BERITA UTAMA NASIONAL TRENDING

Cerita Netizen Tentang Pengelola Dapur MBG Cepat Kaya Memunculkan Pertanyaan Soal Pengawasan Program

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Wah ternyata para pengelola dapur makan bergizi gratis (MBG) jadi kaya mendadak nih. Di media sosial lagi ramai para pemilik dapur MBG bisa beli rumah, mobil baru bahkan bisa umroh bersama keluarga.

Cerita ini viral setelah dibagikan oleh akun @unforgvwen di threads dan diunggah ulang akun @awreceh seperti dikutip progresifjaya.co.id, Senin, 20 April,

Akun itu cerita tetangganya yang setelah menjalankan dapur MBG bisa umrohin satu keluarga besar. Ia juga disebut bisa beli rumah baru dan merenovasi rumah lamanya.

Bahkan selama renovasi, keluarganya menyewa sebuah rumah di kawasan elit dengan biaya sekitar Rp 100 juta per tahun.

Banyak netizen lain yang ikut membagikan pengalaman serupa tentang tetangganya yang sukses setelah mengelola dapur MBG.

Salah satunya akun @uciha.fina yang mengatakan temannya punya tiga dapur MBG. Temannya bahkan bisa membangun kos-kosan sebanyak 18 pintu.

Ada juga netizen lain yang menyebut tetangganya punya empat dapur MBG dan baru membeli mobil Land Cruiser.

Sementara viral di sejumlah media sosial video unboxing iPhone yang diduga sebagai THR pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makan Bergizi Gratis (MBG) beredar luas di platform seperti Instagram, TikTok, dan X.

Selain bahan pangan pokok (sembako), pegawai SPPG mendapatkan satu unit ponsel pintar kelas atas (iPhone) terbaru. Unit iPhone yang diterima diperkirakan bernilai belasan juta rupiah.

Cerita-cerita ini bikin banyak orang penasaran, apakah bisnis dapur MBG memang bisa menghasilkan keuntungan sebesar itu?

Salah satu netizen bahkan mencoba menghitung potensi pemasukan dapur MBG. Ia menyebut dapur milik saudaranya mendapat jatah 1.300 porsi makanan per hari. Jika jasa dapur dihitung Rp 2 ribu per porsi pemasukan kotor mencapai Rp 2,6 juta per hari. Jadi per bulan Rp 67 juta atau sekitar Rp 800 juta per tahun.

Hitungan ini bikin sebagian netizen berpikir bisnis dapur MBG terlihat sangat menguntungkan. Namun, di tengah cerita kesuksesan itu muncul juga berbagai pertanyaan dari publik soal asal keuntungan sebesar itu.

Apalagi muncul dugaan mark up dana MBG di wilayah Surakarta, Sragen, Boyolali dan Karanganyar. Hal ini terungkap setelah rapat antara Badan Gizi Nasional dengan ratusan pengelola dapur MBG di wilayah tersebut.

Sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG mengeluhkan mitra yang menaikkan harga bahan pangan di atas harga eceran tertinggi.

Bahkan, ada laporan dapur MBG dipaksa menerima bahan makanan dengan kualitas buruk. Temuan ini menambah kekhawatiran publik tentang transparansi pelaksanaan program MBG.

Kekhawatiran ini juga terlihat dalam survei yang dilakukan oleh Indikator Politik Indonesia. Sekitar 61,7 persen responden menilai program ini tidak bebas dari potensi korupsi.

Artinya, cukup banyak masyarakat yang khawatir program besar ini bisa disalahgunakan jika pengawasannya tidak kuat. Program MBG sendiri memang berskala sangat besar karena menyasar jutaan anak sekolah di seluruh Indonesia.

Dalam pelaksanaannya, makanan dipersiapkan oleh jaringan dapur yang dikelola mitra lokal. Biasanya berupa katering, UMKM kuliner, koperasi atau pihak swasta.

Untuk membuka satu dapur MBG juga tidak sederhana. Dibutuhkan tempat produksi, peralatan masak, tenaga kerja serta sistem distribusi makanan setiap hari. Karena itu, biasanya pengelola dapur MBG sudah memiliki usaha kuliner atau modal operasional sebelumnya.

Modal bisa dari bisnis katering, kerjasama investor, koperasi atau kemitraan dengan pihak lain. Hal ini yang memungkinkan beberapa orang bisa mengelola lebih dari satu dapur MBG.

Cerita tentang dapur yang cepat kaya tetap memunculkan pertanyaan soal pengawasan program. Sebab, program dengan anggaran besar memang perlu diawasi dengan ketat.

Lembaga seperti Ombudsman Republik Indonesia dan Indonesia Coruption Watch juga mengingatkan pentingnya pengawasan dalam program MBG. Pengawasan diperlukan mulai dari pengadaan bahan pangan hingga distribusi makanan.

Pada akhirnya, memiliki dapur MBG sebenarnya sah-sah saja. Apalagi kalau itu membantu menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak Indonesia. Namun, tanggung jawabnya besar. Makanan yang diberikan harus cukup, layak dan benaran mengandung gizi.

Jangan sampai ada dapur yang memberikan porsi kecil atau kualitas makanan yang buruk. Akan sangat disayangkan apabila ada pihak yang terlihat kaya mendadak tetapi keuntungan tersebut berasal dari mengurangi kualitas makanan bahkan penyalahgunaan dana program.

Jika itu terjadi yang dirugikan adalah anak-anak yang seharusnya mendapatkan makanan bergizi. (Red)

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *