
Wakapolri, Komjen Pol Dedi Prasetyo saat meninjau Posko Induk Penanganan Karhutla Polda Kalteng di Tjilik Riwut KM 21, Palangka Raya.
progresifjaya.co.id, PALANGKA RAYA – Kondisi lahan gambut di Kalimantan Tengah (Kalteng) semakin mengering akibat pengaruh El Nino. Kondisi ini membuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu strategi yang lebih serius, tak cuma hanya mengandalkan cara konvensional.
Terlebih tingkat kekeringan di Kalteng sekarang sudah mendekati kondisi ekstrem. Muka air tanah gambut bahkan dilaporkan turun jauh dari batas aman yang seharusnya berada pada kedalaman sekitar 40 sentimeter.
Penilaian ini dinyatakan oleh Wakapolri, Komjen Pol Dedi Prasetyo saat meninjau Posko Induk Penanganan Karhutla Polda Kalteng di Tjilik Riwut KM 21, Palangka Raya, Jumat, 11 September 2026.
“Berdasarkan data, kita sudah masuk El Nino yang sangat kuat di bulan Agustus–September. Tingkat kekeringan mendekati tingkat ekstrem,” ujar Wakapolri Dedi.
Menurutnya, kondisi ini terlihat dari turunnya muka air tanah gambut yang kini mencapai sekitar 120 sentimeter. Padahal, batas aman permukaan air tanah gambut berada di angka 40 sentimeter.
“Batas aman permukaan air tanah gambut adalah 40 cm. Di Kalteng saat ini di sudah turun hingga 120 cm, jauh di bawah batas aman,” jelasnya.
Kondisi gambut yang sangat kering ini membuat api berpotensi menjalar hingga ke bawah permukaan. Karena itu, pemadaman dari permukaan saja dinilai tidak cukup untuk memastikan api benar-benar padam. Pemadaman kebakaran skala besar juga tak lagi bisa cuma dengan water bombing atau satgas darat.
Dalam peninjauan ini, Wakapolri Dedi juga mengecek kesiapan personel, sarana dan prasarana hingga strategi yang disiapkan Polda Kalteng. Salah satunya adalah inovasi penggunaan cairan khusus melalui metode injeksi untuk menangani kebakaran di lahan gambut.
Metode ini disiapkan sebagai alternatif untuk menjangkau bagian gambut yang terbakar di bawah permukaan. Dengan demikian, penanganan tidak hanya berfokus pada api yang terlihat dari permukaan.
“Sumur bor juga disiapkan untuk membantu pembasahan lahan. Air yang ditampung melalui sekat kanal diharapkan bisa menjaga kelembapan gambut sekaligus menghambat penyebaran api di bawah permukaan,” ujar Wakapolri Dedi.
Dikatakan, pengalaman Polda Kalteng dalam penanganan karhutla di lapangan menjadi modal penting untuk menyempurnakan pola penanganan.
Pada saat yang sama, peserta Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN) Lemhannas serta Sespimti TNI-Polri juga turut diterjunkan untuk memberikan penyuluhan dan berbagi pengalaman kepada masyarakat.
“Kami juga memberikan saran, masukan, asistensi, dan pembelajaran agar pola-pola pemadaman yang sudah dijalankan dapat disempurnakan,” ujarnya.
Menurut Wakapolri Dedi, kondisi El Nino yang kuat menuntut seluruh pihak mengambil langkah ekstra untuk menghadapi ancaman karhutla. Sinergi antara pemerintah daerah, Korem, Polda, Manggala Agni, TNI dan masyarakat juga harus diperkuat.
“Usaha maksimal wajib dilaksanakan. Kondisi El Nino yang kuat menuntut langkah extraordinary,” tegasnya.
Dia berharap, pengalaman penanganan karhutla tahun ini bisa menjadi bahan evaluasi untuk menghadapi ancaman serupa pada tahun-tahun berikutnya. Penanganan karhutla di Kalteng juga bisa dilakukan lebih efektif, efisien dan memberikan hasil maksimal.
“Ini tanggung jawab bersama Pemda, Korem, Polda, dan Manggala Agni untuk bersinergi dalam kolaborasi policing. Semoga cepatlah tertangani,” ujarnya lagi. (Bembo)



