingga Juli 2026, si jago merah telah melahap habis 25.838,53 hektare bentang alam di Papua Selatan.
Taman Nasional Wasur sendiri tercatat sebagai taman nasional dengan luas terdampak karhutla tertinggi di Indonesia. Selama periode Januari hingga Agustus 2026, total area yang terbakar di TN Wasur mencapai 8.708 hektare. Bahkan data MapBiomas Fire Indonesia mencatat kerusakan di Taman Nasional Lorentz yang membentang di Papua Tengah dan Papua Pegunungan mencapai 6.532 hektare pada periode yang sama, dan melonjak menjadi 14.344,91 hektare hingga September 2026.
Habitat 403 Spesies Burung Terancam
Dampak langsung dari ribuan hektare lahan yang hangus ini adalah krisis habitat. Balai Taman Nasional Wasur mencatat, kawasan ini merupakan rumah bagi sedikitnya 403 spesies burung. Sebanyak 74 spesies merupakan burung endemik Papua, sementara sekitar 114 spesies diperkirakan masuk kategori satwa dilindungi.
“Pasca kebakaran, sebagian satwa berukuran kecil tercatat tidak berhasil menyelamatkan diri dari kepungan api, sementara satwa yang bertahan terpaksa migrasi dan keluar dari area akibat rusaknya habitat dan hilangnya sumber air,” ungkap laporan monitoring taman nasional.
Petugas lapangan di Merauke melaporkan temuan memilukan. Bangkai kangguru pohon mantel emas (Dendrolagus pulcherrimus), kasuari gelambir ganda, serta beberapa sarang burung Cenderawasih mati terpanggang di kawasan savana yang menjadi ikon TN Wasur. Reptil dan amfibi yang hidup di lantai hutan menjadi korban paling banyak karena tidak mampu bergerak cepat saat api datang.
Kebakaran hutan dan lahan di Papua Selatan mengancam keberlangsungan habitat satwa endemik serta burung migran. Kebakaran berpotensi merusak vegetasi dan lahan basah yang menjadi tempat satwa berlindung, mencari makan, dan berkembang biak.
El Nino dan Kelalaian Manusia
Kondisi diperparah oleh fenomena El Nino kuat yang melanda New Guinea pada September-Oktober 2026, di mana kekeringan membuat api lebih mudah menjalar dan asap menyelimuti sebagian besar pulau selama berminggu-minggu.
BNPB dan Balai TN Wasur menyebut kombinasi pembukaan lahan dengan cara bakar dan kemarau panjang sebagai pemicu utama. Surga alam yang menjadi benteng terakhir bagi spesies eksotis seperti burung cenderawasih di tanah Papua, kini perlahan hangus menjadi abu akibat amukan karhutla yang luput dari sorotan.
Hingga kini, tim gabungan masih berupaya melakukan pemadaman dan penyisiran untuk mendata jumlah pasti satwa yang mati. Namun yang jelas, seperti di 47 taman nasional lain di Indonesia yang totalnya 70.808 hektare terbakar selama Januari-September 2026, kerusakan vegetasi di Papua dapat mengganggu ruang hidup satwa secara permanen.
Pemerhati satwa mendesak pemerintah menetapkan status darurat karhutla untuk Papua Selatan dan memperketat patroli udara, sebelum Cenderawasih hanya tinggal cerita di museum.
Editor: Hendy



