
progresifjaya.co.id, JAKARTA – Gegara handphone-nya digadai oleh ibunya, seorang anak perempuan berusia 12 tahun nekat gantung diri dalam kamar rumahnya di Pondok Rajeg, Kecamatan Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Padahal sang ibu mengagunkan telepon selular anaknya itu untuk keperluan sehari-hari, termasuk makan.
Sungguh miris memang. Peristiwa itu mengingatkan publik pada seorang murid SD berumur 10 tahun di Kabupaten Ngada NTT yang juga gantung diri karena orang tuanya tidak sanggup membelikan buku. Peristiwa itu menjadi legitimasi bahwa kemiskinan masih terus merasuk di masyarakat level bawah, sementara para pejabat dan keluarganya hidup mewah dan gaya hedon itu dipamerkan di media sosial.
Kejadian yang menggemparkan di Cibinong, Bogor itu sempat juga viral di jagat maya, meski gaungnya tidak sehebat di NTT. Polisi masih menyelidiki penyebab pasti kematian korban yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 6 itu. Beberapa orang saksi sudah diperiksa untuk dimintakan keterangannya.
Informasi yang diperoleh, sebelum ditemukan meninggal tergantung pada seutas tali warna hitam, bocah yang beranjak remaja itu diketahui beberapa kali merengek minta telepon yang masih dijaminkan di pegadaian agar ditebus. Namun untuk menebus barang itu, orangtuanya belum mempunyai uang.
Kapolsek Cibinong Kompol Jony Handoko mengatakan korban ditemukan oleh kakeknya berinisial S (61) pada Selasa sekitar pukul 12.30 WIB. Kakek korban datang ke rumah karena sehari-hari korban diketahui sering ditinggal ayah dan ibunya bekerja. “Saksi mencoba menolong korban tapi sudah meninggal,” kata Jony, dikutip Kamis (20/8).
Kakek korban kemudian menghubungi kedua orangtuanya yang sedang bekerja. Juga Ketua RT dan RW serta Bhabinkamtibmas Kelurahan Pondok Rajeg. Polisi selanjutnya mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan meminta keterangan sejumlah saksi.
Dari pemeriksaan awal, polisi menyatakan tidak menemukan tanda-tanda luka akibat kekerasan pada tubuh korban. Meski demikian, polisi masih terus melakukan pengusutan atas peristiwa itu.
Berdasarkan keterangan orangtua kepada polisi, telepon seluler milik putrinya itu memang sedang digadaikan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Korban disebut beberapa kali meminta agar telepon tersebut ditebus, tetapi kedua orangtuanya belum memiliki cukup uang. Namun demikian Polisi belum menyimpulkan persoalan telepon seluler tersebut menjadi penyebab kematian korban.
Sebelum ditemukan meninggal, korban masih menjalani aktivitas seperti biasa. Pada Senin sekitar pukul 20.00 WIB, korban diketahui masih menggunakan telepon seluler milik ibunya dan menyiapkan seragam sekolah. Sang ibu kemudian meminta korban tidur sebelum berangkat bekerja ke wilayah Ciracas, Jakarta Timur, sekitar pukul 20.30 WIB.
Ayah korban pun berangkat bekerja pada keesokan harinya, sementara putrinya berada di rumah bersama adiknya yang berusia empat tahun. Ketika sang kakek tiba di rumah untuk menjenguk, cucunya itu ditemukan sudah tergantung dan menyender dekat pintu kamar. Sementara adiknya tidak ada di rumah, diperkirakan sedang bermain di luar kediamannya.
Keluarga korban menyatakan menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi. Surat penolakan autopsi juga telah dibuat oleh pihak keluarga. Polisi menegaskan penyebab pasti kematian masih dalam penyelidikan dan belum menyimpulkan adanya hubungan langsung antara persoalan telepon seluler dengan dugaan bunuh diri tersebut. “Masih kami dalami,'” ujar Kapolsek Jony Handoko.
Penulis/Editor: Isa Gautama



