HUKUM & KRIMINAL

Resmob Polda Metro Jaya Ringkus Warga Irak Pembunuh Cucu Mpok Nori

Pelawak dan pelenong Indonesia legendaris, Mpok Nori, juga cucunya Dwintha Anggary yang jadi korban pembunuhan dan pelaku eks suaminya yang warga negara Irak, FD.

progresifjaya.co.id, JAKARTA – Tim Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya meringkus pria warga negara Irak berinisial FD di dalam bus yang melintas di Jalan Tol Tangerang-Merak Km 68, Banjaragung, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Banten yang mengarah menuju ke Sumatera.

FD adalah eks suami siri perempuan bernama Dwintha Anggary (37) yang ditemukan tewas di sebuah kamar terkunci di Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur (Jaktim). Dwintha Anggraini sendiri diketahui adalah cucu kandung dari pelawak dan pelenong legendaris Indonesia, mendiang Mpok Nori.

FD dibekuk Subdit Resmob Polda Metro Jaya pada hari Sabtu, 21 Maret 2026 pukul 12.49 WIB. Dalam proses penyidikan, penyidik sudah menjerat FD dengan Pasal 458 subsider Pasal 468 KUHP.

Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imanuddin dalam keterangan resminya mengatakan,
gerak cepat Tim Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya melakukan penyelidikan hingga keberadaan tersangka menjadi bentuk komitmen Polda Metro Jaya untuk menegakkan hukum secara profesional, proporsional, dan tegas terhadap setiap pelanggaran hukum.

“Semua yang kita lakukan sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tidak ada pengecualian,” kata Kombes Pol Iman.

Sebelumnya, Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Pol Alfian Nurrizal juga memberikan keterangan. Menurut dia, alasan FD tega menghabisi korban karena korban sempat mengajak pisah hubungan, namun dia tolak.

“Alasannya ya itu. Korban ingin pisah hubungannya dengan tersangka, namun tersangka tidak mau. Pembunuhan dilakukan tersangka sekitar Kamis malam dan diketahui pada Sabtu pagi,” kata Kombes Pol Alfian Nurrizal, Minggu, 22 Maret 2026.

Menengok lagi peristiwa ini ke belakang, korban Dwintha yang juga cucu kandung dari mendiang pelawak legendaris Mpok Nori ditemukan tewas pada Sabtu, 21 Maret 2026 pukul 04.30 WIB di sebuah rumah kontrakan di Jalan Daman I, Bambu Apus, Cipayung, Jaktim. Awalnya, ibu dan adik korban datang dan hendak membangunkannya pada Sabtu, 21 Maret 2026 pukul 03.00 WIB.

Namun pintu rumah saat itu terkunci dari dalam. Adik korban kemudian mencoba masuk melalui jendela yang terbuka dan menemukan korban sudah terkapar meninggal dunia di lantai dan ceceran darah korban di kasur sudah mengering.

“KA SPK, Iden Polres Metro Jaktim, serta Piket Reskrim pada pukul 05.30 WIB, datang ke TKP. Hasil sementara terdapat luka sayatan di leher,” ujar Kasubdit Resmob Polda Metro Jaya, AKBP Ressa Fiardi Marasabessy turut menambahkan.

Ditalak Tersangka Cemburuan

Dian Puspitasari, kakak kandung korban, Dwintha Anggary.

Kakak kandung korban, Dian Puspitasari (40) berkisah tentang sosok Dwintha adiknya di mata keluarga. Menurutnya, adiknya itu baik banget, penurut, dan suka mengalah. Korban juga dikenal sangat menyayangi anak-anak, terutama keponakan di lingkungan keluarga.

“Kadang kalau kita omelin atau sindir-sindir, dia cuma nyengir saja, murah senyum orangnya,” ujar Dian di lokasi kejadian, Minggu, 22 Maret 2026.

Diungkapkannya, sebelum peristiwa itu terjadi, adiknya Dwintha telah ditalak oleh FD pada awal Februari 2026. Setelah itu, korban memutuskan untuk mengontrak rumah sendiri.

Namun, FD justru menyewa tempat tinggal di sekitar kontrakan korban. “Dia (pelaku) agak cemburuan. Terus Anggi – panggilan karib korban – enggak boleh komunikasi sama yang lain, kayak dikekang,” jelasnya.

Dikatakan juga oleh Dian, selama adiknya berumah tangga tak pernah dia mendengar secara langsung adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Hanya memang ada perubahan dalam hubungan keduanya, terutama setelah korban mulai aktif bekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Perubahan tersebut, lanjut Dian, berkaitan dengan meningkatnya aktivitas dan relasi sosial korban di luar rumah.

“Sejak adik saya kerja, temannya jadi banyak, ada aktivitas di luar dan banyak interaksi. Mungkin dia (pelaku) cemburu,” dia berujar.

Menurutnya, terakhir dia berkomunikasi dengan korban adalah pada Kamis malam sekitar pukul 21.30 WIB melalui pesan singkat.

“Nah, pas hari Jumat memang kita enggak ketemu, karena kan itu pada sibuk masing-masing mau Lebaran,” ujarnya lagi.

Pada keesokan harinya, Dian mengaku sempat melewati rumah korban. Tapi dia tidak menaruh curiga karena kondisi rumah terlihat tertutup.

Namun dia menduga, sebenarnya korban sudah sering dipantau oleh pelaku sebelum kejadian.

“Saya ingat, terakhir itu saya mau ke pasar hari Kamis, papasan sama saudara saya (Dwintha). Ternyata dia (pelaku) ada di belakang,” aku Dian menutup kisahnya.

Jenazah korban Dwintha Anggary sendiri sempat dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk dilakukan otopsi setelah ditemukan. Baru setelah itu jenazag dimakamkan di TPU Pondok Ranggon. (Bembo)

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *