Setiap Bayi Lahir Dapat Rp 1 M: Enaknya Hidup di Singapura, Biaya Pendidikan Ditanggung Pemerintah

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Kalau Indonesia mau maju, berkembang dan rakyatnya sejahtera, coba tiru program Pemerintah Singapura. Presidennya menyiapkan dukungan finansial hampir S$70.000 atau sekitar Rp973 juta untuk setiap anak warga negaranya. Pemberian duit tunai itu dihitung sejak lahir hingga berusia 17 tahun. Itulah baru program yang harus dicontoh, sehingga uang langsung diberikan kepada yang bersangkutan, tidak bisa dikorupsi.
Tidak seperti di Tanah Air, program unggulan Presiden seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang anggarannya ratusan triliun rupiah, terungkap banyak dikorupsi. Mestinya, anggaran MBG itu diberikan langsung kepada ibu sang anak, seperti di negara kecil di ujung dekan Pulau Sumatera itu.
Kebijakan pemerintah Singapura ini patut diacungi jempol, karena menjadi bagian dari perubahan besar skema dukungan keluarga untuk membantu mengurangi beban biaya membesarkan anak. Alhasil orang tua tidak perlu repot soal biaya makan maupun pendidikan, karena langsung ditanggung pemerintah.
Mengutip CNA, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong mengumumkan SG Child Support Package dalam National Day Rally pada minggu lalu. Paket baru tersebut menggantikan dan menggabungkan dukungan yang sebelumnya diberikan melalui Baby Bonus Scheme dan Large Families Scheme.
Dengan asumsi kurs Rp13.900 per dolar Singapura, total bantuan hampir S$70.000 setara sekitar Rp973 juta. Dukungan tersebut diberikan secara bertahap sejak kelahiran hingga anak mencapai usia 17 tahun.
“Secara keseluruhan, setiap anak warga Singapura akan menerima hampir S$70.000 dalam bentuk dukungan finansial langsung selama mereka tumbuh besar,” kata Wong.
Pemerintah Singapura menyatakan paket baru memberikan dukungan lebih besar dibandingkan skema sebelumnya. Anak pertama, misalnya, berpotensi menerima tambahan hingga S$42.000 atau sekitar Rp583,8 juta dibandingkan skema saat ini ketika berusia 17 tahun. Sementara anak ketiga mendapatkan tambahan hingga S$19.000 atau sekitar Rp264,1 juta.
Per Juni 2026, lebih dari 610.000 anak berusia 17 tahun ke bawah dari 380.000 rumah tangga diperkirakan akan memperoleh manfaat dari kebijakan tersebut.
SG Child Support Package memberikan dukungan hingga S$62.000 atau sekitar Rp861,8 juta untuk setiap anak warga negara Singapura. Jumlah tersebut belum termasuk sejumlah manfaat yang sudah ada, seperti MediSave Grant for Newborns dan kontribusi Edusave. Jika seluruh dukungan diperhitungkan, totalnya mencapai sekitar S$70.000 atau Rp973 juta.
Mulai 1 April 2027, setiap bayi yang memenuhi syarat akan memperoleh S$10.000 atau sekitar Rp139 juta dalam bentuk Baby Gift. Dana tersebut dibayarkan dalam dua tahap selama 12 bulan pertama setelah kelahiran.
Setiap anak juga mendapatkan S$5.000 atau sekitar Rp69,5 juta melalui Child Development Account (CDA) First Step Grant serta hingga S$5.000 atau sekitar Rp69,5 juta melalui pencocokan dana (co-matching) pemerintah.
Selanjutnya, pemerintah memberikan S$2.000 atau sekitar Rp27,8 juta per tahun dalam bentuk Child Credits selama 16 tahun, mulai ketika anak berusia satu hingga 16 tahun. Total Child Credits mencapai S$32.000 atau sekitar Rp444,8 juta.
Ketika anak berusia 17 tahun, pemerintah memberikan tambahan S$10.000 atau sekitar Rp139 juta ke Post-Secondary Education Account (PSEA) untuk membantu biaya pendidikan setelah sekolah menengah.
Periode CDA juga diperpanjang hingga akhir tahun ketika anak berusia 16 tahun, dari sebelumnya 12 tahun. Kebijakan ini memberikan waktu lebih panjang bagi orang tua untuk memperoleh pencocokan dana pemerintah serta menggunakan dana CDA untuk kebutuhan pengasuhan yang diperbolehkan.
Paket baru juga memperluas penerima manfaat kepada seluruh anak warga negara Singapura, termasuk anak dari keluarga dengan orang tua tunggal. Sebelumnya, bantuan tunai tertentu dalam Baby Bonus Scheme dan Large Family LifeSG Credits hanya diberikan kepada anak yang orang tuanya menikah secara sah.
National Population and Talent Division (NPTD) menyatakan pemerintah tetap mempertahankan keluarga tradisional sebagai norma sosial. Namun, pemerintah juga menilai setiap anak perlu memperoleh dukungan untuk tumbuh dan berkembang.
“Karena manfaat tersebut ditujukan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, manfaat akan diperluas kepada seluruh anak warga negara Singapura, terlepas dari urutan kelahiran, kondisi keluarga, atau status pernikahan orang tua,” kata NPTD.
Skema baru juga mengubah pendekatan berdasarkan urutan kelahiran. Jika sebelumnya anak dengan urutan kelahiran lebih tinggi memperoleh bantuan lebih besar, kini setiap anak mendapatkan dukungan dasar yang sama.
Pemerintah akan menghentikan Large Families Scheme. Namun, keluarga dengan tiga anak atau lebih tetap memperoleh bantuan tambahan di luar SG Child Support Package.
Pemerintah sedang mengkaji perluasan dukungan untuk keluarga besar, termasuk bantuan biaya kesehatan, transportasi, dan perumahan. Saat ini, keluarga dengan tiga anak atau lebih juga memperoleh S$5.000 atau sekitar Rp69,5 juta melalui Large Family MediSave Grant.
Wong mengatakan keputusan memiliki anak tetap merupakan pilihan personal. Namun, pemerintah berupaya mengurangi beban yang dihadapi keluarga dalam membesarkan anak.
“Yang dapat kami lakukan adalah memudahkan warga Singapura yang ingin memiliki anak untuk memulai dan membesarkan keluarga,” kata Wong.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari rekomendasi awal Marriage and Parenthood Reset Workgroup yang diterima pemerintah. Kelompok kerja tersebut masih mengkaji sejumlah kebijakan lain, termasuk dukungan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan, kesehatan kesuburan dan maternitas, serta pendidikan dan pembentukan hubungan.
Penulis/Editor: Isa Gautama



