
Oleh : Zulkarnain
Sudah cukup lama polemik tentang pemberian gelar pahlawan kepada Presiden RI ke 2, yakni mendiang H. Suharto, terus menjadi topik di berbagai kalangan tokoh di Tanah Air.
Sebagian tidak setuju jika Suharto diberi gelar pahlawan dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Namun sebagian lagi justru sangat setuju jika Bapak Bangsa itu mendapatkan gelar pahlawan dari Pemerintah Indonesia yang juga tentunya dengan berbagai macam alasan serta pertimbangan.
Terlepas dari polemik serta pro kontra tersebut, secara pribadi saya merupakan salah satu dari sekian warga Indonesia yang sangat setuju ketika Presiden Prabowo akhirnya menyematkan gelar pahlawan bagi Suharto beberapa waktu lalu.
Saat penyematan gelar pahlawan tersebut, hadir dua putra Suharto mewakili keluarga Cendana yakni Tutut Suharto dan Bambang Suharto yang menerima langsung penghargaan itu dari Presiden Prabowo di Istana Negara.
Dengan gelar pahlawan yang diberikan oleh Presiden kepada Suharto tersebut, tentu saja mendapat kecaman dan kritikan dari berbagai pihak yang tidak suka dengan Suharto, termasuk Megawati merupakan salah satu tokoh yang masuk dalam barisan tidak setuju .
Apakah pantas mendiang Suharto, sosok Jenderal yang telah menumpas PKI ini mendapatkan gelar pahlawan?
Lalu apa alasan Suharto diberi gelar pahlawan, apakah saat ini kebetulan yang menjadi Presiden RI adalah menantunya, atau ada alasan lainnya yang membuat Suharto mendapatkan gelar pahlawan.
Menurut hemat saya, sudah sangat pantas dan sangat layak jika di tahun 2025 ini, akhirnya beliau mendapatkan gelar tersebut.
Sebab mau tidak mau, suka atau tidak suka, Suharto merupakan sosok pemimpin yang banyak jasanya kepada negara dan bangsa ini.
Sejak Suharto menjadi presiden menggantikan mendiang Sukarno, banyak pembuktian yang diperlihatkan Suharto terhadap pembangunan di seluruh penjuru tanah air.
Di era Suharto, infrastruktur baik di kota maupun di pelosok desa terpencil sekalipun, mendapatkan perhatian dan dibangun secara merata.
Lalu yang harus kita akui, dimasa Suharto Indonesia menjadi lumbung padi, dan banyak negara Asia yang mengimpor beras dari Indonesia.
Dimasa Suharto, pertanian di Indonesia benar-benar maju dan mendapat perhatian yang luar biasa dari Suharto, dimana beliau membuat program Kelompen Capir. Program ini merupakan ajang dialog dan tanya jawab antara para petani dengan Presiden Suharto.
Di sisi lain, di masa Suharto pula terbentuknya program listrik masuk desa, dimana daerah yang semula gelap karena belum mendapatkan aliran listrik, menjadi terang- benderang.

Di era Suharto ini juga membuat saya bangga, dimana saat itu dunia sangat mengagumi kegiatan Pramuka di tanah air. Sehingga saat itu, Indonesia merupakan salah satu negara yang sering menjadi tuan rumah Jambore Internasional yang diikuti berbagai negara. Tokoh kharismatik dan berwibawa ini sangat mendukung kegiatan pramuka. Ketika itulah saya pertama kali menjabat tangan mendiang Suharto saat mengikuti Jambore Nasional di Bumi Perkemahan Cibubur pada tahun 1978 . Ketika itu saya masih duduk dibangku kelas V SD.
Sosok Suharto di dalam tubuh TNI tak perlu diragukan lagi. Mantan Pangkostrad ini pernah berjuang bersama Jenderal Besar Sudirman.
Menurut Mahfud MD di salah satu acara di televisi swasta beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa Suharto sudah memenuhi syarat sebagai pahlawan.
Jika ada yang berpandangan lain atau tidak setuju dengan gelar pahlawan yang diberikan kepada Suharto, hal itu merupakan sesuatu yang lumrah, tetapi tidak boleh memaksakan kehendak untuk menghalangi gelar pahlawan yang diberikan kepada Suharto.
Sebab, gelar pahlawan tersebut merupakan sebuah hadiah yang pantas didapatkan seseorang yang berjasa bagi bangsa dan negara, yang tidak hanya dalam bidang kemiliteran, tetapi juga pada bidang yang lain untuk kepentingan orang banyak dimana rakyat merasakan manfaat dari apa yang diperbuat oleh seorang pemimpin bernama Jenderal Suharto.
Penulis adalah Wartawan Senior progresifjaya.co.id



