Cegah Penyebaran Ekstremisme dan Terorisme di Kalangan Pelajar, Polda Bali Gelar Talkshow Segitiga Ekosistem Perlindungan Anak

Polda Bali mengadakan talk show tentang Segitiga Ekosistem untuk Perlindungan Anak di Sekolah di Gedung Presisi Polda Bali.
progresifjaya.co.id, BALI – Polda Bali intens berkolaborasi lintas sektor untuk memperkuat keamanan pariwisata dan menjaga stabilitas ekonomi. Sinergi ini melibatkan TNI, pemerintah daerah, desa adat (Pecalang), dan tokoh agama, termasuk penggunaan teknologi Smart Road Safety Policing untuk keamanan terpadu.
Baru-baru ini, Polda Bali juga melakukan kolaborasi lintas sektor untuk mencegah penyebaran ekstremisme dan terorisme di kalangan pelajar. Upaya ini dilakukan dengan menggelar Talkshow Segitiga Ekosistem Perlindungan Anak di Lingkungan Sekolah di Gedung Presisi Polda Bali pada Jumat, 24 April 2026.
Kegiatan ini adalah hasil sinergi antara Polda Bali, Densus 88 AT Polri, Dinas Pendidikan Provinsi Bali (Disdikpora), KPAD Provinsi Bali (Badan Perlindungan Anak), dan Kantor Agama Provinsi Bali. Juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan, perlindungan anak, dan pengembangan keluarga.
Dalam sambutannya atas nama Kepala Densus 88 AT Polri, Wakapolda Bali, Brigjen Pol I Made Astawa menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mengatasi ekstremisme anak.
Dia menyatakan bahwa berbagai upaya mitigasi yang dilakukan oleh kementerian dan lembaga masih cenderung parsial dan tidak terintegrasi.
“Hal ini menghadirkan tantangan bersama untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi lintas sektor, termasuk mendorong pembentukan gugus tugas nasional yang mampu mengkoordinasikan upaya respons terpadu, baik di tingkat pusat maupun daerah,” jelasnya.
Dia juga menekankan bahwa perlindungan anak kini telah menjadi isu strategis nasional.
“Perlindungan anak saat ini bukan lagi sekadar isu sosial, tetapi telah menjadi isu keamanan nasional. Ancaman terhadap anak bersifat dinamis, kompleks, dan seringkali tak terlihat oleh mata telanjang,” tegas Wakapolda Astawa.
Lebih lanjut, dia juga menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda di era digital. Sebagai generasi digital, kata Wakapolda Astawa, generasi muda memang maju secara teknologi. Namun, pada saat yang sama, mereka juga rentan terhadap paparan informasi yang tidak tersaring, efek ruang gema, dan literasi digital mereka masih relatif rendah.
Sementara itu, Wakil Menteri Kependudukan dan Pengembangan Keluarga, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menekankan dalam pernyataannya bahwa melindungi anak-anak dari pengaruh ekstremisme telah menjadi bagian dari agenda pembangunan strategis nasional.
“Melindungi anak-anak dari pengaruh ekstremisme harus dimulai dari akarnya, yaitu keluarga. Ini merupakan bagian dari investasi dalam pengembangan sumber daya manusia Indonesia,” katanya.
Gubernur Bali, Wayan Koster, juga menekankan penguatan nilai-nilai kearifan lokal. Dia menyatakan, hal ini dapat menjadi benteng melawan masuknya ideologi yang bertentangan dengan karakter bangsa.
“Nilai-nilai lokal seperti Tri Hita Karana harus terus diperkuat untuk menjaga keharmonisan dan membangun generasi muda yang toleran,” kata Gubernur Koster.
Pendidikan Karakter

Kapolda Bali, Irjen Pol Daniel Adityajaya, dalam pernyataannya di acara talkshow menekankan komitmen Polri terhadap pendekatan kolaboratif dan preventif.
“Pencegahan tidak bisa dilakukan sebagian; dibutuhkan sinergi antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat,” kata Kapolda.
Selama acara talkshow, Densus 88 AT Polri juga menyoroti penyebaran ideologi ekstremis yang sering menggunakan platform digital untuk menargetkan kaum muda. Pendekatan deteksi dini dianggap menjadi kunci untuk mencegah paparan sejak dini.
Ketua KPAD Provinsi Bali, Ni Luh Gede Yastini juga menekankan bahwa anak-anak yang terpapar ekstremisme harus dipandang sebagai korban yang membutuhkan perlindungan khusus.
“Pendekatan yang digunakan harus memprioritaskan kepentingan terbaik anak, termasuk dalam proses penanganan dan reintegrasi,” jelasnya.
Masih dalam kesempatan yang sama, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bali, melalui Kepala Divisi Pengembangan PK dan PLK, Anak Agung Bagus Suryawan, juga menyoroti pentingnya penguatan pendidikan karakter sebagai instrumen pencegahan utama.
“Pendidikan karakter adalah instrumen pencegahan utama untuk membangun ketahanan mental, moral, dan intelektual siswa sehingga mereka tidak mudah terpengaruh oleh radikalisme atau terorisme,” tegasnya.
Selain presentasi, acara talkshow ini juga menghadirkan deklarasi bersama melawan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. Deklarasi tersebut digaungkan oleh siswa, guru, orang tua, dan seluruh pemangku kepentingan di Provinsi Bali.
Melalui pendekatan segitiga ekosistem yang melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat, diharapkan tentunya hal ini akan memperkuat ketahanan sosial. Juga menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari pengaruh ideologi kekerasan.
Penulis/Editor: Bembo



