BERITA UTAMA NASIONAL

Ramai Disindir di Medsos: Jadi Wantimpres, Rocky Gerung Diduga Tergiur dengan Gaji Rp 1 M/Tahun

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Ramai di media sosial sindiran bahkan hujatan terhadap Rocky Gerung ketika diketahui dia dilantik Presiden Prabowo menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Pasalnya selama ini pengamat politik, aktivis dan dosen itu selalu mengritik dengan kalimat-kalimat yang menohok dan bahkan mengejek orang-orang atau pejabat di dalam pemerintahan dari Joko Widodo (Jokowi) sampai Prabowo sekarang. “Wah si Rocky udah masuk angin tuh,” ujar beberapa warga net dalam komentarnya.

Netizen lain juga banyak yang menimpali bahwa Rocky sudah kepepet karena krisis keuangan. “Makanya dia mau saat ditawari menjadi Wantimpres, karena gaji dan tunjangan setara dengan para pembantu presiden lainnya,” cetus netizen yang mengomentari tayangan berita di media sosial.

Jika ditelaah, ada benarnya juga komen publik di medsos itu. Pasalnya seorang Wantimpres akan memperoleh hak keuangan yang setara dengan menteri. Ketentuan tersebut diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 15 Tahun 2026. Dalam aturan tersebut, hak keuangan Ketua dan Anggota Wantimpres ditetapkan sebesar Rp76,5 juta per bulan atau Rp918 juta atau hampir Rp 1 miliar per tahun.

Selain hak keuangan, Ketua dan Anggota Wantimpres memperoleh fasilitas yang disetarakan dengan menteri. Yakni mencakup rumah jabatan beserta biaya pemeliharaan, kendaraan dinas dan pengemudi, jaminan pemeliharaan kesehatan atau kecelakaan kerja, serta biaya perjalanan dinas dalam dan luar negeri.

Mereka juga memiliki hak lain yang mencakup tunjangan cacat, uang duka, biaya pemakaman, serta uang pensiun setelah masa jabatan berakhir. Dan yang paling penting, pajak atas hak keuangan Ketua dan Anggota Wantimpres juga ditanggung negara. “Gimana Rocky Gerung gak tergiur dengan tawaran Prabowo yang begitu fantastis,” tandas warganet dalam komen-komennya.

Wantimpres sendiri merupakan lembaga yang memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden, tugasnya tidak berat seperti para menteri. Nasihat dan pertimbangan tersebut dapat diberikan ketika diminta maupun tanpa diminta oleh Presiden. Hanya itu saja, tidak diberi tanggung jawab seperti menteri di kementrian yang dipimpinnya. Namun gaji dan fasilitas yang diterima setara dengan menteri atau kepala lembaga lain.

Selain memberikan pertimbangan, Wantimpres dapat menjalankan tugas lain atas permintaan Presiden, termasuk mengikuti sidang kabinet serta kunjungan kerja dan kunjungan kenegaraan Presiden. Jadi tugasnya tidak berat seperti menteri, hanya bertugas mendampingi presiden, jika diminta.

Sebelum menjadi Wantimpres Rocky Gerung dikenal sebagai pengamat yang kerap menyampaikan kritik tajam terhadap kekuasaan. Terbaru, saat Rocky mengkritik Muhammad Qodari yang saat itu masih menjabat Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah dengan diksi yang cukup keras. Padahal sekarang keduanya menjabat sebagai Wantimpres. Bahkan Qodari jabatannya lebih keren sebagai Sekretaris, sedangkan Rocky hanya sebagai anggota.

Peristiwa itu terjadi ketika Rocky hadir dalam program Rakyat Bersuara di iNews TV. “Siapa namanya? Qodari CS itu bodoh itu. Iya, lalu mau dibilang apa, separuh bodoh?” kata Rocky saat itu.

Pemandu acara Rakyat Bersuara, Aiman Witjaksono, kemudian menegur Rocky. Rocky pun memperbaiki pernyataannya, tetapi tetap menyampaikan kritik dengan gaya satire.

“Saudara Qodari tidak memahami, apa beda antara public realtions dan mengolah public opinion,” ungkapnya.

