Keluarga Gembong Narkoba Ternyata Hidup Sederhana di Ponorogo: BNN Belum Ungkap Rekening Bank Paryatin

progresifjaya.co id, JAKARTA – Namanya tenar seantero jagad raya sebagai gembong narkoba paling diburu oleh interpol beberapa negara. Dia adalah Dewi Astutik (43). Itu nama adiknya yang tertera di paspor. Nama sebenarnya adalah Paryatin warga RT 01 RW 01, Dusun Sumber Agung, Desa/Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Dari Tugu Tani, belok ke timur kurang lebih 200 meter sudah sampai rumahnya.
Namun ketenaran nama dan profesinya sebagai aktor intelektual penyelundupan sabu 2 ton senilai Rp 5 triliun, berbanding terbalik dengan kehidupan keluarganya di desa yang cukup sederhana. Jauh dari kesan mewah. Di rumah berukuran 8 kali 12 meter tinggal suaminya Sarno (51) bersama 2 anak perempuan kembarnya yang kini nyantri di salah satu pondok pesantren di wilayah Bumi Reog itu.
Sedangkan Sarno yang menikah dengan Paryatin sejak tahun 2008 lalu tetap bekerja keras untuk menghidupi keluarganya di kampung, meski istrinya Paryatin sudah menjadi pekerja migran saat anak mereka berusia 4 tahun tepatnya tahun 2013. Saat itu Paryatin bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di Taiwan.
Paryatin diketahui menggunakan biodata adiknya, Dewi Astutik untuk membuat paspor agar bisa bekerjadi di luar negeri. Selama 10 tahun bekerja di Taiwan, dia tidak pernah pulang hanya sesekali mengirimkan uang gajinya untuk anak dan suaminya. Baru tahun 2023 wanita berperawakan tambun itu kembali ke kampungnya menemui keluarga dan ibunya yang kala itu masih hidup.
Kabarnya saat pulang dia membawa uang cukup banyak untuk modal berjualan. Rumah sederhana yang ditempti pasutri itu direnovasi kecil-kecilan. Lalu bersama suaminya membuka usaha dengan berjualan keliling untuk memenuhi kebutuhan hidup sampai kemudian Paryatin berangkat lagi kembali ke luar negeri. Kali ini menjadi pekerja migran di Kamboja selama 1,5 tahun. Disinilah awalnya Paryatin alias Dewi Astutik alias Mami meniti karir dengan pekerjaan berkaitan dengan narkoba.
Hasil penyelidikan awal BNN, Paryatin datang ke Kamboja untuk mencari cuan melalui scamming sebelum akhirnya terlibat jaringan narkoba kelas kakap. Menurut Kepala BNN, Komjen Suyudi Ario Seto, hasil pendalaman menunjukkan Dewi terlebih dulu terlibat dalam sindikat penipuan daring di Kamboja. Perempuan itu disebut masuk pada Februari 2023 dan sempat bekerja sebagai penerjemah di kelompok scam love. Tapi hanya 1 bulan dan mengundurkan diri karena merasa tidak bisa atau tidak cocok bekerja di tempat tersebut.
Usai keluar dari tempat scam, Dewi justru bertemu warga Nigeria berinisial DON. Lelaki itu menjadi sosok penting dalam perkembangan Dewi Astutik. DON disebut sebagai ‘caretaker’ sekaligus ‘Godfather’ Dewi selama berada di Kamboja. Lewat perlindungan orang berkulit hitam itu. wanita pekerja migran Indonesia (PMI) ini merasa bisa mengendalikan jaringan apa pun dengan uang. Dari situlah keduanya membangun pola kerja yang menghubungkan Asia, Afrika, hingga Amerika Latin.
Peran Dewi adalah mengatur kurir dan menyiapkan pengemasan narkoba, sementara DON menjadi pemasok barang sekaligus penyandang dana seluruh operasi. BNN hingga kini masih menyelidiki pihak-pihak yang membantu selain DON. Namun tidak disebutkan bagaimana Dewi Astutik perempuan lugu dari kampung bisa mengendalikan penyelundupan narkoba cukup besar ke berbagai negara di Asia termasuk Indonesia, Afrika dan Amerika Latin.
BNN hanya menyebutkan kolaborasi akhirnya terhenti. DON yang menjadi DPO US DEA lebih dulu ditangkap dan dibawa ke Amerika Serikat, sementara Dewi masuk daftar red notice Interpol sejak 3 Oktober 2024 dan juga menjadi buronan pemerintah Korea Selatan.
Buruan BNN itu, akhirnya berhasil ditangkap di wilayah Sihanoukville, Kamboja pada 1 Desember 2025. Ia diringkus bersama Abdul Halim warga negara Pakistan yang disebut-sebut sebagai kekasih Dewi Astutik. Namun BNN belum mengetahui apakah Abdul Halim terlibat dalam jaringan sindikat narkoba yang dimotori Dewi, karena WN Pakistan itu tengah diintrogasi pihak otoritas di Kamboja.
Sebenarnya kisah sang gembong narkoba ini sangat miris. Pasalnya bertahun-tahun bekerja di luar negeri, nampaknya juga tidak membuat ekonomi keluarga membaik. Dewi Astutik jarang berkirim uang hasil bekerjanya di luar negeri. Hanya sesekali dia kirim, buat jajan anak-anaknya. Padahal, belakangan Dewi alias Paryatin diketahui sudah menjadi bos narkoba yang menyelundupkan 2 ton sabu senilai Rp 5 triliun, tentu memiliki banyak cuan dari hasil kerjanya. Tapi, apakah uangnya masih tersimpan di bank? BNN belum mengungkap atau memeriksa rekening bank Paryatin.
Tidak seperti kebanyakan keluarga yang isteri atau suaminya bekerja di luar negeri, kehidupan mereka sederhana. Selama ini, untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan kedua anak kembarnya, sang suami Sarno harus kerja serabutan. Segala pekerjaan yang ditawarkan kepadanya, disanggupi. Sebaliknya, Sarno mengaku tidak tahu menahu pekerjaan istrinya di luar negeri. Terlebih sepak terjangnya akhir-akhir ini, yang disinyalir sebagai gembong narkoba kelas internasional. Sarno mengaku, kini diri dan keluarganya hanya bisa pasrah dengan masalah yang dihadapi oleh istrinya, Paryatin. Dia menyerahkan semua keputusan kepada pihak yang berwajib.
Editor: Isa Gautama




