Diduga Korupsi Rp 11,4 Triliun: Mantan Presiden Bolivia Luis Arce yang Baru Lengser Ditangkap dan Ditahan

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Baru saja lengser dari jabatannya, mantan Presiden Bolivia Luis Arce (62) ditangkap dan ditahan aparat berwenang setempat atas dugaan korupsi yang disebut merugikan negara hingga Rp11,4 triliun. Penangkapan ini terjadi hanya sebulan setelah pemerintahan konservatif Rodrigo Paz menggantikan kekuasaan kelompok sosialis yang bertahan selama 20 tahun.
Pejabat senior pemerintahan Paz, Marco Antonio Oviedo, mengatakan Arce ditahan atas dugaan penyalahgunaan jabatan dan penyelewengan dana negara saat menjabat Menteri Ekonomi di era Evo Morales. “Pemerintah telah memutuskan untuk memerangi korupsi, dan kami akan menangkap semua pihak yang bertanggung jawab atas penggelapan dana besar-besaran ini,” ujarnya, seperti dilansir The Associated Press, dikutip NCBCIndonesia, Jumat (12/12).
Pihak berwenang menuduh Arce dan sejumlah pejabat lain mengalihkan sekitar US$700 juta, setara Rp11,4 triliun dari dana pemerintah yang seharusnya dialokasikan untuk masyarakat adat dan petani pedesaan, kelompok yang selama ini menjadi basis politik Morales. Sebagai anggota dewan pengelola dana tersebut pada 2006-2017, Arce disebut memiliki kewenangan mengatur proyek sosial dan diduga menyalahgunakan dana untuk kepentingan pribadi. “Arce diidentifikasi sebagai pihak utama yang bertanggung jawab atas kerugian ekonomi yang sangat besar ini,” kata Oviedo.
Jaksa Agung Bolivia Roger Mariaca mengatakan Arce memilih bungkam selama pemeriksaan dan akan dihadirkan di sidang awal untuk menentukan apakah ia akan ditahan hingga persidangan. Dakwaan yang dikenakan membawa ancaman hukuman 4-6 tahun penjara. Jaksa Mariaca juga membantah motif politik atas penangkapan Arce tersebut. “Ini bukan penganiayaan, dan bukan pula tindakan politik,” katanya.
Pergeseran politik usai kemenangan Paz terjadi di tengah kemarahan publik atas krisis ekonomi di era Arce, termasuk inflasi tinggi, kelangkaan bahan bakar, dan kosongnya kas negara. Dinamika politik Bolivia sebelumnya juga dibayangi tudingan kriminalisasi lawan politik, baik di era Morales maupun pemerintahan sementara setelahnya.
Sebelumnya Luis Arce memimpin Bolivia di tengah krisis kelangkaan bahan bakar dan melemahnya cadangan devisa. Ia tidak mencalonkan diri kembali dalam pemilu Agustus 2025 lalu yang sekaligus mengakhiri dua dekade dominasi politik sayap kiri di negara tersebut.
Kasus korupsi ini menelusuri periode ketika Arce berada di bawah pemerintahan Presiden Evo Morales pada 2006-2019. Ia dituduh mengizinkan transfer dana dari kas negara ke rekening pribadi sejumlah tokoh politik, sebuah pelanggaran serius yang kini menjadi fokus utama tim penyidik.
Salah satu penerima dana ilegal tersebut diduga adalah Lidia Patty, mantan anggota parlemen sayap kiri. Patty ditangkap pekan lalu setelah diduga menerima hampir US$100.000 atau sekitar Rp1,6 miliar untuk proyek budidaya tomat yang ternyata tidak pernah direalisasikan.
Sumber di kantor kejaksaan mengatakan kepada AFP bahwa Arce akan dimintai pertanggungjawaban atas dugaan kelalaian tugas serta “pelanggaran ekonomi” yang menyebabkan kerugian bagi negara. Proses pemeriksaan akan dilakukan secara intensif dalam beberapa hari ke depan.
Pemerintah baru mengklaim telah mengantongi dokumen transaksi yang menghubungkan Arce dengan jaringan penyaluran dana ilegal tersebut. “Ada alur uang yang jelas dan tidak dapat dibantah,” ujar sumber kejaksaan tersebut, menegaskan bahwa penyelidikan telah memasuki tahap penentuan.
Wakil Presiden Edmand Lara memastikan tidak ada toleransi bagi pelaku korupsi tanpa memandang jabatan maupun pengaruh politik. “Setiap orang yang telah mencuri dari negara ini akan mengembalikan setiap sen terakhir,” tegasnya, menandai komitmen pemerintahan baru untuk membersihkan praktik korupsi di Bolivia.
Editor: Isa Gautama


