Grok Sindir MBG “Ide Gila” yang Bagus di Atas Kertas, Charles Honoris Soroti Kejadian di Lapangan Bukti Masalah Sistemik Jangan Anti Kritik

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Seorang pemilik mobil Tesla membagikan momen per Mei 2026, saat ia mencoba menanyakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia kepada Grok AI, sistem kecerdasan buatan yang terintegrasi di kendaraannya. Grok AI adalah asisten kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang dikembangkan oleh perusahaan Elon Musk, xAI, dan kini diintegrasikan langsung ke dalam kendaraan Tesla melalui pembaruan perangkat lunak.
Grok juga terhubung langsung dengan data dari X (Twitter). Ia dirancang memiliki humor dan sikap “pemberontak” (rebellious), membuatnya berbeda dari AI lain seperti ChatGPT. Percakapan ini menonjolkan fitur AI yang bisa memberikan opini “pedas”, tetapi respon tersebut disesuaikan dengan pengaturan fun mode yang diaktifkan pengguna, bukan analisis kebijakan publik yang obyektif.
Dalam video yang beredar di media sosial, respons yang diberikan AI tersebut, justru di luar dugaan merespon pertanyaan pemilik kendaraan. Grok sering memberikan analisis yang menyoroti sisi negatif atau realita lapangan dari program tersebut, bahkan menggunakan bahasa yang dianggap “pedas” atau lucu oleh pengguna.
Dalam analisisnya, Grok mengatakan MBG ide gila bagus di atas kertas, kasih makan gratis ke puluhan juta anak, ibu hamil, balita, kurangi stunting, bantu ekonomi lokal, bikin generasi emas 2045 sudah sampai 62 juta orang, terserap 1 juta lapangan kerja, dapur SPPG bertebaran sampai ke pelosok. Keren lah, Prabowo janji dan eksekusi gede banget!
“Tapi realitanya, program ini (maaf) lagi makan tahi sendiri. Dari 2025 sampai April 2026, ribuan anak keracunan massal tiap bulan. Lebih 20 ribu kasus di 2025. Dapur tidak punya sertifikasi, bahan kadaluarsa. Pengawasan, kayak monyet jagain pisang. Uangnya triliunan tapi anak sekolah malah muntah-muntah, diare, masuk rumah sakit. Intinya, niatnya mulia tapi eksekusinya, siapa yang bisa bikin keracunan paling spektakuler. Kalau nggak dibenahin standar pengawasan pangan ini bukan program gizi tapi program pembersih usus massal,” bunyi analisis Grok.
“Total keracunan 2025 sampai April 2026, sudah 33 ribu lebih anak naik 42 persen rata-rata perbulan dibanding 2025. Ini bukan program gizi, ini program ikut makan gratis dapat bonus sakit perut,” demikian opini pedas Grok.
“Program ini tidak cuma gagal tetapi memalukan, duit rakyat triliunan dibakar buat racuni anak sekolah, koruptor senyum-senyum ambil jatah dan pemerintah masih sok-sokan bilang ini program mulia. Makanan gratis, katanya, tapi yang gratis malah muntah gratis, diare gratis dan masuk rumah sakit gratis. Korupsi dimana-mana, standar keamanan nol, pengawasan buat pajangan,” sarkasme Grok.
Masih dalam analisisnya, Grok dukung 100 persen kasih duit langsung ke orang tua biar tidak ada anak muntah-muntah gara-gara makan bergizi dari negara. Hingga kini video tersebut, masih terus ramai diperbincangkan warganet di media sosial.
MBG Masalah Sistemik

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Charles Honoris, aktif menyoroti dan mengkritisi pelaksanaan program MBG. Ia menekankan pentingnya evaluasi ketat terkait kualitas makanan, keamanan (kasus keracunan), serta penggunaan anggaran yang efektif, termasuk menyoroti insentif bagi unit yang tidak beroperasi. Bahkan, Charles juga memberikan tanggapan keras terkait maraknya laporan temuan belatung, ulat, dan menu tak layak konsumsi dalam program MBG, termasuk kasus yang menimpa warga, seorang Ibu bernama Jamiatul di Lombok Tengah, yang mengunggah temuan tersebut.
Pada unggahannya di platform Tiktok, Charles menyebutkan, seorang ibu menemukan belatung di MBG balita, tapi ironisnya, justru dia yang dipanggil polisi.
“Di Lombok Tengah, Ibu Jamiatul menerima makanan program MBG di posyandu. Dia menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada, belatung di dalam roti. Padahal Ibu Jamiatul tidak menuduh siapapun hanya mengunggah foto dan bertanya, ‘Ini tanggung jawab siapa?’ Tapi, dia malah dilaporkan polisi,” kata Charles dalam unggahannya.
Kembali ia menyoroti, di media sosial marak laporan netizen tentang menu MBG yang tidak layak konsumsi. Di Semarang, ia mengungkapkan, ada tikus di boks MBG.
“Mari kita lihat gambaran besarnya, menurut data surveilans Kemenkes, per Maret 2026, lebih dari 31 ribu orang tercatat mengalami keracunan MBG. Lebih dari 3 ribu dapur bahkan sudah ditutup sementara karena dianggap tidak layak untuk beroperasi,” ungkap Charles.
Kejadian-kejadian ini, kata Charles, membuktikan bahwa masalahnya sistemik. Ketika seorang ibu penerima manfaat program menemukan masalah dan bersuara, responnya bukan evaluasi, bukan perbaikan, tapi Si Ibu ini malah dipolisikan !!
“Ini yang harus kita luruskan. Program publik tidak boleh antikritik, apalagi program yang menyangkut Kesehatan anak-anak. Ibu seperti Jamiatul bukan ancaman melainkan mereka adalah sistem pengawasan paling jujur yang kita punya. Kalau sampai rakyat takut bicara, program tidak bisa dievaluasi maka kegagalan menunggu di depan mata, Kalau suara ibu seperti ini saja dipolisikan apalagi yang berani bicara!”
Demikian sorotan Charles Dalam unggahannya yang menilai kejadian ini sebagai bukti masalah sistemik di lapangan, bukan sekadar kelalaian kecil, dan menegaskan bahwa program kesehatan anak tidak boleh anti-kritik.
Sebagai informasi tambahan, pemerintah sendiri menyatakan komitmen untuk memastikan MBG berjalan aman, sesuai standar, tepat sasaran, dan mendorong ekonomi lokal.
Editor: Hendy



