Polisi Turun Tangan: Alami Kekerasan Verbal dari Anggota Dewan, Dokter Icha Depresi Berakhir Bunuh Diri

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Kekerasan verbal ternyata lebih kejam dan fatal akibatnya daripada kekerasan fisik, seperti dialami Yuvita Tri Rezeki (29) dalam kasus penyekapan dan penganiayaan berat di Bandung, Jawa Barat. Ini terbukti, korban yang menerima kekerasan verbal, bisa meninggal dunia akibat trauma dan depresi mental.
Hal itu dialami seorang dokter muda perempuan bernama Eliza Princila Utami Pakaenoni alias Icha (26) yang meninggal dunia pada Jumat petang (26/6) akibat mendapat kekerasan verbal. Sang dokter yang diintimidasi secara kasar, diketahui mengalami depresi, kejiwaannya terguncang hingga akhirnya bunuh diri setelah menjalani perawatan intensif atas trauma yang dialaminya.
Peristiwa dugaan intimidasi itu terjadi 13 Juni 2026 saat dokter muda ini bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (UTT), Nusa Tenggara Timur (NTT). Ketika itu, dokter Icha menangani pasien seorang anak korban gigitan ular hijau yang merupakan rujukan dari RSUD Kefamenanu.
Intimidasi tersebut diduga dilakukan oleh dua pria yang mengaku sebagai anggota DPRD setempat. Keduanya disebut berbicara dengan nada keras kepada dokter operempuan itu. Belakangan diketahui, anggota dewan ini adalah Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani. Pasien merupakan keponakan Therensius.
Atas dugaan intimidasi itu membuat dokter Icha terguncang hingga menangis di rumah sakit. Korban mengalami ketakutan dan tekanan psikologis akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas menangani pasien yang digigit ular itu. Sampai akhirnya dokter yang sempat mendapat perawatan kesehatan jiwa selama 6 hari itu ditemukan meninggal dunia gantung diri di lantai dua rumahnya.
Berita kekerasan verbal itu sebelumnya viral dimedia sosial. Mesti bukan dari rekaman CCTV, tapi berita-berita di media lokal dan nasional gencar memberitakan kasus intimidasi anggota dewan yang menyebabkan dokter Icha depresi hingga polisi turun tangan. ++. Meski belum ada laporan Polres TTU telah memeriksa rekan-rekan dokter Icha yang berada di IGD RS Leona saat dugaan intimidasi tersebut berlangsung.
Tidak itu saja, polisi juga akan memeriksa para anggota dewan di antaranya Veronika Lake dari PDIP, Norbertus Bani dari PKB, dan Thrensius Lazakar dari Golkar. Meski tidak ikut mengintimidasi, Veronika disebut berada di IGD bersama dua anggota dewan itu.
Kapolres TTU AKBP Eliana Papote, menegaskan segera memanggil tiga anggota dewan itu untuk dimintai klarifikasi. “Kami dari Polres belum mendapatkan laporan. Namun, berdasarkan berita viral yang sudah tersebar di media sosial, kami sudah melakukan beberapa tindakan kepolisian,” ujar Eliana saat mengunjungi rumah duka almarhum dokter Icha di Perumahan RSS Baumata, Kupang.
Eliana juga menyampaikan duka kepada keluarga atas kepergian Icha. Selain itu, polisi akan melengkapi alat bukti berupa rekam medis almarhumah saat dirawat di RSU Leona serta hasil psikologis dari RSUP Ben Mboi. Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan pimpinan DPRD, terkait pengaduan dari keluarga korban di Badan Kehormatan (BK) DPRD TTU.
Sementara itu pihak keluarga dokter Icha menyatakan sebanyak 23 orang saksi siap memberikan keterangan terkait dugaan intimidasi oleh dua anggota DPRD yang diduga mabuk, karena disebut tercium bau alkohol saat memasuki IGD.
Hal itu disampaikan paman sekaligus juru bicara keluarga, Fabianus Banase, kepada wartawan Sabtu (27/6). “Setelah kami telusuri, sekitar 23 orang saksi itu (sebut) ada bau miras alkohol saat mereka (anggota DPRD) masuk ke ruang IGD. 23 orang itu siap untuk menjadi saksi ketika kami lanjutkan ke laporan pidana,” tegas Fabianus.
“Menurut saksi-saksi yang ada saat itu di Rumah Sakit Leona, Robertus Tubani dan Terensius Lazaka, mengonsumsi minuman keras. Saatkeduanya berbicara berhadapan dengan dokter dan petugas medis lainnya, mulut mereka tercium berbau alkohol,” kata Fabianus lagi.
Selain kesaksian para tenaga medis dan pihak yang berada di lokasi, keluarga mengaku juga menerima dokumentasi berupa foto yang diambil saat kejadian berlangsung. “Saat membentak (Icha) itu bau alkohol. Ada juga fotonya yang dikirimkan kepada kami sebagai keluarga,” katanya.
Keluarga juga menyayangkan tidak adanya CCTV di area IGD RS Leona Kefamenanu. Menurut Fabianus, kondisi tersebut menyulitkan proses pembuktian apabila kasus ini berlanjut ke ranah hukum.
“Yang kami sesalkan, rumah sakit tidak memiliki CCTV di dalam area pelayanan. CCTV hanya ada di luar. Namun, sekitar 23 orang saksi mengiyakan bahwa dua anggota DPRD itu diduga dalam keadaan mabuk minuman keras saat masuk ke ruang IGD,” pungkas Fabianus.
Sementara itu, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, membantah melakukan intimidasi. “Kami tidak pernah berniat mengintimidasi tenaga medis. Informasi yang beredar tidak sesuai fakta yang sebenarnya terjadi,” kata Therensius dalam keterangan tertulis kepada media daring.
Therensius menjelaskan keluarga panik karena keponakannya terus mengeluh sakit. Sementara, keluarga juga belum mendapatkan penjelasan medis yang memuaskan. “Kami akui dalam situasi itu nada bicara kami memang sempat meninggi karena panik melihat kondisi pasien. Tetapi sama sekali tidak ada niat untuk mengintimidasi dokter,” ujar Therensius seraya menyebut situasi mereda setelah dokter lain menjelaskan darah pasien tidak terkontaminasi bisa ular.
Norbertus menambahkan, setelah mendapat penjelasan lengkap mereka minta maaf kepada Direktur RS Leona, dokter, dan nakes IGD. ‘Pasien sudah membaik setelah tiga hari dirawat dan kini telah kembali ke rumahnya di Kiupukan,” kata Norbertus.
Bupati TTU Yosep Falentinus Delasalle Kebo mengaku baru mendapatkan informasi tersebut. Namun demikian, ia menegaskan Pemkab TTU mendukung keluarga untuk menempuh jalur hukum. “Dari pihak pemerintah mendukung segala upaya yang akan diambil oleh keluarga almarhumah dokter Icha terhadap anggota DPR ini. Karena pemerintah tidak mau ke depannya akan terjadi dokter takut untuk tugas di TTU. Pemerintah saat ini sedang berupaya keras untuk memberikan rasa aman kepada para dokter yang bertugas di TTU, karena kami sadar akan kurangnya minat dokter ke TTU,” tulis Valen dalam pesannya.
Penulis/Editor: Isa Gautama



