
Blokade jalan di Bundaran A. Yani.
progresifjaya.co.id, PONTIANAK – Jumat, 23 Oktober 2026, bertepatan dengan hari jadi Kota Pontianak yang ke 255 dengan mengusung tema “Pontianak tangguh dan bersahabat”.
Seperti biasanya dari tahun ke tahun, kemeriahan hari jadi Kota Pontianak berpusat di depan Kantor Walikota Pontianak atau di depan Taman Alun-alun Kapuas.
Masyarakat tumpah ruah merayakan hari jadi dengan berbagai kegiatan seperti Tari Japin Melayu khas Pontianak dengan mengenakan pakaian adat khas Kota Pontianak (baju kurung/Telok belanga).
Proses kegiatan ini dihadiri Walikota Pontianak, Sultan Pontianak, Kapolresta serta para pejabat pemerintah daerah Kota Pontianak.
Jauh sebelum peringatan, Walikota Pontianak Edy Rusdi Kamtono mengimbau kepada masyarakat Kota Pontianak untuk berpartisipasi dalam rangka memeriahkan hari jadi ke-255 Kota Pontianak ke 255.
Edy juga menginstruksikan kepada para ASN Pemerintah Kota Pontianak, para pelajar sekolah dari jenjang TK, SD, SMP, SMA, bahkan mahasiswa perguruan tinggi.
Walikota juga mengimbau agar memasang atribut simbol budaya seperti pohon manggar dan slogan hari jadi Kota Pontianak.
Tetapi sangat disayangkan. Peringatan sekali dalam satu tahun itu tidak semua karyawan swasta ikut berpartisipasi.

Masyarakat pun mengharapkan agar kedepan seluruh masyarakat terutama para pekerja atau karyawan swasta dapat berpartisipasi guna menghargai dan menghormati hari jadi Kota Pontianak.
Disamping kemeriahan hari ultah, para mahasiswa juga menyuarakan aspirasi dengan mendatangi Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Kantor DPRD Provinsi Kalimantan Barat.
Sejak Selasa, 21 Oktober lalu, para mahasiswa melakukan aksi sejumlah tuntutan kepada pemerintahan Prabowo-Gibran yang sudah berjalan 2 tahun.
Selain itu, para mahasiswa juga menyampaikan 20 poin tuntutan kepada pemerintah daerah. Salah satu diantaranya permasalahan karhutla dan soal dana untuk mengantisipasi karhutla yang berjumlah Rp 60 miliar dari pemerintah pusat untuk pemerintah daerah yang terdampak kabut asap yang tidak berangsur hilang.
Tuntutan lainnya adalah kelangkaan BBM dan masih banyak lagi permasalahan yang dinilai tidak dapat diselesaikan dengan baik.
Aparat keamanan yang diterjunkan untuk mengantisipasi dan mengamankan para pendemonstran tidak sedikit bahkan menurunkan dari Satuan Brimob untuk menambah personel.
Para peserta unjuk rasa juga menyampaikan aspirasi yang sama ke Kantor DPRD Provinsi Kalimantan Barat.
Dari penyampaian aksi tersebut terjadi bentrok antara para mahasiswa dan beberapa yang disinyalir anggota ormas. Dalam kejadian itu beberapa mahasiswa atau peserta aksi mengalami luka dan harus segera dievakuasi guna mendapat perawatan lebih lanjut.
Para mahasiswa peserta aksi yang menamakan Aksi Revolusi berharap kepada aparat penegak hukum untuk segera menindaklanjuti dan memproses hukum oknum yang terlibat penganiayaan kepada mahasiswa pasca aksi penyampaian aspirasi. (F. Alaydrus)



