Kombes Pol M. Arsal Sahban, Monster Lumajang yang Mengerikan Tapi Berintegritas, Juga Penyidik Ahli Kejahatan Blockchain

Kombes Pol M. Arsal Sahban.
progresifjaya.co.id, JAKARTA – Kombes Pol. Dr. M. Arsal Sahban, S.H., S.I.K., M.H., M.M. adalah seorang perwira melati tiga Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) yang dikenal sebagai polisi inovatif dan ahli di bidang kejahatan finansial modern/blockchain. Dia juga menjadi nominator 3 besar Hoegeng Awards 2026 kategori Polisi Berintegritas.
Saat ini, pria kelahiran Makassar, 21 Januari 1977 ini memegang jabatan sebagai Kasubdit II Perbankan Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri.

Di tangannya, satu kasus ekonomi skala besar yakni penyidikan kasus dugaan penipuan, penggelapan, dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) di platform fintech lending PT Dana Syariah Indonesia (PT DSI) sedang ditangani.
Setelah dilakukan penelusuran, kasus gagal bayar dan penipuan ini rupanya memiliki nilai aset lebih dari Rp500 miliar dari total restitusi korban yang mencapai Rp1.076.021.883.889 atau sekitar Rp1,07 triliun.
Luar biasa besar, memang, skala perkara ini. Dan berdasarkan hasil pemeriksaan OJK per September 2025, PT DSI sudah menghimpun dana sebesar Rp11,49 triliun dari 23.266 lender sejak 2018. Dari jumlah tersebut, dana sebesar Rp2,47 triliun belum dikembalikan, dan sekitar Rp1,87 triliun di antaranya diduga dialirkan ke proyek fiktif.
Dalam penanganannya, penyidik juga sudah membagi perkara PT DSI ke dalam empat klaster. Klaster pertama menjerat Taufiq Aljufri selaku Direktur Utama, Mery Yuniarni selaku mantan direktur sekaligus pemegang saham, dan Arie Rizal Lesmana selaku komisaris sekaligus pemegang saham PT DSI.
Klaster kedua menjerat Atis Sutisna selaku Direktur PT DSI periode 2018–2024. Klaster ketiga menjerat FH, mantan pejabat OJK. Adapun klaster keempat menjerat PT DSI sebagai tersangka korporasi dan saat ini masih dalam tahap penyidikan.
Berkas perkara klaster pertama hingga ketiga saat ini sudah dinyatakan lengkap (P21) dan tengah ditangani oleh Kejaksaan Negeri Depok.
Tim Cobra Polres Lumajang

Sebelum tiba di pos tugas sekarang, pria berzodiak Aquarius ini bertugas sebagai Analis Kebijakan Madya Bidang Eksus Bareskrim Polri /Koordinator Posko Presisi Polri. Tapi nama besarnya justru mencuat saat bertugas memimpin Polres Lumajang, Polda Jawa Timur pada tahun 2018-2019.
Integritas dan dedikasinya langsung terlihat saat membentuk Tim Cobra untuk memberantas kejahatan jalanan (begal, pencurian hewan/curnak, hingga penambangan pasir ilegal). Terlebih wilayah Lumajang sebelumnya terkenal dengan julukan Kota Begal.
Saat Kombes Pol Arsal – saat itu masih berpangkat AKPB menginjakkan kakinya di Lumajang, angka kriminalitasnya masih tinggi. Sementara kepercayaan masyarakat pada aparat rendah, dan ketakutan berkendara malam hari juga sudah menjadi bagian keseharian warga.
Menyikapi situasi inilah Kombes Pol Arsal langsung bergerak cepat dengan membentuk unit khusus yang diberi nama Tim Cobra. Tugas tim ini adalah fokus pada tiga masalah utama yakni, begal, pencurian sapi, dan tambang pasir ilegal. Tidak butuh waktu lama, nama Tim Cobra pun menjadi momok bagi para penjahat di seluruh kabupaten.

