NASIONAL NUSANTARA

Sesar Naik Busur Belakang Flores Salah Satu Struktur Tektonik Paling Aktif Sekaligus Mematikan di Indonesia

progresifjaya.co.id, FLORES – Keberadaan Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Busur Belakang Flores di sepanjang perairan utara Bali hingga Nusa Tenggara menempatkannya sebagai salah satu struktur tektonik paling aktif sekaligus mematikan di Indonesia. Jalur patahan naik yang membentang ratusan kilometer di dasar laut ini menyimpan energi kompresi luar biasa yang sewaktu-waktu pecah dan memicu guncangan kuat hingga tsunami.

Dalam catatan sejarah kegempaan kawasan Nusa Tenggara, sesar ini berulang kali memicu bencana besar yang menghancurkan permukiman dan menelan ribuan jiwa. Jejak kerusakan awal dari aktivitas sesar ini tercatat dalam peristiwa Gempa Bali tahun 1815. Guncangan kuat diperkirakan mencapai magnitudo 7,0 menerjang wilayah timur Bali dan memicu gelombang laut hebat.

Ancaman sesar naik busur belakang tersebut kembali terbukti pada 14 Juli 1976, saat Gempa Bali barat bermagnitudo 6,5 mengguncang wilayah Seririt, Kabupaten Buleleng. Peristiwa ini merobohkan ribuan rumah warga di kawasan Bali utara serta mengakibatkan ratusan warga meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan.

Tragedi paling kelam dalam sejarah pergerakan sesar ini terjadi pada Sabtu, 12 Desember 1992 pukul 13.29 WITA, ketika Gempa Bumi dan Tsunami Flores melanda kawasan Nusa Tenggara Timur. Gempa dangkal berkekuatan magnitudo 7,8 dengan kedalaman 35 kilometer di barat laut Kota Maumere memicu runtuhan material bawah laut yang membangkitkan gelombang tsunami raksasa hingga ketinggian maksimum 26 meter di Desa Riangkroko, Kabupaten Flores Timur.

Keberadaan tsunami merambat sejauh 600 meter ke daratan, menyapu bersih desa-desa pesisir seperti Wuhring dan Pulau Babi. Peristiwa ini menewaskan sedikitnya 2.500 orang atau dilaporkan hilang—termasuk 1.490 jiwa di Maumere dan 700 jiwa di Pulau Babi—serta menghancurkan sekitar 18.000 rumah, 113 fasilitas sekolah, 90 tempat ibadah, dan membuat 90.000 warga kehilangan tempat tinggal.

Kota Maumere mengalami kerusakan fisik hingga 90 persen, menjadikan peristiwa ini salah satu bencana gempa paling mematikan dalam sejarah modern Indonesia. Dua dekade setelah bencana Flores, keaktifan jalur sesar ini kembali bergolak hebat dalam Rangkaian Gempa Lombok 2018. Rangkaian episentrum gempa yang berlokasi di lereng utara hingga utara-timur laut Gunung Rinjani menegaskan pelepasan energi Flores Back-Arc Thrust di segmen Nusa Tenggara Barat.

Guncangan awal dibuka pada 29 Juli 2018 dengan gempa bermagnitudo 6,4, disusul puncak gempa utama bermagnitudo 7,0 pada 5 Agustus 2018 malam saat warga usai menunaikan ibadah. Tidak berhenti di situ, rentetan gempa susulan berkekuatan M 5,9 pada 9 Agustus dan M 6,9 pada 19 Agustus terus meluluhlantakkan Pulau Lombok dan Sumbawa.

Berdasarkan laporan BMKG serta penanganan bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), rangkaian gempa di Lombok ini menelan 555 korban jiwa, melukai ribuan orang, memicu lebih dari 400.000 warga mengungsi, dan merusak ratusan ribu bangunan rumah dengan estimasi nilai kerusakan mencapai triliunan rupiah.

Aktivitas pergerakan sesar ini terus berlanjut hingga beberapa tahun berikutnya. Pada 13 Desember 2022, pergerakan patahan di segmen Bali memicu Gempa Karangasem bermagnitudo 5,2 yang berpusat di laut sebelah utara Karangasem. Meskipun tergolong kategori menengah, guncangan dangkal ini merusak puluhan rumah warga serta fasilitas publik di wilayah Kabupaten Karangasem dan sekitarnya.

Catatan panjang ini menegaskan bahwa Flores Back-Arc Thrust merupakan sistem patahan aktif yang membutuhkan perhatian serta kesiapsiagaan mitagasi bencana yang berkelanjutan di sepanjang pesisir kepulauan Nusa Tenggara hingga Bali. (Red)

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *