Temuan di Lapangan: Pabrik Motor Listrik Emmo Lebih Mirip Gudang Ketimbang Pabrik Perakitan Otomotif Mapan

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Terungkap temuan di lapangan mengenai pabrik motor listrik Emmo (yang digunakan untuk program Makan Bergizi Gratis/MBG) menunjukkan bahwa lokasi tersebut lebih menyerupai gudang penyimpanan atau tempat perakitan sederhana daripada sebuah pabrik perakitan otomotif yang mapan.
Kantor dan lokasi “pabrik” Emmo berada di kawasan industri Babakan Madang, Sentul, Kabupaten Bogor, di mana kawasannya didominasi oleh gudang, bukan gedung perkantoran otomotif pada umumnya. Emmo Mobility, yang produknya diborong pemerintah, kedapatan menyimpan unit di lokasi yang dinilai seperti “gudang dadakan”.
Sebuah investigasi lapangan yang dilakukan oleh tim OTOPR dikutip Rabu (15/4), melaporkan, di lokasi tersebut, terlihat pemandangan ratusan unit motor listrik yang berjejer rapi di dalam gudang. Namun, “kemegahan” tumpukan unit tersebut kontras dengan kesaksian warga sekitar mengenai riwayat bangunan itu sendiri.

Informasi dari warga sekitar mengungkapkan sebuah fakta yang cukup mencuri perhatian. Bangunan yang kini menjadi markas Emmo tersebut dikabarkan sempat terbengkalai dan kosong melompong selama 2 hingga 3 tahun. Tetapi suasana kesibukan mendadak terlihat sesuai lebaran. Sedangkan pengiriman motor dilakukan pada sore hari. Demikian pernyataan warga sekitar dalam laporan tersebut.
Meskipun ribuan unit motor listrik telah dibeli untuk operasional kepala satuan pelayanan gizi, showroom atau kantor resmi Emmo dilaporkan masih dalam tahap “coming soon”. Karena terlihat pekerja masih melakukan renovasi gedung seperti sedang mengecat dan lainnya.
Jika sebuah fasilitas produksi baru benar-benar “hidup” setelah bertahun-tahun mati suri tepat saat proyek besar negara berjalan, maka muncul pertanyaan krusial mengenai kematangan rantai produksinya. Secara teknis, keterlibatan sebuah brand dalam program berskala nasional seperti MBG menuntut standar kualitas dan konsistensi produksi yang tinggi.
Perlu diingat bahwa industri motor listrik di Indonesia tidak hanya soal merakit unit di gudang. Pemerintah telah menetapkan standar Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang ketat. Jika sebuah fasilitas baru aktif dalam hitungan bulan, publik patut mempertanyakan sejauh mana proses riset, pengembangan, dan lokalisasi komponen benar-benar dilakukan di sana, ataukah lokasi tersebut hanya berfungsi sebagai tempat transit perakitan akhir semata.

Sebelumnya dalam narasi video singkat yang viral dari kreator konten Aryo Pamungkas, menuding bahwa armada operasional Kepala Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), yakni Emmo JVX GT, tak lebih dari sekadar produk impor China rakitan Alibaba bernama Kollter ES1-X Pro yang di-rebranding alias cuman ganti stiker.
Lebih mencengangkan lagi, Aryo menyebut harga asli motor itu hanya Rp7 juta hingga Rp10 juta, sangat jauh dari harga pengadaan yang disebutnya Rp 42 juta.
Temuan ini menimbulkan tanda tanya mengenai kapasitas produksi sesungguhnya dari merek tersebut, mengingat motor ini digunakan untuk program strategis negara.
Editor: Hendy