Di Polres Lumajang, Kombes Pol Arsal juga berhasil beberapa kasus besar. Salah satunya adalah membongkar kasus bisnis berskema piramida yang dilakukan oleh PT Q-NET dengan dalih sistem MLM. Untuk kasus ini, Direktur PT Amoeba International berinisial MK pun sebagai tersangka.
Harus diakui, memang, sosok Kombes Pol Arsal saat menjabat sebagai Kapolres Lumajang ternilai bak monster yang mengerikan buat para pelaku kejahatan begal. Apalagi kala itu dia sampai memberikan pernyataan yang menghalalkan darah para begal.
Berikut ini adalah peninggalan postingan Kapolres Lumajang, Kombes Pol Arsal Sahban — saat itu masih AKBP yang masih terekam jelas hingga sekarang:
“Kepada masyarakat Lumajang dan sekitarnya.
Saya Kapolres Lumajang mohon maaf yang sangat mendalam atas kejadian begal yang menyebabkan meninggalnya salah satu warga Jember semalam.
Ini tentu merupakan tanggung jawab saya. saya sangat merasa bersalah atas kejadian ini.
Pelaku harus bisa kita tangkap. Katim Cobra sudah saya perintahkan agar dengan segala cara bisa menangkap pelakunya. KATIM COBRA HARUS TEMBAK DITEMPAT PELAKU BEGAL.

PELAKU BEGAL SAYA HALALKAN DARAHNYA. SILAHKAN BAGI MASYARAKAT UNTUK MENUMPAS, JANGAN TAKUT DAN RAGU.
Saya juga berharap kepada masyarakat yang mengetahui pelakunya agar menginfonrmasikan kepada kami. saksi akan kami lindungi dan kami rahasiakan.
Saya imbau juga kepada masyarakat Lumajang dan sekitarnya untuk tidak membeli kendaraan bodong, karena akan menyuburkan aksi-aksi begal. bila peminat motor bodong tinggi, maka suplainya pasti meningkat. Dan suplai motor bodong pasti dari tindak kejahatan seperti Begal.
Ke depan, saya akan mencari segala cara untuk membuat Lumajang aman dan terbebas dari masalah BEGAL. Mohon dukungannya dari semua lapisan masyarakat Lumajang”.
MARI KITA LAWAN BALIK KEJAHATAN

Sikap keras dan tegasnya selama memimpin Polres Lumajang ini juga didukung oleh data statistik. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kejahatan yang dilaporkan di Kabupaten Lumajang mencatat titik terendahnya tepat di 2019 saat Kombes Pol Muhammad Arsal masih menjabat.
Sementara sebelum tahun 2018, angka kejahatan di Lumajang mencapai 522 kasus per tahun. Namun saat Kombes Pol Arsal menjadi Kapolres Lumajang, angkanya bisa turun banyak hingga 312 per tahun. Sedangkan untuk penyelesaian kasusnya mencapai 88,46%.
Angka kejahatan di Lumajang kembali melonjak hingga mencapai 1.378 kasus per tahun setelah Kombes Pol Arsal meninggalkan Polres Lumajang. Beginilah faktanya sesuai data statistik.
Akademi Peraih Nastrap Terbaik Sespimti

Di luar tugasnya sebagai perwira aktif, Kombes Pol Arsal Sahban juga diketahui menjalani kehidupan akademik yang serius. Dia adalah dosen tetap STIK-PTIK dengan pangkat akademik Lektor — gelar yang diakui dan dikeluarkan secara resmi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Tak sekadar jabatan fungsional internal, ini juga menjadi pengakuan negara atas kapasitas keilmuannya.
Harus diakui, Kombes Pol Arsal memang sangat aktif di dunia pendidikan. Dia juga mendirikan yayasan pendidikan/kampus (STIMLASH Makassar) dan pernah menjalin kerja sama internasional (seperti dengan Northern Illinois University, AS). Keren, kan.
Namun sebagai akademisi, ternyata dia juga bisa tetap bersikap tawadhu dan tak pernah berhenti belajar.
Pada Desember 2025, Kombes Pol Arsal Sahban menyelesaikan pendidikan kepemimpinan tertinggi Polri di Sespimti — bukan sebagai pengajar, melainkan sebagai peserta didik.
Saat mengikuti pendidikan Sespimti, dia mendapat penghargaan Naskah Strategis (Nastrap) terbaik, Sespimti Polri Dikreg 34 Gelombang 2 yang berjudul “Ancaman Baru di Balik Blockchain: Strategi Polri dalam Memitigasi Cyber Dependent Financial Crime demi Menjaga Stabilitas Ekonomi Nasional”. Karya tulis strategis yang disusun peserta didik Sespimti Polri ini adalah syarat kelulusan.
Dan dia berhasil meraih predikat sebagai lulusan terbaik bidang Sanyata Sumanasa Wira Aksara (Novelty). Penghargaan lulusan terbaik bidang Novelty ini diserahkan langsung oleh Kalemdiklat Polri, Komjen Pol Chryshnanda Dwilaksana.
Nastrap Kombes Pol Arsal dalam Sespimti ini mengangkat fenomena kejahatan model baru yang tak lagi sekadar masuk kategori cyber crime. Tapi sudah berkembang menjadi cyber dependent financial crime.
Nastrap ini dinilai punya nilai-nilai kebaruan (novelty), pemikiran mendalam tentang solusi dan strategi untuk menghadapi tantangan, isu, serta kontinjensi yang memperkuat kapasitas Polri.
Karya Kombes Pol Arsal dinilai sudah berhasil menghadirkan perspektif baru tentang peran Polri untuk menjaga stabilitas keuangan negara di tengah akselerasi teknologi global. He’s the best, bro.
Pendidikan Sespimti Polri Dikreg 34 Gelombang 2 yang diikuti Kombes Pol Arsal secara keseluruhan diikuti oleh 368 peserta didik. Para peserta didik itu terdiri dari peserta Sespimti Polri Angkatan 34 Gelombang 2 sebanyak 60 peserta, Sespimmen Angkatan 65 Gelombang 2 (141 peserta), SPPK Angkatan 2 (63 peserta), dan Sespimma Angkatan 74 sebanyak 104 peserta.
Penutupan pendidikan ini bisa dianggap sebagai tanda lahirnya para pemimpin strategis Polri yang diharapkan mampu menjawab tantangan keamanan nasional ke depan. Termasuk juga ancaman kejahatan digital dan keuangan yang semakin kompleks.
Dan Alhamdulillah, ternyata ini benar-benar bisa dikuasai oleh Kombes Pol yang saat ini sedang repot memimpin penyidikan kasus besar dugaan penipuan, penggelapan, dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) di platform fintech lending PT DSI.
Kategori Polisi Berintegritas

Nama Kombes Pol Muhammad Arsal Sahban yang saat itu bertugas sebagai Analis Kebijakan Madya Bidang Eksus Bareskrim Polri pernah masuk dalam tiga besar kandidat penerima Hoegeng Award 2026 kategori Polisi Berintegritas.
Masuknya nama Kombes Pol Arsal ini memiliki 1.001 alasan. Dia dinilai berhasil menjalankan tugasnya selama menjabat sebagai Kapolres Lumajang. Jadi wajar banget, lah kalau Komandan Cobra bisa sampai masuk sebagai salah satu nominator.
“Untuk memastikan penerima kategori Polisi Berintegritas memang betul-betul harus polisi yang berintegritas. Perlu dilakukan pengecekan secara berlapis untuk memastikan integritasnya terjamin,” kata Dewan Pakar Hoegeng Awards 2026 Gufron Mabruri kala itu.
Saat penulis mencoba untuk mengulik lebih jauh, kategori Polisi Berintegritas ini rupanya oleh para juri dianggap sebagai yang paling sulit, berlapis verifikasinya, dan paling bergengsi dalam ajang ini.
Dalam kategori ini, rekam jejak kandidat harus ditelusuri secara menyeluruh dan berlapis. Mulai dari kewajaran laporan keuangan LHKPN, ada tidaknya konflik kepentingan dalam pelaksanaan tugas, gaya hidup, hingga konfirmasi silang dari berbagai sumber independen.
Makanya dalam kacamata para juri, kategori ini akan menjadi wajah utama Polri di hadapan masyarakat. (Bembo)



