Biaya UKT Tinggi, 60 Ribu Peserta Lolos PTN Ogah Daftar Ulang: Netizen Kalkulasi Hanya 10 Persen Anggaran MBG Bisa Dialokasikan untuk Bayar Kuliah 8 Semester

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Di balik kegembiraan puluhan ribu calon mahasiswa yang berhasil menembus perguruan tinggi negeri (PTN) impian mereka, tersimpan sebuah fakta mencengangkan.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), terdapat sekitar 60.000 calon mahasiswa yang dinyatakan lolos Pelaksanaan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2026, namun memilih untuk tidak melanjutkan proses registrasi atau ogah daftar ulang.
Akan tetapi faktanya, tidak secara otomatis lolos jalur SNBP berarti mendapatkan biaya kuliah yang sangat murah atau bahkan gratis.
Faktanya lagi, penetapan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di PTN sangat bervariasi dan disesuaikan dengan profil ekonomi orang tua. Seringkali, saat pengumuman nominal UKT keluar, angka yang ditetapkan berada di luar jangkauan kemampuan keuangan keluarga.
Sebuah tayangan di Tiktok, akun Hendrawan Bojes Guru Bahasa mengkalkulasi anggaran yang dibutuhkan calon mahasiswa untuk biaya UKT selama 8 semester.
Dalam sebuah pemberitaan, kata Hendrawan Bojes, 60 ribu generasi masa depan akhirnya mundur untuk melanjutkan kuliah dikarenakan tidak bisa bayar UKT.
“Pemerintah memikirkan makan gratis memikirkan generasi masa depan. Ini generasi masa depan yang sudah terbentuk dan satu langkah lagi untuk melanjutkan pendidikan tinggi akhirnya mundur, ” ujar Hendrawan di akun Tiktok-nya.
Ia lalu mengkalkulasi berapa persen kebutuhan biaya UKT selama 8 semester dengan anggaran makan bergizi gratis atau MBG.
“Anggaplah satu semester rata-rata yang paling tinggi (UKT) Rp 15 juta. Jika dikalikan 8 semester hasilnya Rp 120 juta. Dari Rp 120 juta dikalikan 60 ribu orang hasilnya Rp 7,2 triliun. Sementara anggaran MBG tahun depan yang sudah disetujui sekitar Rp 268 triliun. Artinya tidak sampai 10 persen anggaran MBG bisa itu bisa digunakan untuk generasi masa depan yang ingin kuliah,” komentar Hendrawan di akunnya.
Ia kemudian mengungkapkan bahwa Presiden menyebut program MBG sangat penting untuk mencegah stunting.
Dalam pravelensi di Indonesia sebanyak 19,8 persen menderita stunting, artinya kata Hendrawan, 80 persen itu sehat. Sementara hanya 10,2 persen lulus perguruan tinggi. Artinya, ada 90 persen tidak melanjutkan perguruan tinggi.
“Masalahnya apa? Tentu saja biaya. Generasi yang mana, yang bapak pikirkan. Sementara yang dibutuhkan adalah keinginan mereka pendidikan gratis khususnya perkuliahan,” ucapnya.
“Saya tahu banyak beasiswa tapi tidak semua orang mendapatkan beasiswa karena seleksi karena seleksinya yang banyak. Semoga Bapak Presiden mendengar dan melihat berita (biaya UKT tinggi) ini,” kata memohon kepada Kepala Negara.
Editor: Hendy



