Dianggap Terjamin Air Pegunungan: Orang Kaya Indonesia Lebih Suka Konsumsi AMDK Impor

Beberapa merek air mineral impor
progresifjaya.co.id, JAKARTA – Ribut-ribut soal air mineral Aqua yang iklannya menyebut berasal dari mata air pegunungan padahal berasal dari sumur artesis yang berupa air akuifer, ternyata hal tersebut tidak dipedulikan orang-orang kaya di Indonesia. Pasalnya, mereka sudah tidak mempercayai air mineral dalam kemasan (AMDK) yang diproduksi di dalam negeri. Lebih baik keluar uang lebih membeli air kemasan impor dari pada meminum AMDK lokal seperti Aqua, Le Minerale maupun merk lainnya yang beredar di pasaran.
Pastinya orang kaya Indonesia tidak minum air mineral dari mata air pegunungan yang diragukan kebenarannya, tapi mereka mengkonsumsi air mineral kemasan impor yang berasal dari pegunungan Fiji hingga Alpen. Mereka bilang kualitas air minum kemasan yang diproduksi perusahaan di luar negeri sudah terjamin, benar-benar diperoleh dari pegunungan dan tidak perlu diragukan lagi.
Menurut laporan Alinea, seperti dikutip CNBCIndonesia, air mineral impor yang masuk ke Indonesia umumnya berkategori premium, seperti air dari Pegunungan Alpen di Prancis dan Italia atau air vulkanik dari Fiji. Air-air ini dipasarkan sebagai produk berkelas tinggi. Konsumennya disamping orang-orang berduit, juga menjadi minuman favorit di restoran bintang lima, hotel internasional, serta layanan katering penerbangan atau diplomatik.
Tidak berasal dari pegunungan saja, air Zamzam yang berasal dari dalam tanah juga di impor dari Arab Saudi. Produk air unggulan, seperti Zamzam Water yang dikomersialisasikan secara terbatas, serta sejumlah air mineral botolan berasal dari pengeboran dalam dan pengolahan khusus di kawasan Taif dan Mekah. Merek seperti Nova Water dan Berain telah mulai masuk ke sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Meskipun harganya cukup mahal bagi kalangan orang kebanyakan di Indonesia, kebutuhan akan air mineral impor di Indonesia pun meningkat dalam lima bulan awal 2025. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan menunjukkan, dalam lima bulan pertama 2025, nilai impor air mineral (HS 22011010) ke Indonesia mencapai US$1,74 juta atau naik 148,48% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Volume impornya juga naik signifikan sebesar 125,85% menjadi 1.707 ton. Ini menunjukan warga kelas atas lebih percaya mengkonsumsi air mineral kemasan impor daripada AKD.
Negara pemasok terbesar datang dari Prancis (826 ton), diikuti Fiji (340 ton), Italia (320 ton), dan Jepang (41 ton). Sedangkan Arab memasok 24,4 ton air mineral, dengan nilai naik 268% secara tahunan. Jadi jelas, bagi para konglomerat yang kelebihan duit, lebih memilih air mineral kemasan impor untuk kebutuhan minum sehatnya.
Kondisi ini tentu mengundang banyak pertanyaan, mengapa Indonesia negara dengan curah hujan tinggi dan sumber daya air melimpah, harus mengimpor air mineral dari luar negeri? Tentu jawabannya, jaminan kesehatan air mineral yang diproduksi negara-negara pengimpor lebih terjamin. Orang-orang kaya lebih percaya produk air mineral impor, karena jelas sumber air seperti diiklan di kemasannya, tidak seperti AMDK lokal iklannya mata air pegunungan ternyata sumber airnya diambil dari sumur artesis, meski akuifer dikatakan berasal dari pegunungan juga.
Meski nilai impornya tergolong kecil dalam konteks total perdagangan, lonjakan persentase mencerminkan permintaan pasar yang berubah. Segmen premium AMDK lokal menghadapi tantangan dari produk impor dengan citra eksklusif. Impor air meningkat tajam bukan karena kekurangan suplai domestik, melainkan karena fenomena pasar: kebutuhan akan produk premium, branding eksklusif, dan kemudahan logistik akibat perjanjian dagang.
Editor: Isa Gautama



