BERITA UTAMA OPINI

Cipanas di Persimpangan: Membaca Ruang Hidup di Tengah Arus Geothermal

Oleh: Hery Trijoko

DI PAGI HARI CIPANAS, kabut turun perlahan di antara kebun dan lereng pegunungan. Udara dingin masih membawa aroma tanah basah dan suara air yang mengalir dari saluran kecil menuju sawah-sawah masyarakat.

Bagi warga pegunungan, gunung bukan hanya pemandangan. Ia adalah sumber kehidupan. Dari gunung, air mengalir ke rumah-rumah dan lahan pertanian. Dari tanah yang subur, ekonomi masyarakat tumbuh. Dari bentang alam yang hijau, lahir budaya, kebiasaan, dan hubungan panjang antara manusia dengan ruang hidupnya sendiri.

Namun beberapa tahun terakhir, masyarakat mulai melihat perubahan. Jalan-jalan baru akan mulai dibuka. Aktifitas proyek mulai terlihat. Percakapan tentang geothermal atau panas bumi perlahan masuk ke ruang-ruang obrolan warga. Sebagian melihat harapan. Sebagian melihat kekhawatiran. Dan sebagian lainnya masih mencoba memahami, sebenarnya akan dibawa ke mana masa depan kawasan pegunungan ini?

Geothermal dan Kebutuhan Energi Nasional

Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia karena berada di jalur cincin api. Dalam beberapa tahun terakhir, geothermal mulai dipandang sebagai salah satu jawaban untuk kebutuhan energi masa depan. Di tengah meningkatnya pembicaraan tentang krisis iklim dan

pengurangan emisi karbon, geothermal dianggap lebih bersih dibanding energi berbasis batu bara.

Negara membutuhkan listrik. Kebutuhan industri meningkat. Pertumbuhan penduduk terus berjalan. Pemerintah pun mendorong proyek-proyek energi baru sebagai bagian dari transisi energi nasional. Dari sudut pandang pembangunan, geothermal dipandang sebagai langkah menuju energi yang lebih modern dan berkelanjutan.

Namun setiap pembangunan besar selalu bertemu dengan satu hal yang sering kali lebih rumit dari sekadar angka dan teknologi: ruang hidup masyarakat.

Ketika Gunung Menjadi Ruang yang Diperebutkan

Bagi masyarakat kota, gunung mungkin terlihat sebagai kawasan kosong yang bisa dimanfaatkan. Tetapi bagi masyarakat pegunungan, gunung adalah saling terhubung. Gunung menyimpan fungsi penting:

● daerah resapan air,

● penyimpan cadangan air tanah,

● penyangga iklim lokal,

● habitat flora dan fauna,

● hingga pelindung alami dari erosi dan longsor.

Di kawasan seperti Cipanas, hubungan manusia dengan alam juga tidak berhenti pada fungsi ekonomi semata. Ada hubungan emosional dan budaya yang tumbuh turun-temurun. Masyarakat mengenali mata air, perubahan cuaca, arah angin, hingga tanda-tanda alam dengan cara yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Karena itu ketika proyek besar mulai masuk ke kawasan pegunungan, masyarakat tidak hanya bertanya tentang listrik dan pembangunan. Mereka juga mulai bertanya:

● apakah mata air akan berubah?

● bagaimana dampaknya terhadap tanah dan pertanian?

● bagaimana risiko terhadap kawasan rawan longsor?

● apakah lingkungan tetap aman untuk generasi berikutnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan bentuk penolakan otomatis terhadap pembangunan. Tetapi bentuk kepedulian terhadap ruang hidup yang mereka tempati setiap hari.

Di Antara Harapan dan Kekhawatiran

Percakapan tentang geothermal sering terjebak menjadi dua kubu: mendukung sepenuhnya atau menolak sepenuhnya. Padahal kenyataan di lapangan jauh lebih kompleks.

Di satu sisi, geothermal membawa harapan:

● energi yang lebih bersih,

● peluang investasi,

● lapangan kerja,

● dan pembangunan infrastruktur.

Namun di sisi lain, masyarakat juga memiliki kekhawatiran terhadap:

● perubahan tata air,

● pembukaan kawasan,

● potensi erosi dan longsor,

● perubahan bentang alam,

● hingga hilangnya keseimbangan ekologis.

Kedua sisi ini perlu dibaca secara jujur dan terbuka. Karena pembangunan yang sehat bukan pembangunan yang menutup pertanyaan. Melainkan pembangunan yang mampu membuka ruang dialog

Masa Depan Cipanas Sedang Ditulis Hari Ini

Hari ini Cipanas mungkin sedang berada di persimpangan. Di satu sisi ada kebutuhan energi dan pembangunan. Di sisi lain ada kebutuhan menjaga keseimbangan lingkungan dan ruang hidup masyarakat.

Di tengah perubahan itu, masyarakat membutuhkan ruang belajar bersama:

● membaca bentang alam,

● memahami geothermal,

● memetakan mata air,

● mendokumentasikan perubahan kawasan,

● dan membicarakan masa depan wilayah secara terbuka.

Karena masa depan kawasan pegunungan tidak bisa ditentukan hanya dari satu sudut pandang. Ia harus dibaca bersama, oleh masyarakat, pemuda, petani, akademisi, pemerintah, hingga pihak perusahaan.

Sebab, gunung tidak hanya menyimpan panas bumi. Ia juga menyimpan:

● air,

● sejarah,

● budaya,

● kehidupan,

● dan masa depan.

Dan mungkin hari ini, hal paling penting yang perlu dilakukan bukan sekadar memilih antara setuju atau menolak. Tetapi memastikan bahwa masyarakat tetap memiliki kemampuan membaca ruang hidupnya sendiri sebelum semuanya berubah terlalu jauh.

Penulis adalah Aktivis Lingkungan dan Ketua DAS Cikundul

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *