OPINI

Ramadan, Cipanas, dan Ancaman Mikroplastik di Hulu Cianjur

Oleh: Herry Trijoko

BULAN suci Ramadhan selalu membawa keberkahan ekonomi bagi para pedagang di kawasan Cipanas. Pasar tumpah, lapak takjil berjejer, wisatawan berdatangan. Namun di balik semarak itu, ada persoalan yang diam-diam membesar: lonjakan penggunaan plastik dan styrofoam sekali pakai.

Kita mungkin melihatnya sebagai hal biasa. Praktis. Murah. Cepat. Tetapi bagi wilayah seperti Cipanas, ini bukan persoalan sepele.

Cipanas bukan hanya daerah wisata. Ia adalah bagian dari kawasan hulu yang menopang sistem air bagi jutaan masyarakat di Jakarta, Bekasi, dan Bogor. Setiap kantong plastik yang dibuang sembarangan di Cipanas bukan hanya berakhir di selokan atau sungai kecil, tetapi berpotensi mengalir jauh, mencemari sistem air yang lebih luas.

Yang paling mengkhawatirkan bukan sekadar sampah yang terlihat, tetapi mikroplastik yang tak kasat mata.

Styrofoam dan plastik yang terkena panas makanan atau sinar matahari akan terurai menjadi partikel sangat kecil. Partikel ini masuk ke tanah, ke aliran air, ke sungai, lalu ke rantai makanan. Ikan, ternak, bahkan sumber air minum bisa terpapar. Mikroplastik bukan isu masa depan. Ia sudah menjadi bagian dari persoalan kesehatan global hari ini.

Sebagai kawasan hulu, Cipanas memegang peran ekologis yang sangat strategis. Jika hulu tercemar, hilir akan menanggung akibatnya. Biaya pengolahan air bersih akan meningkat. Kualitas air menurun. Dan pada akhirnya, masyarakat luas yang membayar dampaknya.

Ironisnya, peningkatan volume sampah setiap Ramadhan bisa mencapai 10–12 persen. Angka ini mungkin terdengar kecil, tetapi dalam konteks kawasan hulu yang sensitif, ia berarti akumulasi beban yang signifikan.

Para pedagang tentu tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Mereka menghadapi realitas ekonomi: plastik dan styrofoam murah, praktis, dan tersedia. Alternatif ramah lingkungan sering kali lebih mahal dan tidak selalu mudah didapat. Pembeli pun jarang membawa wadah sendiri.

Ini menunjukkan bahwa persoalan plastik di Cipanas bukan sekadar persoalan perilaku individu, melainkan persoalan sistem.

Kita membutuhkan langkah nyata:

  • Sosialisasi berkelanjutan, bukan sekadar imbauan musiman.
  • Insentif bagi pedagang yang beralih ke kemasan ramah lingkungan.
  • Edukasi wisatawan untuk membawa wadah sendiri.
  • Pembatasan penggunaan styrofoam secara bertahap.

Ramadhan adalah bulan pengendalian diri. Jika kita mampu menahan lapar dan dahaga, seharusnya kita juga mampu menahan diri untuk tidak menambah beban lingkungan.

Cipanas adalah kebanggaan Cianjur. Keindahan alamnya, udara sejuknya, dan sumber airnya adalah aset tak ternilai. Jangan sampai kemudahan sesaat hari ini menjadi beban ekologis jangka panjang.

Karena yang dibuang di hulu hari ini, akan kembali kepada kita dalam bentuk krisis air dan kesehatan esok hari.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum perubahan. Bukan hanya perubahan spiritual, tetapi juga perubahan perilaku terhadap lingkungan.

Penulis adalah Kordinator DAS Cikundul

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *