Ditreskrimum Polda Metro Klarifikasi Anggapan Kasus Begal Terbanyak di Jakarta Barat

Ditreskrimum Polda Metro Jaya menggelar jumpa pers pengungkapan 127 kasus kejahatan jalanan dengan hasil sebanyak 173 orang pelakunya berhasil dikarungin.
progresifjaya.co.id, JAKARTA – Ditreskrimum Polda Metro Jaya mengklarifikasi anggapan angka kasus begal terbanyak di DKI Jakarta adalah di Jakarta Barat. Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imannuddin mengatakan, secara fakta angka kasus begal terbanyak di wilayah hukum Polda Metro Jaya adalah di wilayah penyangga dan Jakarta Barat.
Sementara mengenai perihal anggapan kasus begal terbanyak adalah di Jakarta Barat, lanjut Kombes Pol Iman, hal tersebut karena informasi yang beredar di kanal digital atau media sosial sangat marak. Padahal di wilayah lain kasus begal pun tak kalah banyak.
“Amplifikasi yang dilakukan di beberapa platform media sosial itu yang membuat menarik. Seolah-olah itu seluruhnya terjadi di wilayah Jakarta Barat,” ujarnya.
Diuraikan oleh Kombes Pol Iman, secara demografinya wilayah Jakbar memang lebih beragam. Baik dari sisi ekonomi masyarakat, sosial, hingga pendidikan. Sehingga itu menjadi faktor yang memengaruhi banyaknya tindak pidana di sana.
“Memang Jakarta Barat ini cukup heterogen, baik itu dari strata sosial, kemudian ekonomi, juga pendidikan dibanding dengan wilayah-wilayah Jakarta yang lainnya. Sehingga itu menjadi bagian dari faktor yang memengaruhi terjadinya peningkatan tindak pidana,” jelasnya.
Dia kemudian membandingkan bagaimana fenomena begal atau tindak pidana lain bisa lebih sedikit di Jakarta Selatan. Selain karena memang lebih dinamis di Jakarta Barat, lalu lintas warga Jakarta Barat juga tinggi apabila dibandingkan dengan wilayah Jakarta Selatan yang sebagian besar berwujud Central Business District (CBD) atau sentra bisnis utama. Wilayah ini adalah pusat perkantoran elit dan multinasional di ibu kota
“Jakarta Barat itu dominan permukiman atau tempat tinggal. Tingkat kepadatan penduduknya juga lebih tinggi mencapai hampir 20.000 jiwa per kilometer persegi, dibandingkan dengan Jakarta Selatan yang lebih banyak diisi oleh kawasan komersial dan ruang terbuka. Ini berpengaruh juga,” kata Kombes Pol Iman.
Dia kemudian mengukil lagi tentang teori balon (balloon theory) dalam konteks kriminologi dan kepolisian.
Analogi teori ini menjelaskan bahwa jika aktivitas kejahatan ditekan, diberantas, atau dicegah di suatu wilayah, pelaku sering kali hanya bergeser atau menyebar untuk melakukan kejahatan di wilayah atau bentuk lain yang pengamanannya lebih longgar.
Saat teori balon berproses, maka akan terjadi pergeseran ruang dan taktis. Pelaku berpindah lokasi operasi ke daerah tetangga atau zona lain saat aparat memperketat patroli di titik tertentu. Kemudian jika satu jenis kejahatan atau modus (seperti begal) diberantas habis, pelaku bisa beralih ke modus lain yang risikonya lebih kecil
“Jadi seperti itulah prosesnya di Jakarta Barat. Pergeserannya ke wilayah penyangga. Jadi lebih tepatnya menyebut angka kejahatan begal tertinggi terjadi di wilayah Jakarta Barat dan wilayah penyangga. Bukan cuma Jakarta Barat saja,” kata Kombes Pol Iman lagi.
Penulis/Editor: Bembo



