Bab Keteladanan Eyang Meri Berakhir, Nilai dan Kesannya Tetap Tak Kan Lekang Oleh Waktu

Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo mencium tangan Eyang Meri saat menjenguknya.
progresifjaya.co.id, JAKARTA – Negeri ini sedang berduka karena salah satu putri terbaiknya berpulang ke pangkuan Sang Khalik. Meriyati Roeslani Hoegeng, sosok wanita kelahiran 23 Juni 1925 yang jadi pendamping hidup Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, meninggal dunia pada Selasa, 3 Februari 2026.
Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso adalah sosok Kapolri ke-5 (1968 – 1971) yang lekat dikenal dan dikenang sebagai pejabat polisi yang paling berani dan jujur saat mayoritas pejabat pemerintah korup. Eyang Merry menikah dengan Jenderal Polisi Hoegeng pada tahun 1946 hingga akhir hayat Sang Jenderal pada 2004.
Sepanjang hidupnya, Jenderal Polisi Hoegeng memang dikenal karena integritasnya. Simbol dari seorang polisi jujur. Namun tak banyak yang menyadari jika apa diperlihatkan oleh Jenderal Polisi Hoegeng itu tak bisa lepas dari peran Mery – akrab disapa Eyang Meri.
Memang, sepanjang karier suaminya Eyang Meri lebih memilih posisi di belakang. Jauh dari kata menikmati bayang-bayang kekuasaan. Integritas Jenderal Polisi Hoegeng dia rawat, jaga dan pertahankan dalam ruang sunyi bernama keluarga.
Meski hidup dalam kekuasaan jabatan dan berpotensi besar menikmati godaa. suap atau gratifikasi, Eyang Merry tetap bisa bertahan tak tergoda. Peristiwa tudingan cincin berlian di Medan pada akhir tahun 1950-an jadi salah satu buktinya.

Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo saat menjenguk Eyang Meri.
Fitnah telanjang terbuka yang sengaja dilempar ke publik untuk meruntuhkan integritas publik terhadap keluarga Hoegeng bisa disikapi dengan cerdas, tegas dan terbuka tanpa kompromi. Semua diungkapkan secara jujur apa adanya, tanpa tendeng aling-aling.
Keteladanan ini juga ditunjukkan dengan beberapa keputusan kecilnya yang terbilang langka. Saat Jenderal Polisi Hoegeng diangkat menjadi Kepala Jawatan Imigrasi, Eyang Meri bikin keputusan untuk menutup usaha toko bunga miliknya. Dia sadar untuk membuat jarak dari konflik kepentingan, meski itu berakibat hilangnya sumber penghasilan.
Sebagai istri seorang Kapolri, Eyang Meri juga tak pernah menduduki jabatan struktural Bhayangkari. Karena buatnya, jabatan publik suami bukan berarti jadi hak istimewa untuk keluarga.
Bab teladan yang dijalani oleh Eyang Meri sekarang ini memang sudah berakhir. Jenazah almarhumah sudah dikebumikan di Taman Pemakaman Bukan Umum (TPBU) Giritama, Tonjong, Bogor, Jawa Barat, Rabu, 4 Februari 2026. Namun begitu, nilai dan kesan keteladanan yang sudah digoreskan olehnya semasa hidup diyakini tak kan lekang oleh waktu. Selalu dan terus jadi panutan bagi generasi selanjutnya. RIP Eyang Meri. (Bembo)



