Analogi Edukatif Penulis: Kanit Regident Mesti Sosok Ekstrovert dan Ekstravasi Tinggi

Ban lengan Kanit Regident.
progresifjaya.co.id, JAKARTA – Seluruh Polres di Indonesia diketahui memiliki slot jabatan Kepala Unit Registrasi dan Identifikasi (Kanit Regident) dalam satuan kerja (Satker) lalu lintas. Slot jabatan yang juga merupakan bagian inti dari semboyan sakral Dharmakerta Marga Raksyaka. Sebuah Pataka Korlantas Polri yang bermakna kerja dengan tulus dan ikhlas untuk melindungi serta melayani pengguna jalan.
Slot jabatan ini biasanya diisi oleh perwira Polri pada jenjang pertama dari mulai Ipda, Iptu hingga AKP, tergantung status Polres tempat bertugas. Jika status Polresnya adalah ordinary atau biasa, pengisi jabatan tersebut adalah perwira pertama berpangkat Ipda dan Iptu. Sementara jika status Polresnya adalah C-Suite atau level tinggi seperti Polresta atau Polrestabes, jabatan ini akan diisi oleh perwira pertama berpangkat AKP.
Untuk tugas utama dari jabatan ini ke masyarakat, poin tanggung jawabnya adalah memberikan pelayanan administrasi kendaraan (BPKB, STNK) dan pengemudi (SIM). Namun begitu, pada pelaksanaannya juga ada kewajiban untuk selalu mengedepankan prinsip terbuka, transparan (tanpa pungli), dan ramah yang berkualitas prima.
Penekanan berikutnya lagi, yang juga mutlak untuk dikuasai oleh seorang Kanit Regident adalah ramah, komunikatif, interaktif, peka dan empatis. Jika itu sepenuhnya sudah dikuasai, akan menjadi mudah, tentunya, buat menularkan budaya pelayanan yang profesional, komunikatif, dan solutif (seperti budaya 5S: Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) ke jajarannya.
Penulis dalam uraian logisnya ingin menyampaikan opini, sebagai pejabat yang bertugas melayani dan memuaskan masyarakat, sosok yang paling pas untuk mengisi jabatan ini adalah sosok ekstrovert. Sosok ini akan selalu tergambar dan ternilai sebagai figur seseorang yang berkepribadian terbuka, ramah, aktif, komunikatif, interaktif dan berempati.

Dirregident Korlantas Polri, Brigjen Pol Wibowo.
Dalam ilmu psikologi seperti teori Big Five Personality Traits, karakteristik sifat ini juga erat kaitannya dengan tingkat ekstraversi atau extraversion yang tinggi. Orang dengan kepribadian ini sangat menikmati interaksi sosial dan mendapatkan energi dari kebersamaan dengan orang lain.
Tapi kalau dilihat dari kombinasi semua sifat tersebut secara spesifik, ada breakdown istilah ilmiah psikologis lagi untuk memilah dan mengklasifikannya.
Breakdown istilah yang dimaksudkan terdiri dari 4 item sebagai bahan mengklasifikasi. Yang pertama adalah sociable atau sosial/mudah bergaul. Item ini menggambarkan karakteristik utama seseorang yang ramah dan komunikatif dalam psikologi komunikasi.
Kemudian adalah empathetic atau berempati. Karakteristik ini menggambarkan kemampuan kognitif dan afektif seseorang untuk memahami serta merasakan apa yang dialami orang lain.
Berikutnya lagi adalah high interpersonal intelligence atau kecerdasan interpersonal yang tinggi. ltem ini adalah istilah dari teori Multiple Intelligences milik Howard Gardner untuk menggambarkan orang yang sangat mahir berkomunikasi, memahami, dan berinteraksi dengan orang lain.
Sedangkan untuk item yang terakhir disebut sebagai people person. Satu istilah psikologi populer/sosial buat menyebut seseorang yang sangat mudah menjalin hubungan baik dan merasa nyaman dengan berbagai macam orang.

Kegiatan pelayanan Regident di tingkat Polres.
Jujur saja, penggambaran kapabilitas kombinasi ekstraversi yang dimiliki oleh seorang pejabat Kanit Regident, secara teori pastinya terbawa mudah untuk selalu mengedepankan prinsip ramah, terbuka, dan transparan. Alunan satu chord dengan mandat reformasi birokrasi, di mana penyelenggara harus mampu memberikan kejelasan informasi, kepastian prosedur, serta perlakuan setara tanpa diskriminasi kepada seluruh masyarakat.
Sementara jika membahas perihal transformasi Polantas Polri, penulis lebih suka untuk membawa Model SERVQUAL atau kualitas layanan sebagai rujukan teori untuk mengkomparasi.
Teori ini diperkenalkan oleh tiga pakar dan peneliti pemasaran berkebangsaan Amerika yakni A. Parasuraman, Valarie Zeithaml, & Leonard Berry pada pertengahan tahun 1980-an.
Konsep utama dari teori ini adalah pendekatan untuk mengukur kepuasan pelayanan publik berdasarkan lima dimensi utama. Kelima dimensi utama tersebut adalah Tangibles (bukti fisik fasilitas), Reliability (keandalan), Responsiveness (ketanggapan), Assurance (jaminan kepastian), dan Empathy (empati pegawai).

Kegiatan pelayanan Regident di tingkat Polres.
Tangibles atau bukti fisik adalah penampilan fasilitas fisik, perlengkapan, dan sarana komunikasi. Kemudian Reliability atau keandalan adalah kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan akurat dan terpercaya.
Selanjutnya adalah Responsiveness atau daya tanggap. Ini adalah kemauan untuk membantu pelanggan dan memberikan layanan dengan cepat. Lalu Assurance atau jaminan, di mana pengetahuan, kesopanan, dan kemampuan petugas Polantas di Satpas maupun Samsat untuk bisa menumbuhkan rasa percaya masyarakat. Sementara empathy atau empati adalah kemampuan untuk memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual kepada setiap orang, baik itu pemohon SIM maupun wajib pajak.
Semua pemahaman ini lebih dipertajam lagi oleh Harold Dwight Lasswell (1902–1978). Seorang ilmuwan politik dan pelopor teori komunikasi terkemuka asal Amerika Serikat yang dikenal luas sebagai salah satu bapak ilmu komunikasi dunia. Dia banyak menggabungkan ilmu politik, sosiologi, dan psikologi untuk mengurai proses komunikasi.
Rumusan yang diciptakannya ini berbunyi; Who Says What, In Which Channel, To Whom, With What Effect. Di era digital sekarang, diksi “Channel” yang dimaksud sudah berkembang pesat menjadi berbagai platform media sosial dan internet.

Kegiatan pelayanan Regident di tingkat Polres.
Rumus ini juga biasa digunakan untuk menganalisis dan membedah proses komunikasi ke dalam 5 elemen utama rumusan tersebut.
Who? (Siapa?): Merujuk pada komunikator atau pengirim pesan.
Says What? (Mengatakan apa?): Merujuk pada pesan, isi, atau informasi yang disampaikan.
In Which Channel? (Saluran apa?): Merujuk pada media atau perantara yang digunakan untuk menyampaikan pesan (misalnya: TV, radio, atau internet).
To Whom? (Kepada siapa?): Merujuk pada penerima (receiver atau komunikan), baik itu individu maupun audiens.
With What Effect? (Dampaknya apa?): Merujuk pada efek atau hasil (perubahan sikap, opini, atau perilaku) yang terjadi pada penerima setelah menerima pesan
Jadi kembali, melihat pada 5 elemen utama rumusan tersebut, diksi analisisnya adalah gaya dan pembawaan personal dari figur ekstrovert tadi serta tingkat ekstravasinya. Sekarang tinggal mengukur diri saja secara jujur. Who am I?
Penulis/Editor: Bembo



