
Sekretaris BPBD Kabupaten Lebak, Febby Rizky Pratama.
progresifjaya.co.id, LEBAK – Musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Lebak sejak Juli 2026 menyebabkan krisis air bersih di 19 kecamatan. Dampak kekeringan tersebut tidak hanya mengganggu kebutuhan air masyarakat, tetapi juga menimbulkan kerugian yang ditaksir mencapai lebih dari Rp8,7 miliar.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak hingga 25 Oktober 2026, bantuan air bersih yang telah disalurkan mencapai lebih dari 1,2 juta liter. Distribusi tersebut menjangkau 75 desa di 19 kecamatan, dengan jumlah warga terdampak sebanyak 29.242 kepala keluarga (KK) atau 110.373 jiwa.
Sekretaris BPBD Kabupaten Lebak, Febby Rizky Pratama, mengatakan kondisi kekeringan hingga saat ini masih cukup parah, terutama di wilayah Lebak bagian selatan. Sejumlah wilayah bahkan belum mendapatkan hujan, kecuali Kecamatan Cibeber.
“Sejak Kamis pekan lalu, BPBD Lebak kembali melakukan operasi pendistribusian air bersih ke sejumlah wilayah selatan, mulai dari Kecamatan Bayah, Panggarangan, Cihara hingga Wanasalam,” katanya, Jumat. (30/10/2026).
Febby mengungkapkan, usulan kebutuhan pasokan air bersih yang masuk ke BPBD mencapai sekitar 1,4 juta liter. Namun, masih terdapat selisih antara kebutuhan yang diusulkan dan realisasi distribusi air kepada masyarakat. Hingga Minggu (25/10/2026), realisasi penyaluran baru mencapai lebih dari 1,2 juta liter.
“Kita sedang mencoba menyeimbangkan terlebih dahulu antara usulan distribusi air bersih dengan realisasi pengiriman air bersih. Selanjutnya kita akan fokus di wilayah selatan, karena di sana memang masih benar-benar membutuhkan pasokan air bersih,” ujar Febby.
Menurutnya, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dampak El Niño menyebabkan mundurnya awal musim hujan. Kondisi tersebut membuat kekeringan di sejumlah wilayah Lebak diperkirakan masih berlangsung hingga awal November 2026.
Memasuki periode tersebut, sejumlah wilayah diprediksi mulai mengalami masa pancaroba. Namun, khusus wilayah Lebak bagian selatan, awal musim hujan diperkirakan baru terjadi pada akhir November dan kemudian meluas secara bertahap.
“Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada akhir Januari 2027. Karena itu, pendistribusian air bersih masih menjadi perhatian kami, terutama untuk wilayah selatan yang sampai sekarang masih mengalami kekeringan,” pungkasnya. (R. R)