“Artinya, dia kurang punya kemampuan berpikir untuk pendekatan itu, dalam kurung b, o, d, o, h,” sambung Rocky.

Perubahan posisi tersebut membuat pernyataan lama Rocky terhadap Qodari kembali mendapat perhatian. Sebab, kritik Rocky ketika itu disampaikan saat Qodari berada di lingkungan pemerintahan. Kini, keduanya justru berada dalam lembaga yang memiliki tugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden.

Kondisi tersebut menjadi salah satu bagian dari perubahan posisi Rocky setelah ia resmi masuk ke dalam lingkungan pemerintahan. Namun, Rocky sendiri menegaskan bahwa bergabungnya dia ke Wantimpres tidak berarti meninggalkan sikap kritis.

Masuknya Rocky ke Wantimpres juga mendapat sindiran dari pakar hukum tata negara Universitas Gadjah Mada (UGM), Zainal Arifin Mochtar. Melalui unggahan di media sosial yang dikutip Sabtu (3/10), Zainal secara tersirat menyebut Rocky sebagai seorang sofis. “Si sofis. Jadi paham kan kenapa Socrates, Plato dan Aristoteles mengkritisi kaum sofis habis-habisan? Ya persis inilah,” tulis Zainal.

Unggahan tersebut kemudian dikomentari mantan Wakil Ketua KPK, Laode M. Syarif. Dia menjelaskan istilah sofis sebagai sosok yang menggunakan kemampuan argumentasi untuk membujuk orang lain, dengan mengutamakan kemenangan dalam perdebatan atau kepentingan tertentu dibanding kebenaran.

“Seorang sofis adalah seseorang yang menggunakan argumen cerdas, menyesatkan, atau secara intelektual tidak jujur untuk membujuk orang lain, sering kali mengutamakan kemenangan dalam perdebatan atau keuntungan pribadi daripada kebenaran yang sebenarnya,” jelas Laode.

“Ingat definisinya. Menggunakan kepintaran untuk ‘menyesatkan’ atau ‘menggunakan argumen kebohongan intelektual untuk mempengaruhi orang lain’,” sambungnya.

Laode kemudian mengaitkan istilah tersebut dengan posisi baru Rocky di Wantimpres. “Jadi sebenarnya sudah cocok… kembali ke habitat aslinya,” pungkasnya.

Sementara analis politik Adi Prayitno menyatakan, bergabungnya Rocky yang selama ini dikenal sebagai kritikus tajam pemerintah menjadi gambaran bagaimana kekuasaan bekerja. “Kekuasaan itu tak pernah bercerita. Tak perlu dimusuhi. Ia datang begitu saja. Tapi bisa ‘merusak iman politik’ semua orang,” kata Adi Prayitno, Sabtu (3/10).

“Dan tak perlu mengutip istilah-istilah filosofis jika hanya sekedar ingin ikut nikmati kekuasaan. Fenomena akhir zaman memang begitu,” lanjutnya.

Memang pelantikan Rocky menghadirkan perubahan posisi yang cukup mencolok dalam perjalanan perannya di ruang publik. Dulu, ia dikenal dengan kritik-kritiknya terhadap orang-orang yang berada di lingkungan kekuasaan, termasuk Qodari yang kini justru duduk bersamanya di Wantimpres.

Kini Rocky menjadi bagian dari lembaga yang tugasnya memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden. Rocky sendiri mengatakan fungsi tersebut tetap membutuhkan sikap kritis. Publik sebenarnya juga berharap Rocky tidak kehilangan karakter tersebut, meski kini berada di dalam pemerintahan.

Sementara sindiran Zainal Mochtar dan Laode M. Syarif serta Adi Prayitno menunjukkan bahwa keputusan Rocky masuk Wantimpres masih menjadi bahan perdebatan di ruang publik. Bagaimana Rocky menjalankan peran barunya—termasuk ketika harus memberikan pertimbangan terhadap kebijakan pemerintah—akan menjadi bagian dari catatan publik terhadap perjalanan barunya di lingkungan kekuasaan.

Penulis/Editor: Isa Gautama

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *