Diduga untuk Bungkam Suara Kritis: Wakil Kordinator Kontras, Andrie Yunus Disiram Air Keras OTK

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Ingat dengan mantan penyidik KPK Novel Baswedan yang mengalami tindak kekerasan disiram dengan air keras? Peristiwa itu kini dialami Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Andrie Yunus. Dia diserang oleh orang tak dikenal (OTK) dengan siraman air keras yang mengakibatkan luka serius di sekujur tubuh terutama pada area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata.
Koordinator Badan Pekerja Kontras, Dimas Bagus Arya mengungkapkan, peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (12/03) malam, sekitar pukul 23.00 WIB. Saat itu Andrie Yunus baru saja selesai melakukan perekaman siniar (podcast) di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI), Jakarta.
Dimas menjelaskan, setelah kejadian itu Andrie Yunus segera dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, untuk mendapatkan penanganan medis. “Dari hasil pemeriksaan, Andrie mengalami luka bakar sebanyak 24 persen ,” ujar Dimas.
Atas serangan penyiraman air keras tersebut, pihaknya menilai hal itu merupakan upaya membungkam suara-suara kritis masyarakat, khususnya pembela HAM. “Peristiwa ini harus segera mendapat perhatian luas dari berbagai pihak, termasuk lembaga penegak hukum dan masyarakat sipil,” katanya.
Dimas menuntut aparat kepolisian langsung melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku serta motif di balik serangan tersebut. “Mengingat, upaya penyiraman air keras terhadap korban dapat mengakibatkan luka fatal yang serius hingga meninggal dunia,” tegas Dimas Bagus Arya.
Dari keterangan korban, diperoleh keterangan bahwa pelaku berjumlah dua orang dengan berboncengan sepeda motor. Ciri-ciri para pelaku pertama merupakan pengendara sepeda motor menggunakan pakaian kaos berwarna kombinasi putih-biru, celana gelap diduga jeans, dan helm berwarna hitam. Sedangkan pelaku kedua yakni orang yang dibonceng menggunakan penutup wajah atau masker menyerupai ‘buff’ berwarna hitam yang menutupi setengah wajah, kaos berwarna biru tua, dan celana panjang berwarna biru yang dilipat menjadi pendek dan diduga berbahan jeans.
Salah satu pelaku kemudian menyiramkan air keras hingga mengenai sebagian tubuh korban. Setelahnya, OTK itu langsung melarikan diri dengan sepeda motornya berkecepatan tinggi menghilang di kegelapan malam. Sedangkan korban Andrie Yunus langsung dilarikan ke RSCM guna mendapat perawatan darurat.
Menanggapi kejadian tersebut, Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid menyatakan, pelaku penyerangan Andrie adalah “pengecut” dan tidak layak untuk hidup. Peristiwa keji itu tidak akan membikin Kontras mundur dari jalan aktivisme —melawan ketidakadilan.
Sejarah mencatat bahwa berkali-kali Kontras menghadapi kekerasan, mulai zaman kejatuhan Soeharto kala kantor mereka diserang hingga berpuncak saat kematian pendirinya, Munir Said Thalib. “Jangan pernah berpikir kami mundur,” tegasnya.
Sementara itu, Novel Baswedan yang pernah mengalami nasib serupa berkomentar, Andrie Yunus merupakan aktivis yang bekerja untuk kepentingan publik. “Dia peduli [dengan kondisi negara], dia peduli dengan ketidakadilan,” katanya.
Novel, yang juga menjadi korban penyiraman air keras pada 2017 menilai, serangan kepada Andrie merupakan “percobaan pembunuhan.” Pasalnya, berdasarkan rekaman CCTV di lokasi perkara yang sudah dia saksikan, terduga pelaku menyiram air keras langsung ke wajah Andrie. “Kalau ke muka, bisa bikin gagal napas dan kemungkinan meninggal. Ini kejahatan serius,” cetusnya.
Novel memandang aksi penyerangan ke Andrie adalah kejahatan yang terorganisir. “Ada simbol-simbol yang ditemukan di lapangan. Tentu bukan masalah pribadi dengan Andrie,” imbuhnya. Dia mendesak Presiden Prabowo memberikan atensi serius terhadap kasus ini supaya pelaku beserta antor intelektualnya dapat ditangkap.
Editor: Isa Gautama



