Peringati Hari Pramuka 2026, 92 Siswa SMPN 1 Cipanas Inisiasi Program “Sekolah Sahabat Sampah” di Mikro DAS Cisarua Cianjur

progresifjaya.co.id, CIANJUR — Dalam rangka Memperingati Hari Pramuka tahun 2026, sebanyak 92 siswa SMP Negeri 1 Cipanas turun langsung ke kawasan hijau Sub DAS Cikundul untuk mengikuti kegiatan edukasi lingkungan berbasis aksi, Selasa (11/8). Kegiatan kolaboratif bersama Pemerintah Desa Sindanglaya, Komite Sub DAS Cikundul, dan komunitas budaya lokal ini mengusung gerakan Pelepah Kitri (Pramuka Peduli Sampah di Sekitar Diri Sendiri).
Berbeda dari pembelajaran konvensional di dalam kelas, para siswa diajak menyusuri aliran sungai, mempelajari ekosistem air, serta memahami dampak akumulasi sampah dari hulu ke hilir. Aksi ini sekaligus menjadi tonggak awal penetapan SMP Negeri 1 Cipanas sebagai percontohan “Sekolah Sahabat Sampah”.
Dari kegiatan yang berlangsung hingga pukul 12.45 WIB tersebut, para siswa berhasil memproduksi 36 ecobrick hasil olahan sampah plastik dari masing-masing kelas. Ecobrick ini difungsikan sebagai simbol komitmen pengurangan sampah plastik dari sumbernya.

Kordinator Sub DAS Cikundul, Heri Trijoko menyampaikan poin utama aksi dan program, yaitu, edukasi lapangan yakni menggabungkan literasi lingkungan, sejarah budaya lokal, dan pengamatan langsung kondisi hidrogeologi Sungai Cikundul.
Hasil konkret pembentukan 36 ecobrick sebagai media reduksi sampah plastik skala sekolah.
Internalisasi kebiasaan yakni mendorong budaya pengurangan sampah harian, seperti kewajiban membawa tempat makan/minum sendiri (tumbler/container) dan pemilahan sampah organik-anorganik di lingkungan sekolah.
Replikasi sosial: mengalirkan norma peduli lingkungan dari lingkup sekolah ke rumah tangga hingga ke tingkat masyarakat desa.

Heri menambahkan pendidikan lingkungan bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari guru ke murid, melainkan mengubah hubungan manusia dengan tempatnya hidup.
“Melalui 36 ecobrick ini, kami menanamkan kesadaran bahwa apa yang dibuang dari tangan kita tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya berpindah ke sungai jika kita tidak mengelolanya dengan benar,” ujarnya.
“Gerakan Pelepah Kitri ini diharapkan menjadi stimulus bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Cianjur untuk menerapkan kurikulum lingkungan hidup berbasis aksi nyata, guna menjaga keberlanjutan sumber daya air dan ekosistem Sungai,” pungkasnya. (Mus)



