
progresifjaya.co.id, LEBAK – Petani pisang di Kabupaten Lebak, Banten, menjadi andalan pendapatan ekonomi keluarga, terlebih permintaan pasar cukup tinggi dan dapat mengendalikan kemiskinan di daerah itu.
“Kami minta petani terus mengembangkan pertanian pisang,” kata Uci Sanusi, seorang penampung pisang di Kabupaten Lebak, Senin (20/10/2025)
Selama ini, produksi pisang di Kabupaten Lebak melimpah dan menyumbang pendapatan ekonomi masyarakat mulai petani, buruh angkut, sopir hingga pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan pedagang pengecer.
Perguliran uang hasil penjualan pisang menembus miliaran rupiah per bulan dengan produksi ribuan ton per hari. Mereka petani setiap hari memasok pisang ke wilayah Banten, DKI Jakarta hingga Bogor, Depok dan Bekasi, Jawa Barat.
Saat ini, kata dia, harga pisang di tingkat penampung berkisar Rp30 ribu-Rp60 ribu per tandan dan dikembangkan di 28 kecamatan.
Produksi pisang itu digunakan sebagai bahan campuran kuliner, aneka kerajinan, dan dikonsumsi masyarakat juga komoditas pisang menjadikan andalan tetap pendapatan petani,” tuturnya.
Ia menyebutkan, selama ini pisang Kabupaten Lebak memiliki kualitas yang baik dan organik, karena petani mengembangkan budi daya tanaman tersebut di lahan darat atau ladang dengan didukung kesuburan tanah cukup baik.

Produksi pisang yang dikembangkan itu, jenis pisang mulih, nangka, galek, rajah buluh, raja sereh, emas, kepok, dan ketan.
“Kami berharap produksi pisang Lebak bisa bersaing dan menembus pasar ekspor,” sebutnya.
Budiman (55) seorang petani warga Angsana, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, mengatakan bahwa mereka terbantu pendapatan ekonomi keluarganya dari hasil penjualan pisang.
Saat ini, dirinya terus mengembangkan berbagai jenis pisang di lahan 1.000 meter persegi, karena permintaan pasar cenderung meningkat.
“Kami setiap bulan menjual pisang dan bisa menghasilkan pendapatan Rp500 ribu,” ucapnya.
Sementara itu, Udin, seorang pedagang pisang di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak mengatakan sejak sebulan terakhir ini permintaan pisang relatif tinggi, karena banyak masyarakat menggelar pesta pernikahan.
Untuk memenuhi permintaan pisang, pihaknya terpaksa mendatangi petani ke pelosok-pelosok desa. “Semua permintaan pisang bisa dilayani melalui petani itu,” katanya.
Menurut dia, saat ini harga pisang mulai naik akibat tingginya permintaan itu dan untuk pisang ambon dari sebelumnya Rp60.000 naik menjadi Rp80.000 per tandan, pisang tanduk semula Rp70.000 kini naik menjadi Rp100.000 per tandan, pisang kepok semula Rp50.000 menjadi Rp70.000 per tandan.
Begitu pula pisang ketan semula Rp50.000 naik menjadi Rp70.000 per tandan, pisang emas dari Rp40.000 naik menjadi Rp60.000 per tandan dan pisang apuh dari Rp40.000 naik menjadi Rp50.000 per tandan.
Meskipun harga pisang terjadi kenaikan, tetapi permintaan cukup tinggi. “Kami hari ini sudah menjual sekitar dua ton untuk memenuhi permintaan pedagang pengecer Kebayoran Jakarta,” pungkasnya. (R. R)



