Benarkah Wanita Lugu Paryatin yang Warga Kampung Bisa Jadi Aktor Intelektual Penyelundup Narkoba 2 Ton Senilai Rp5 T?

Wajah Paryatin alias Dewi Astutik yang di paspor (kiri) dan setelah ditangkap (kanan).
progresifjaya.co.id, JAKARTA – Buronan gembong jaringan narkoba internasional yang ditangkap Badan Narkotika Nasional (BNN) di Kamboja ternyata bernama Paryatin (42) bukan Dewi Astutik seperti yang tertera di paspor identitasnya. Dewi Astutik sendiri adalah adiknya, yang namanya digunakan untuk membuat paspor agar Paryatin bisa bekerja di luar negeri sebagai pekerja migran Indonesia (PMI). Yang menjadi pertanyaan masyarakat, apakah orang desa lugu seperti Paryatin sampai bisa mengatur jaringan narkoba internasional dan menyelundupkan 2 ton sabu ke Indonesia sampai senilai Rp 5 triliun?
Paryatin diketahui tinggal di Dusun Sumber Agung, Desa/Kecamatan Balong, Ponorogo, Jawa Timur. Kesehariannya sebagai ibu rumah tangga biasa mendampingi suaminya Sarno (45). Namun belakangan wanita setengah baya itu mencoba keberuntungannya bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri. Itu saja yang diketahui warga desa mengenai sosok Paryatin.
Ketua RT Sumber Agung, Purnomo pun mengungkapkan, bahwa Paryatin adalah benar warganya. Namun belakangan ia tidak pernah mengetahui secara pasti aktivitas kerjanya. Yang diketahui Paryatin bekerja di luar negeri. Purnomo juga membenarkan bahwa foto yang beredar di media sosial maupun di media online adalah Paryatin warganya. Sedangkan Dewi Astutik disebut sebagai adik Paryatin.
Sementara itu suami Paryatin, Sarno (45) mengaku tidak mengetahui pekerjaan istrinya di luar negeri. Dia syok setelah melihat kabar soal istrinya yang ramai diberitakan terkait kasus narkoba.
Sarno tak menyangka istrinya yang dikenal sebagai pekerja biasa tiba-tiba disebut-sebut sebagai gembong narkoba internasional. Sarno juga mempertanyakan, istrinya yang lugu itu bisa menjalan bisnis narkoba dan menyelundupkan ke Indonesia dan juga negara lainnya.
Meski syok, tidak mengira istrinya jadi buronan interpol dan akhirnya ditangkap BNN, Sarno juga kaget narkoba yang diselundupkan ke Indonesia berjumlah 2 ton senilai Rp 5 triliun. Padahal, yang diketahui Sarno, istrinya Paryatin tidak memiliki uang atau harta yang banyak. Cuma sekedar gaji seperti TKW-TKW pada umumnya. Inilah yang juga menjadi pertanyaan netizen di media sosial, apakah Paryatin kaya dan banyak uang karena profesinya sebagai pebisnis narkoba? Ternyata sampai kini tidak diketahui.
Coba simak saja berita penangkapan Dewi Astutik alias Paryatin ini. Wanita berkacamata bertampang lugu itu dikategorikan penjahat besar yang berbahaya. Bagaimana tidak, sampai penangkapannya di Kamboja dilakukan dalam operasi senyap yang dipimpin langsung oleh Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN Roy Hardi Siahaan. Pasalnya Paryatin merupakan aktor intelektual dibalik penyelundupan dua ton sabu jaringan Golden Triangle yang digagalkan pada Mei 2025. Tidak itu saja, wanita berambut pendek ini juga terlibat sejumlah kasus besar pada 2024 yang terkait jaringan Golden Crescent.
Nama Dewi Astutik mencuat ketika BNN membongkar peredaran heroin seberat 2,76 kilogram di Bandara Soekarno-Hatta. Heroin itu diamankan dari seorang pria berinisial ZM pada 24 September 2024, ketika ia baru tiba di Terminal 3 Kedatangan Bandara Soekarno Hatta dari Singapura. Saat pemeriksaan, ZM mengatakan bahwa heroin yang dibawanya akan diserahkan kepada SS. BNN lantas bergerak menangkap SS dan mendapati nama pelaku lain, yakni AH yang ternyata adalah orang yang memerintahkan ZM dan SS untuk mengambil heroin dari Dewi Astutik di Kamboja.
Berdasarkan petunjuk itu, BNN akhirnya mengamankan AH di Medan, Sumatra Utara.
Dewi Astutik yang bergabung dengan jaringan narkoba internasional, golden triangle memiliki peran signifikan dalam hal peredaran narkoba. Ia merupakan pemimpin sekaligus perekrut kurir-kurir yang kebanyakan berasal dari Indonesia. Hal ini diketahui setelah BNN bersama Bea Cukai dan TNI AL mengamankan dua ton sabu dari kapal MT Sea Dragon Tarawa di Kepulauan Riau pada 22 Mei 2025. Empat awak kapal yang berstatus warga negara Indonesia (WNI) itu diduga berkaitan dengan Paryatin alias Dewi Astutik.
Dewi diduga orang yang mengendalikan ratusan kurir narkoba dan kebanyakan WNI. Hingga saat ini, ada lebih dari 110 WNI ‘asuhan’ Dewi yang ditangkap di berbagai negara, seperti Brasil, Kamboja, dan Korea Selatan. Mereka ditangkap di luar negeri, ada di Brasil, Addis Ababa (ibu kota Ethiopia), di India, Kamboja, Thailand, Korea. Mereka mengaku bagian dari Dewi Astutik. Karena perannya sebagai pemimpin dan perekrut kurir, Dewi Astutik diduga kuat berhubungan dengan jaringan narkoba lainnya.
Dewi termasuk dalam jajaran pimpinan di golden triangle, meskipun bukan yang tertinggi. Sebab, selain membawahi ratusan kurir narkoba, Dewi terhubung dengan sindikat Afrika yang beroperasi di Thailand dan semenanjung Malaysia. Wanita PMI ini tampaknya sudah menjadi semacam pimpinan dari jaringan ini, tapi dia bukan pimpinan tertingginya. Dia terhubung dengan sindikat Afrika yang beroperasi di Thailand dan Semenanjung Malaya.
Jika dilihat dari latar belakang kehidupannya sebelum menjadi TKW, apakah mungkin semua kegiatan penyelundupan narkoba dimotori Paryatin alias Dewi Astutik? Dan apa yang diperoleh dari kejahatan narkotika yang begitu mengguncang dunia. Nyatanya, Paryatin disebut tidak memiliki harta atau uang banyak. Inilah yang menjadi pertanyaan masyarakat. Oleh karena itu tunggu saja hasil pemeriksaan BNN terhadap sosok Paryatin alias Dewi Astutik ini selanjutnya.
Editor: Isa Gautama



