Jadi Pengacara Febrie Tidak Dibayar Mahal, Hotman Paris Dibully Publik Termasuk Oleh Anaknya Frank Alexander

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Advokad sombong Hotman Paris Hutapea yang tidak berharap mendapat bayaran besar jadi pengacara eks Jampidsus Febrie Ardiansyah habis-habisan di-bully publik di media sosial maupun di media daring. Bahkan putra sulungnya sendiri Frank Alexander Hutapea. mempermalukan ayahnya yang sok kaya itu dengan komentar sangat menohok melalui akunnya di medsos.
Di tengah ramainya serangan terhadap Hotman Paris di media sosial, Frank secara terbuka mengungkapkan rasa malunya terhadap langkah sang ayah. Komentar Frank pun sontak menjadi perhatian publik karena dinilai cukup keras dan menyentil citra yang selama ini melekat pada sang ayah.
Apalagi ada netizen yang mempertanyakan bualan Hotman Paris menerima perkara eks Jampidsus Febrie Adriansyah.
“Hotman Paris bilang bayarannya super mahal, gak harap bayaran dari ex-jampidsus Febrie Adriansyah. Tapi tetep ambil kasus yang ada 74 kg emas batangan sebagai barang bukti. Semahal-mahal fee-nya pengacara, emang ada pengacara yang denger segitu banyak emas, matanya gak ijo?” tulis seorang warganet yang dikutip Minggu (19/7).
Atas komen netizen itu, sebagai anak Frank Alexander bukannya tersinggung tapi malah mendukungnya. Bahkan Frank menyebut sang ayah Hotman Paris memang benar hanya sedang membangun pencitraan saja.
Malah, masalah keluarganyapun dibongkar dengan mengatakan, orang tuanya itu masih doyan duit karena ‘angpao’ pernikahan saudaranya, Fritz Hutapea diambil oleh ayahnya. “Halah kebanyakan pencitraan Fritz Married aja angpaonya lo ambil ala ala ga mau duit,” tulis Frank Alexander di akunnya.
Tak berhenti sampai di situ, Frank kembali melontarkan kritik yang lebih tajam. Ia menilai kegiatan bantuan hukum gratis yang selama ini dikenal melalui program Hotman 911 hanyalah bagian dari strategi pemasaran.
“Orang miskin itu cuman dijadiin senjata marketing aja. He never really care he only care about being center of attention,” tulis Frank yang juga menyampaikan pendapatnya terkait akun media sosial Hotman 911.
Menurutnya, akun tersebut sebaiknya ditutup. “Tutup aja ini ig pengais keadilan marketing ala ala buat huuh jualan alcohol di holywings lebih hina dari hina,” kata anak Hotman lagi.
Komentar pedas juga datang dari pegiat media sosial Lita Gading. “Bang Hotman, Bang Hotman, waktu kasusnya Nadiem dia bilang ‘kamu pelit sih sama pengacara’. Artinya kamu minta duit kan?” sentil Lita Gading kepada Hotman Paris dikutip dari media sosial miliknya, Sabtu (18/7).
“Masa, sekarang ngomongnya ‘saya tidak dibayar, saya tidak begini, saya tidak begitu. Jampidsus tidak punya duit untuk bayar saya yang mahal itu’. Lain di mulut, lain di kasus, ahhh,” tegasnya.
Lita Gading meminta kepada masyarakat untuk menjadi orang cerdas agar tidak mudah untuk selalu dibodohi. “Ya itulah guys, kita itu harus cerdas. Rakyat itu harus pintar, jangan semua hukum dikuasai oleh semua orang-orang yang maruk. Oke, tahu kan maruk? Silakan interpresentasi sendiri, nanti dibilang saya begini, begitu lah. Supaya kalian pintar,” ujarnya.
“Jadi ini semua kamuflase saja atau subsidi silang, 911 yang dilakukannya itu hanya kamuflase? Bahwa dia orang baik, ternyata oh ternyata,” pungkasnya.
Kritikan dan bully-an tidak datang dari warganet saja, para praktisi hukum juga menyoroti Hotman yang jadi pengacara Febrie Ardiansyah. Pengacara kondang yang suka pamer cincin berliannya itu dianggap sok pinter atas pernyataannya mengenai penetapan tersangka Febrie oleh Polri harus izin presiden.
Lihat saja Kordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman yang menyatakan Hotman Paris asal ngomong saja. Padahal pengacara senior itu masih tidak paham hukum.
Boyamin menegaskan hukum acara pidana tidak mengenal kewajiban meminta izin Presiden sebelum penyodik menetapkan seorang tersangka. “Itu artinya menunjukkan Hotman Paris tidak paham hukum. Mana ada penetapan tersangka Febrie dapat izin presiden?” kata Boyamin, dikutip Minggu (19/7).
Boyamin kemudian menantang pihak kuasa hukum menunjukkan aturan resmi mengenai kewajiban meminta izin Presiden. Ia menyebut tidak satu pun pasal mengatur prosedur tersebut. Menurutnya, argumentasi semacam itu sama saja menciptakan hukum acara pidana baru. “Aturan mana? KUHAP mana? KUHP mana? Ini membuat aturan sendiri, membuat hukum acara pidana sendiri,” ujar Boyamin.
Hotman Paris sebelumnya menjelaskan alasan dirinya menerima permintaan menjadi kuasa hukum Febrie Adriansyah. Dia sudah banyak uang yang diperoleh dari klien lainnya yang mayoritas konglomerat.
“Saya tidak mengharapkan uang dari Jampidsus ini, karena saya tahu tidak mungkin dia bayar saya mahal, saya bayarannya super mahal di Indonesia,” ucapnya bangga.
Hotman menambahkan jangan dibilang dirinya cari muka. Dia tidak butuh uang uang lagi, karena samua kliennya konglomerat, di luar negeri maupun di Indonesia.
Langkahnya bersedia menjadi kuasa hukum Febrie ini mungkin akan dipertanyakan oleh followers-nya di media sosial. Namun, Hotman menegaskan siap ambil risiko terkait keputusannya menjadi kuasa hukum Febrie. “Bagi followers saya yang merasa ‘Kok Hotman jadi begini’ yang semula 99% jadi followers saya, silakan gua ambil risiko itu,” tukasnya.
Memang bersedianya Hotman Paris jadi pengacaranya Febrie mendapat sorotan negatif dari publik. Apalagi Hotman sesumbar tidak dapat bayaran mahal dari Febrie. “Pastilah dibayar mahal tuh, karena Febrie diduga duitnya banyak,” komentar publik di media sosial.
Seperti Lita Gading, ada netizen yang membandingkan dengan perkara korupsi chromebook. Nadiem Makarim dianggap pelit, hingga Hotman tidak mau mendampingi mantan Menristekdikbud itu. “Karena gak mau bayar mahal Hotman, padahal dijanjikan bisa bebas, akhirnya Nadiem divonis 10 tahun penjara,” komennya.
Penulis/Editor: Isa Gautama



